Abu Jahal tetap memusuhi Nabi Muhammad SAW walaupun mengakui ketinggian akhlak beliau. | DOK PXHERE
18 Apr 2021, 05:58 WIB

Kesan Abu Jahal Terhadap Pribadi Nabi

Salah seorang yang mengobarkan permusuhan terhadap Rasulullah SAW ialah Abu Jahal.

OLEH HASANUL RIZQA

Sepanjang perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam mendakwahkan Islam, ada orang-orang yang kerap menentangnya. Mereka bahkan tidak ragu untuk mengintimidasi dan menindas kaum Muslimin. Salah seorang yang mengobarkan permusuhan terhadap Rasulullah SAW ialah Abu Jahal.

Nama aslinya adalah Amr bin Hisyam bin Mughirah. Asalnya dari suku Makhzum. Di tengah kaum musyrikin, gelarnya adalah Abu al-Hakam (bapak yang bijaksana). Namun, Nabi SAW menyebutnya sebagai “biang kebodohan”—Abu Jahal.

Mengapa disebut demikian? Sebab, pemuka kaum kafir Makkah itu sendiri mengakui kebenaran ajaran Rasulullah SAW. Bagaimanapun, dirinya dengan terang-terangan menolak Islam hanya karena egoisme kesukuan. Kisah berikut ini, sebagaimana dikutip dari Hidayatul Hayara karya Ibnul Qayyim al-Jauziyah, menunjukkan betapa ambivalennya sikap lelaki Quraisy yang mati dalam usia 54 tahun itu.

Terkait

Pada suatu hari, al-Masur bin Mukhramah mendatangi kediaman Abu Jahal. Sang tamu ingin menanyakan sesuatu yang selama ini mengganjal pikirannya. Mengapa pamannya itu sangat memusuhi Nabi Muhammad SAW, padahal sebelumnya ia menaruh respek padanya?

“Wahai pamanku,” kata al-Masur, “pernahkah kalian menuduh Muhammad sebagai pendusta sebelum ia menebarkan berita yang sekarang ini—risalah kenabian?”

“Wahai anak saudariku! Demi Allah, sungguh Muhammad ketika masih muda memiliki gelar al-Amin (yang tepercaya) di tengah masyakarat. Kami sama sekali tidak pernah berpikir untuk menyebutnya pendusta,” jawab Abu Jahal.

 
Demi Allah, sungguh Muhammad ketika masih muda memiliki gelar al-Amin (yang tepercaya) di tengah masyakarat. Kami sama sekali tidak pernah berpikir untuk menyebutnya pendusta.
 
 

“Lantas, mengapa sekarang engkau menyebutnya sebagai pendusta? Kalau memang Muhammad bukanlah pendusta, mengapa engkau dan kaummu dari Quraisy tidak mengikutinya?” tanya al-Masur lagi.

Setelah diam beberapa saat, Abu Jahal pun menyahut, “Ketahuilah, antara kami dan Bani Hasyim selalu bersaing dalam berbagai perkara kehormatan. Jika mereka menyediakan makanan bagi peziarah (Baitullah), maka kami juga menyediakan. Jika mereka memberikan perlindungan, kami pun melakukannya. Bahkan saat berperang, kami dan Bani Hasyim sama-sama dalam kemuliaan (yang setara).”

Al-Masur terus menyimak penuturan pamannya itu.

“Sekarang, mereka (Bani Hasyim) mengatakan, ‘Dari kalangan kami, ada seorang Nabi.’ Nah, kapan kabilahku menyamai kemuliaan ini?” kata Abu Jahal dengan nada tinggi.

Secara nasab, Rasulullah SAW berasal dari Bani Hasyim. Adapun Abu Jahal dari Bani Makhzum. Dari ucapannya itu, nyatalah bahwa Abu Jahal menolak dakwah Nabi SAW semata-mata karena gengsinya. Ia mengakui, beliau tidak pernah berbohong. Yang keluar dari lisan al-Amin selalu adalah kebenaran.

Abu Jahal menemui ajalnya tatkala Perang Badar berkecamuk. Beberapa hari sebelum tampil di medan pertempuran, ia menjumpai al-Akhnas bin Syuraiq. Kawannya itu bertanya, “Wahai Abu al-Hakam, beritahu aku tentang Muhammad. Apakah ia adalah orang yang jujur ataukah pendusta?”

“Celakalah engkau!” jawab Abu Jahal, “Demi Allah, sungguh Muhammad itu seorang yang jujur. Dia sama sekali tidak pernah berbohong. Namun, kalau anak-anak Qushay dengan al-liwa’ (mengatur urusan perang), hijabah (memegang kunci Ka’bah), siqayah (memberikan minum jamaah haji), dan juga sekarang kenabian, maka kami ini dari Quraisy yang lain kebagian apa!?”

Kematiannya

Sahabat Nabi SAW, Abdurrahman bin Auf menuturkan bagaimana keberanian sejumlah Muslimin dalam Perang Badar. Dalam peristiwa itu, Abu Jahal tidak dapat menghindar dari luka yang parah.

Ketika menjelang pertempuran tersebut, Abdurrahman didekati seorang pemuda Anshar, Mu’adz bin Afra. “Wahai paman, apakah engkau mengenal Abu Jahal?” tanya lelaki berusia 16 tahun itu.

“Ya, kenal. Ada keperluan apa kamu dengannya?”

“Saya mendengar Abu Jahal selalu memaki-maki Rasulullah SAW selama di Makkah. Demi Allah, kalau saya melihatnya (Abu Jahal), tidak akan berpisah sebelum salah satu dari kami mati terlebih dahulu!” tegas Mu’adz.

Tak lama berselang, datanglah adik remaja itu, yakni Mu’awwidz bin Afra. Ia pun menanyakan hal yang sama.

“Itu Abu Jahal!” seru Abdurrahman bin Auf sambil menunjuk orang yang dimaksud.

Seketika, dua pemuda tadi melesat maju, bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Padahal, Abu Jahal sedang di atas kuda dan di depannya ada 10 lapis pasukan dengan persenjataan lengkap.

 
Padahal, Abu Jahal sedang di atas kuda dan di depannya ada 10 lapis pasukan dengan persenjataan lengkap.
 
 

Dengan cekatan, Mu’awwidz menerjang pasukan musyrikin itu untuk dapat menebas Abu Jahal. Sebelum akhirnya gugur, dia dapat melukai paha Abu Jahal dengan sayatan yang dalam dan parah.

Adapun kakaknya, Mu’adz bin Afra, juga berhasil menyayat dalam paha Abu Jahal. Namun, tebasan pedang ‘Ikrimah—anak Abu Jahal yang waktu itu belum masuk Islam—nyaris memutus tangan kiri Mu’adz. Untuk sementara, dia pun keluar dari deru pertempuran.

Pemuda itu lalu menginjak sisa tangan kirinya dan membuangnya karena merasa tangan itu mengganggu konsentrasinya mengejar Abu Jahal. Akhirnya, Mu’adz syahid di medan pertempuran, mengikuti adiknya yang lebih dahulu gugur.

Bagaimanapun, keduanya amat berjasa. Abu Jahal tidak bisa bertahan lama akibat luka parah pada pahanya. Luka yang ditinggalkan kakak-beradik yang telah syahid itu.

Meski di ambang maut, Abu Jahal tetap saja menghina kaum Muslimin. Menjelang akhir Perang Badar, Abdullah bin Mas’ud akhirnya berhasil melumpuhkan pemuka musyrikin Quraisy itu. Ibnu Mas’ud juga memenggal kepala Abu Jahal.


×