Warga membeli takjil dan makanan untuk berbuka puasa di Pasar Takjil Benhil, Jakarta, Selasa (13/4/2021). Puasa bukan hanya tak makan dan minum, tapi harus bisa memaknai pesan moral Ramadhan. | Republika/Thoudy Badai

Cahaya Ramadhan

15 Apr 2021, 17:17 WIB

Keutamaan Berbagi Makanan Saat Ramadhan

Puasa bukan hanya tak makan dan minum, tapi harus bisa memaknai pesan moral Ramadhan.

 

OLEH ZAHROTUL OKTAVIANI 

JAKARTA -- Aktivitas berbagi makanan berbuka puasa sering terlihat saat Ramadhan. Berbagi takjil untuk berbuka puasa diyakini akan mendatangkan pahala yang sangat besar. 

Hal itu pernah disampaikan dalam salah satu hadis dari Rasulullah SAW. Dalam HR Ibnu Majah, disebutkan Nabi Muhammad SAW bersabda, "Siapa yang memberi makan buka puasa, ia akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahalanya masing-masing".

Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis), KH Jeje Zainuddin, mengatakan saat pandemi Covid-19, banyak masyarakat kesulitan secara ekonomi. “Jadi akan lebih besar lagi keutamaan pahalanya ketika berbagi makan takjil buka puasa pada saat terjadi banyak kesusahan," kata Kiai Jeje saat dihubungi Republika, Rabu (14/4).

Dia mengimbau masyarakat untuk memprioritaskan kaum miskin dan dhuafa saat berbagi makanan untuk berbuka puasa. Posisi mereka lebih berhak mendapat bantuan. Meski begitu, bersedekah takjil pada dasarnya boleh diperuntukkan bagi siapa saja yang sedang berpuasa.

Saat memberikan makanan berbuka puasa, ada ketentuan yang harus diperhatikan. Kiai Jeje mengatakan, jika tujuannya semata untuk takjil, maka yang paling utama adalah memberikan minuman manis dan makanan ringan pembuka yang kaya mineral dan vitamin seperti susu, kurma, madu, sari buah-buahan, dan pisang.

“Itu dianjurkan selain mengikuti sunah juga sejalan dengan rekomendasi kesehatan," ujarnya.

photo
Kurma menjadi nutrisi yang bagus untuk dikonsumsi saat sahur atau berbuka selama Ramadhan. - (Freepik.com)

Ketua Yayasan Askar Kauny, Ustaz Bobby Herwibowo, mengatakan dalam hadis disebutkan berbagi makanan kepada yang berpuasa, berarti mendapatkan pahala seperti yang sedang berpuasa.

Di luar Ramadhan, berbagi makanan merupakan hal utama dan ibadah yang paling bagus. Ustaz Bobby mengatakan, berbagi makanan bisa dilakukan kepada siapapun, baik kepada fakir dhuafa yatim atau orang kaya sekalipun.

Kalau dilihat dari surah al-Balad ayat 10-14, keutamaan utama ibadah adalah berbagi makanan kepada orang-orang yang kelaparan. "Dalam ayat tersebut, Allah SWT memberi tahu bahwa memberi makan kepada orang-orang yang kelaparan termasuk saat puasa, menjadi amalan yang akan mengantarkan pada pintu surga," ujarnya.

photo
Warga mengambil takjil untuk buka bersama di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Selasa (13/4/2021). Pada Ramadhan 1442 H ini, Masjid Jogokariyan kembali mengadakan buka bersama. Sebanyak 1.500 boks nasi disiapkan untuk berbuka puasa bersama. Untuk warga luar masjid ditempatkan di lantai dua masjid. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Meraih keberkahan

Ramadhan merupakan bulan penuh keberkahan. Namun, tidak semua orang bisa meraih keberkahan atau kemenangan, meski mereka berpuasa di bulan Ramadhan.

Ustaz Wijayanto mengatakan, seluruh amalan bisa dipamerkan kepada manusia misalnya shalat, haji, ataupun sedekah. Namun, berbeda dengan puasa, yang tidak bisa dipamerkan kepada manusia.

Puasa itu hanya untuk Allah SWT. “Tapi ada orang yang puasa, tapi tidak berhasil puasanya. Mereka tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan haus,” kata dia  saat memberikan tausyiah dalam Majelis Bahagia Bersama Ramadhan yang digelar Rumah Zakat dan Bukalapak,  Rabu (14/4).

Ustaz Wijayanto menjelaskan agar puasa bisa berhasil, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengoreksi niatnya. Puasa harus diniatkan karena keimanan kepada Allah SWT.

 
Agar puasa bisa berhasil, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengoreksi niatnya.
 
 

Setelah memperbaiki niat, yang berikutnya adalah melakukan puasa sesuai cara yang dicontohkan Rasulullah SWT. Dia menyebut, inti puasa bukan hanya tidak makan, tidak minum, dan tidak syahwat, melainkan juga harus bisa memaknai pesan moral Ramadhan.

Menurut dia, puasa secara maknawi harus menambah kebaikan. “Jadi mengukur puasa berhasil atau tidak itu saat keluar dari Ramadhan, Syawal atau tidak, meningkat atau tidak,” ujarnya.

Bulan Ramadhan juga merupakan syahrul taubah. Tobat berarti menyadari kesalahan, menyesalinya, dan berjanji tidak mengulangi lagi kesalahan tersebut.

Ustaz Wijayanto mengatakan ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk menghadirkan Allah SWT agar selalu dekat dengan seseorang. Di antaranya dengan berdoa saat hendak beraktivitas. Selain itu, melaksanakan berbagai ibadah seperti misalnya membaca Alquran, berzikir, dan bersedekah.


×