Tumpukan uang yang merupakan simbol kekayaan harta. | REPUBLIKA

Cahaya Ramadhan

15 Apr 2021, 07:41 WIB

Antara Kaya Harta dan Kaya Hati, Mana yang Terbaik?

Kaya harta disertai kesombongan akan berujung pada kehancuran.

OLEH UMAR MUKHTAR

Setiap orang tentu punya keinginan menjadi kaya harta. Sebab, dengan begitu, segala kebutuhan dan keinginan di dunia bisa terpenuhi. Dengan menjadi kaya, orang lebih mudah untuk membantu sesama yang sedang ditimpa kesusahan.

Lantas, apa sebetulnya makna kaya dalam Islam? Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH M Cholil Nafis menyampaikan, kaya adalah orang yang secara harta memiliki lebih dari kebutuhannya. Namun, secara makna batin, kaya adalah orang yang mensyukuri dan bukan soal berapa banyak harta.

"Secara makna batin, kaya itu merasa cukup dengan menjaga 'iffah (menahan diri) dan kehormatan diri. Dan kalau dari definisi kepemilikan, kaya adalah (harta) yang lebih dari kebutuhan," katanya kepada Republika, Rabu (7/4).

Kiai Cholil memaparkan, yang harus dikejar seorang Muslim ialah kekayaan hati dan kekayaan harta. Kaya hati tentu dengan banyak bersyukur dan qanaah, yang berarti menerima pemberian Allah SWT dan mengembalikan kepada-Nya dengan cara mensyukuri apa yang diterimanya.

"Harta yang dikumpulkan tentu dengan cara yang halal dan baik. Lalu harta yang dimiliki itu dizakatkan, diinfakkan, diwakafkan, disedekahkan. Itu yang baik bagi seorang Muslim," ujarnya menjelaskan.

Karena itu, Kiai Cholil menyampaikan, Muslim tidak dilarang untuk menjadi kaya, asalkan dengan cara yang baik dalam memperolehnya serta mengelola kekayaan dengan baik. Kesukaan Islam terhadap Muslim yang kaya, menurutnya, tecermin melalui zakat.

"Ajaran tentang zakat itu hanya bisa dilakukan oleh orang kaya, orang miskin tidak bisa berzakat. Jadi, sebenarnya Islam lebih suka orang kaya karena tangan yang memberi lebih baik daripada yang menerimanya," katanya.

Dalam konteks itulah, yang tidak diperbolehkan, yaitu menjadi kaya dengan kesombongan. Sedangkan yang diperlukan adalah kaya dan zuhud, menjalani kehidupan dengan kesederhanaan. "Jadi, sebenarnya lebih bagus orang kaya yang dermawan, hidupnya sederhana, itu yang diinginkan oleh Rasulullah SAW sehingga dia bisa berzakat, berinfak, bersedekah untuk kebaikan," katanya.

Untuk menjadi kaya sesuai ajaran Islam, Kiai Cholil mengungkapkan, tentu harus bekerja keras dengan sebaik-baiknya dan bersabar. Dengan demikian, bisa menjadi Muslim kaya yang senang berbagi sesuai tuntunan Islam.

 

 

Orang kaya itu pebisnis. Maka, kita diminta untuk berbisnis karena 90 persen jalan rezeki itu dari bisnis.

 

KH M CHOLIL NAFIS, Ketua MUI Bidang Dakwah
 

Terkait makna kaya bagi seorang Muslim, pengajar di Ma'had Daarussunnah Bekasi, Ustaz Muhammad Azizan Syahrial Lc, menjelaskan, hal itu tecermin dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW bersabda, "Bukanlah kekayaan itu terletak pada banyaknya harta benda, melainkan kekayaan (yang hakiki) itu adalah kekayaan hati (qanaah)."

Imam Syafi’i, dia melanjutkan,  pernah mengatakan bahwa bila seorang Muslim memiliki hati yang qanaah, dia dan raja dunia itu sama. Dengan catatan, punya hati yang qanaah. Kaya atau miskin bagi seorang Muslim sebetulnya tidak ada bedanya. Sebab, tolok ukurnya bukanlah kemiskinan atau kekayaan, melainkan sejauh mana menjadi Muslim yang memanfaatkan segala sesuatu yang Allah SWT takdirkan kepada dirinya.

"Bila miskin, dia bersabar. Bila kaya, dia bersyukur. Jadi, kekayaan seperti apa yang harus dicari seorang Muslim? Dia tidak harus mencari kekayaan. Tidak ada satu pun perintah di dalam Alquran dan hadis agar kita menjadi orang kaya. Artinya, kekayaan atau kemiskinan itu karunia Allah SWT," ujar dia.

Para sahabat Nabi Muhammad SAW seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf tidak pernah mengincar kekayaan. Mereka hanya berusaha dan Allah SWT beri karunia berupa kekayaan. Rasulullah SAW meski tidak pernah mengajarkan untuk menjadi kaya, beliau berharap ada umatnya yang kaya dan berkah hartanya agar bisa menyalurkan harta itu kepada saudara-saudaranya yang membutuhkan sesuai tuntunan Islam. ';

×