Petugas medis menyuntikkan Vaksin Sinovac kepada penerima vaksin Covid-19 lansia di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Soelastri, Solo, Jawa Tengah, pada hari pertama puasa Ramadhan, Selasa (13/4/2021). | ANTARA FOTO/Maulana Surya
14 Apr 2021, 03:45 WIB

Puasa Dimulai, Vaksinasi Jalan Terus

Sebagian vaksinasi Covid-19 akan dilakukan pada malam hari.

TANGERANG – Bulan Ramadhan tak menghentikan kegiatan vaksinasi Covid-19 di Tanah Air. Ribuan orang dilaporkan tetap menerima vaksinasi Covid-19 di sejumlah daerah.

Pemerintah Kota Tangerang salah satu yang melanjutkan vaksinasi tahap kedua pada hari pertama Ramadhan 1442 Hijriyah. Kegiatan vaksinasi tersebut menyasar tenaga pendidik atau guru di wilayah Kota Tangerang, Banten. 

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Jamaluddin menjelaskan, pelaksanaan vaksinasi tersebut merupakan vaksinasi dosis kedua bagi tenaga pendidik yang sebelumnya sudah disuntik dengan dosis pertama. Vaksinasi tersebut juga dilakukan sebagai persiapan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) pada Juli 2021 mendatang. 

"Hari ini sekitar 2.500 guru targetnya yang divaksin. Besok jumlahnya kurang lebih sama," kata Jamaluddin di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Selasa (13/4). Menurut catatannya, masih terdapat sekitar 40 persen guru di Kota Tangerang yang belum divaksin. 

Terkait

photo
Tenaga kesehatan dari Dinkes Kota Tangerang menyuntikan vaksin kepada warga saat mengikuti vaksinasi Covid-19, di Puspem Kota Tangerang, Tangerang, Banten, Selasa (13/4/2021). Majelis Ulama Indonesia lewat fatwanya membolehkan adanya pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di bulan Ramadhan dan tidak membatalkan puasa, juga menganjurkan masyarakat untuk vaksinasi di pagi hari karena kondisi tubuh yang masih segar. - (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
 

Dia berharap Kota Tangerang memperoleh kuota vaksin lagi dalam waktu dekat sehingga semua guru di sana dapat segera mendapatkan vaksin. "Mudah-mudahan bulan ini atau bulan depan sudah ada kuota lagi sebagai kesiapan kita dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka," ujarnya. 

Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah menambahkan, sudah 12 ribu pendidik yang divaksin di wilayahnya. Jumlah itu dari target 20 ribu orang penerima vaksin yang meliputi tenaga pendidik di lingkungan Kementerian Agama serta dosen perguruan tinggi. 

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung juga memastikan vaksinasi Covid-19 di Lampung tetap berlangsung saat bulan Ramadhan. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Reihana, mengatakan, skema vaksinasi Covid-19 pada bulan Ramadhan tetap akan dilakukan pada siang hari. 

"Kita harapkan dapat selesai sesuai target pada awal Juli untuk tahap kedua. Stok vaksin juga dimungkinkan akan datang kembali dari pusat sehingga kita terus lakukan percepatan," katanya.

Reihana menjelaskan, hingga Senin (12/4) telah ada 164.647 orang yang memperoleh dosis vaksin pertama dan 98.474 orang untuk dosis kedua. Jumlah itu dari total sasaran 1.163.426 orang di tahap pertama dan kedua. Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Provinsi Lampung dilakukan di 753 pos vaksinasi di berbagai daerah.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Arief Wismansyah (ariefwismansyah)

Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Asrorun Ni'am Sholeh kemarin menegaskan, vaksinasi Covid-19 yang dilakukan secara injeksi atau suntikan tidak membatalkan puasa. "Kalau vaksinasi lewat mulut yang diteteskan, kemudian masuk, itu membatalkan puasa," kata Asrorun dalam dialog Forum Merdeka Barat tentang vaksinasi pada bulan Ramadhan yang dipantau dari Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan, yang membatalkan puasa adalah makan minum dan menyampaikan material ke dalam rongga sampai ke perut. "Praktik vaksinasi dengan cara injeksi intramuskular ini tidak membatalkan dan juga tidak termasuk hal yang membatalkan puasa," ungkapnya.

Atas dasar alasan itu maka seseorang tetap boleh menjalani vaksinasi meski sedang berpuasa. 

Namun, dia mengingatkan, masih ada faktor kesehatan yang harus dipastikan dengan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan sebelum melakukan vaksinasi Covid-19 terhadap orang yang tengah berpuasa. "Kuncinya ada pada screening di tenaga kesehatan," ujar Asrorun.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, program vaksinasi Covid-19 akan tetap dilakukan pada siang hari selama bulan Ramadhan dengan alternatif malam hanya akan dilakukan dalam kondisi tertentu.

 
Karena di dalam fatwa MUI juga sudah menyebutkan bahwa kita harus memperhatikan kondisi kesehatan.
 
 

"Karena di dalam fatwa MUI juga sudah menyebutkan bahwa kita harus memperhatikan kondisi kesehatan," kata Nadia dalam diskusi virtual, Selasa.

Nadia mengatakan, vaksinasi tidak memberikan dampak langsung terhadap seseorang yang berpuasa. Namun, yang harus menjadi perhatian adalah efek samping yang muncul pada sebagian orang. Sebagai alternatif untuk itu maka vaksinasi Covid-19 dapat dilakukan pada malam hari yang pelaksanaannya harus dijadwalkan lewat koordinasi dengan pengurus masjid, RT/RW, dan puskesmas setempat.

Alternatif itu merupakan salah satu langkah untuk mempercepat proses vaksinasi, terutama untuk orang lanjut usia. "Memang, pemberian vaksinasi di malam hari itu adalah pada kondisi-kondisi tertentu. Jadi, kita tidak mengharapkan kemudian vaksinasi di malam hari itu setiap hari," kata Nadia.

Selain itu, jam operasional untuk vaksinasi akan dikurangi selama bulan Ramadhan. Sebab, petugas kesehatan juga menjalankan puasa, ingin mengikuti ibadah, dan harus menjaga kesehatan ketika berpuasa. 

Imunitas dan Vaksin Masa Ramadhan

Proses vaksinasi Covid-19 masih terus berlangsung secara bertahap untuk seluruh lapisan masyarakat. Namun, memasuki bulan puasa, adakah pengaruh khusus dari proses vaksinasi terhadap imunitas tubuh seseorang?

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Utara, Kathi Swaputri Kancana menyatakan, tidak ada perbedaan kondisi imunitas tubuh setelah vaksin selama bulan puasa ataupun ketika tidak berpuasa. Puasa justru membuat imunitas meningkat.

Kathi menjelaskan, hal tersebut didukung oleh pola makan teratur orang yang berpuasa saat sahur dan berbuka. Karena itu, pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tetap diperbolehkan meskipun sedang berpuasa.

Dia mengutip pandangan pakar ahli kepala laboratorium Universitas Fakeeh, Dubai, Paalat Menon. Menurut Menon, selama berpuasa, respons imun meningkat dua kali lipat. Pasalnya, setelah 12 jam pascapuasa, makrofag pada sistem imun bekerja lebih cepat membersihkan sel-sel mati dalam tubuh.

"Proses tersebut disebut autofagi, di mana sistem imun kita menjadi lebih sensitif. Itulah juga mengapa puasa sangat baik untuk pasien-pasien dengan diabetes, tuberkulosis, dan penyakit metabolik lainnya," ujar Kathi melalui rilis pers Primaya Hospital Group yang diterima Republika, Selasa (13/4).

Pada dasarnya, Kathi menekankan tidak ada dampak atau efek khusus dari vaksinasi Covid-19 saat berpuasa. Setelah divaksin, tubuh mulai merespons dengan membentuk antibodi, yang tercapai maksimal hingga 28 hari setelah pemberian dosis kedua.

photo
Seorang warga negara asing dari Timur Tengah memasuki bilik sentra vaksinasi sementara di kawasan Chaoyang Park, Beijing, untuk mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 tahap kedua, Senin (12/4/2021). Kementerian Luar Negeri Cina mengeluarkan edaran kepada WNA Muslim untuk melakukan vaksin tahap kedua mendahului jadwal yang telah ditetapkan atas pertimbangan WNA Muslim di Cina melaksanakan puasa bulan Ramadhan pada Selasa (13/4/2021). - (ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie)

Dalam beberapa kasus, memang terjadi reaksi seperti nyeri pada bekas suntikan yang akan hilang sekitar dua hari setelah vaksinasi. Sementara, reaksi lain seperti kelelahan merupakan respons tubuh yang sedang bekerja membentuk antibodi.

Mendapatkan vaksinasi Covid-19 atau tidak, selama bulan puasa, Kathi menyarankan umat Islam menjaga pola makan yang baik. Hal itu disebutnya sangat penting untuk tetap menjaga daya tahan tubuh.

"Karbohidrat dan protein sebagai sumber energi tentunya, harus kita konsumsi selama bulan puasa. Asupan vitamin, termasuk vitamin D, juga dapat membantu mempertahankan daya tahan tubuh selama pandemi di bulan Ramadhan ini," kata Kathi.

Ketua Gugus Covid-19 Primaya Hospital Bekasi Barat, Yoana Periskila, mengingatkan agar sebelum jadwal vaksinasi, peserta harus dalam kondisi kesehatan yang stabil, istirahat yang cukup, dan makan makanan bergizi dengan takaran cukup untuk tubuh. Peserta juga tidak mengalami demam, sesak, batuk, dan penyakit komorbid.

photo
Petugas medis mengecek suhu tubuh penerima vaksin Covid-19 lansia di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Soelastri, Solo, Jawa Tengah, Selasa (13/4/2021). - (ANTARA FOTO/Maulana Surya)

Sesudah vaksinasi Covid-19, peserta dianjurkan untuk beristirahat dan berkegiatan ringan. Jika terdapat seseorang yang merasa lemas ketika berpuasa dan mendapat vaksinasi Covid-19, sebaiknya peserta langsung beristirahat.

"Maka dari itu, penting bagi setiap orang untuk selalu memperhatikan kondisi fisik tubuh sebelum vaksinasi Covid-19, baik ketika berpuasa maupun tidak sedang berpuasa," tutur Yoana.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Infeksi Tropis Primaya Hospital Makassar, Rachmat Latief, mengatakan hal serupa bahwa puasa bukan penghalang melakukan pemberian vaksinasi Covid-19.

Perlangsungan kekebalan imunitas Vaksin Covid-19 sama saja, baik sebelum puasa maupun saat berpuasa. Khusus kelompok lanjut usia (lansia), pembentukan antibodi akan tetap terbentuk walaupun tidak secepat pada masyarakat usia muda.

Oleh karena itu, pemberian vaksin Covid-19 pada lansia harus diberi jarak 28 hari agar tubuh memiliki kesempatan untuk membentuk antibodi. Sehingga, pada hari ke-28, tubuh akan diberi booster lagi dengan dosis vaksin kedua.

 
photo
Petugas memberikan kartu vaksin kepada seorang lansia usai disuntik vaksin COVID-19 pada hari pertama bulan Ramadhan 1442 H di Rumah Sakit Dr Suyoto, Jakarta, Selasa (13/4/2021). - (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Pemberian vaksin Covid-19, baik sedang berpuasa maupun ketika tidak berpuasa, menurut Rachmat, harus tetap memperhatikan kontraindikasi. Misalnya, apakah seseorang memiliki penyakit penyerta (komorbid) atau tidak.

Khusus lansia, perlu ditekankan, apakah telah memenuhi penilaian skor RAPUH (Resistensi, Aktivitas, Penyakit lebih dari empat hari, Usaha berjalan, dan Hilangnya berat badan). Selain itu, harus dibedakan, apakah penerima vaksin yang merasakan efek lemas, memang karena berpuasa atau karena hal lain.

"Kondisi badan lemas ketika berpuasa biasanya disebabkan oleh penurunan kadar glukosa saat pagi hingga siang hari, di mana setelah itu tubuh akan berproses mencukupkan kadar glukosa dalam darah dengan mengambil glukosa cadangan dalam tubuh. Hal ini sama sekali tidak berdampak pada pascapenyuntikan vaksin Covid-19," ujar Rachmat. 

Sumber : Antara


×