Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan | AP/Turkish Presidency
12 Apr 2021, 03:30 WIB

Erdogan Siap Bantu Rusia-Ukraina

Turki telah menjalin kerja sama erat dengan Rusia terkait konflik di Suriah, Libya, dan Nagorno-Karabakh.

ANKARA -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan perkembangan yang mengkhawatirkan di timur Ukraina dan mengaku siap membantu. Pernyataan itu muncul usai melakukan pembicaraan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy selama lebih dari tiga jam.

"Kami siap memberikan dukungan apa pun yang diperlukan untuk ini," kata Erdogan, dikutip dari Reuters, Ahad (11/4).

Erdogan berharap, konflik akan diselesaikan secara damai melalui dialog berdasarkan kebiasaan diplomatik. Hal ini sejalan dengan hukum internasional dan integritas teritorial Ukraina.

"Kami berharap eskalasi mengkhawatirkan yang diamati di lapangan baru-baru ini berakhir secepat mungkin. Gencatan senjata terus berlanjut dan konflik diselesaikan melalui dialog berdasarkan kesepakatan Minsk," kata Erdogan.

Terkait

Turki telah menjalin kerja sama erat dengan Rusia terkait konflik di Suriah, Libya, dan Nagorno-Karabakh, serta di bidang pertahanan dan energi. Namun, mereka juga mengkritik aneksasi Krimea dan mendukung integritas teritorial Ukraina.

Erdogan mengatakan, menteri luar negeri dan pertahanan dari Turki dan Ukaraina telah membahas kerja sama dalam industri pertahanan. Namun, dia menolak langkah ini bukan tindakan melawan negara-negara ketiga.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan, posisi Kyiv dan Ankara bertepatan dengan ancaman di Laut Hitam. "Kami membahas secara rinci masalah keamanan dan penanggulangan bersama terhadap tantangan di kawasan Laut Hitam. Perlu dicatat, visi Kyiv dan Ankara bertepatan baik mengenai ancaman itu sendiri dan cara menanggapi ancaman ini," kata Zelenskiy.

Kyiv telah meningkatkan kewaspadaan atas penumpukan pasukan Moskow di dekat perbatasan antara Ukraina dan Rusia. Terjadi pula peningkatan kekerasan di sepanjang garis kontak yang memisahkan pasukan Ukraina dan milisi yang didukung Rusia di Donbass.

photo
Warga pro-Rusia menerbangkan poster Presiden Vladimir Putin dengan balon di Secatspol, Krimea pada 16 Maret 2021 lalu sebagai peringatan aneksasi Krimea oleh Rusia pada 2014. - (AP/AP)

Gerakan militer Rusia telah memicu kekhawatiran bahwa negara itu sedang bersiap untuk mengirim pasukan ke Ukraina. Kremlin menyangkal pasukannya adalah ancaman, tetapi mengatakan mereka akan tetap bertahan selama itu dirasa diperlukan.

Amerika Serikat mengatakan, Rusia telah mengumpulkan lebih banyak pasukan di perbatasan timur Ukraina sejak 2014, ketika mencaplok Krimea dari Ukraina dan mendukung milisi di Donbass. Pada Jumat (9/4), Turki mengatakan, AS akan mengirim dua kapal perang ke Laut Hitam minggu depan.

Pertempuran besar di Donbass berakhir dengan gencatan senjata yang disepakati di ibu kota Belarusia, Minsk, pada 2015. Implementasinya telah dibantu oleh Prancis dan Jerman sebagai pengawas. Pertempuran sporadis terus berlanjut meskipun upaya berulang untuk menerapkan gencatan senjata.

Ukraina dan Rusia kerap saling menyalahkan atas peningkatan kekerasan dalam konflik, yang menurut Kyiv telah menewaskan 14 ribu orang sejak 2014. Presiden Rusia Vladimir Putin dalam panggilan telepon dengan Erdogan pada Jumat, menuduh Ukraina melakukan tindakan provokatif berbahaya di Donbass.

Sedangkan Kyiv mengatakan pada Sabtu bahwa Ukraina dapat diprovokasi oleh kejengkelan Rusia atas situasi di Donbass. 


×