Cover Dialog Jumat edisi 9 April 2021. Jangan Teror Ramadhan | Dialog Jumat/Republika
11 Apr 2021, 03:22 WIB

Jangan Teror Ramadhan

Pertempuran saat Ramadhan tak lepas dari etika luhur Islam.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Menjelang bulan suci, masyarakat Indonesia dikagetkan oleh peristiwa dua serangan teroris di Makassar dan Jakarta. Ramadhan yang disebut bulan jihad seolah menjadi momentum mereka untuk menebar aksi teror.

Padahal, Ramadhan merupakan momentum kekhusyukan hamba untuk berhubungan dengan Tuhan. Jangan sampai ada upaya terorisme yang mengganggu kesucian Ramadhan. 

Momentum Jihad Sejati

Terkait

Menjelang bulan suci Ramadhan, bangsa Indonesia kembali dikejutkan dengan aksi teror yang mengatasnamakan Islam. Ramadhan yang juga identik disebut sebagai bulan jihad disalahartikan oleh segelintir orang sebagai momentum untuk melakukan aksi teror.

Padahal, jihad saat Ramadhan bermakna sebagai upaya melawan hawa nafsu, melawan kemaksiatan, serta melawan perbuatan mungkar.

Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menjabarkan, mispersepsi Ramadhan sebagai bulan perang karena banyaknya peristiwa jihad, seperti peperangan saat zaman Rasulullah SAW. Harits menjelaskan, peperangan yang dilakoni Nabi seperti Perang Badar, Perang Tabuk, hingga Perang Khandak tidak boleh dimaknai secara kasat mata.

Berdasarkan fakta sejarah, pertempuran saat Ramadhan tak lepas dari etika luhur Islam. “Ada kewajiban jihad yang harus dilakukan dengan konteks waktu itu (zaman Nabi), sehingga para kaum Muslim mengatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan jihad dalam artian yang luas. Ada etika yang nggak boleh dilanggar. Misalnya menjaga gereja (rumah ibadah), orang sipil, orang tua dan anak-anak yang harus dilindungi, etika-etika itu justru dilanggar oleh para kaum teroris,” kata Harits saat dihubungi Republika, Rabu (7/4).

 
Terdapat beberapa orang yang menafsirkan secara bias semangat jihad saat Ramadhan.
 
 

Harits pun menegaskan, aksi teror harus dipisahkan dengan jihad. Menurut dia, terdapat beberapa orang yang menafsirkan secara bias semangat jihad saat Ramadhan. Tidak hanya itu, dia menilai, terjadi mispersepsi operasionalisasi jihad secara utuh.

Namun, Abu Harits menggarisbawahi, dalam sepuluh tahun terakhir ini tidak setiap Ramadhan aksi teror terjadi. Harits juga menekankan pentingnya kewaspadaan yang cukup agar tidak memantik motivasi kaum teroris terhadap bulan Ramadhan untuk melakukan amaliyah dengan penafsiran ‘jihad’ yang keliru.

Berdasarkan penelitian, kata dia, motif penafsiran agama menjadi faktor paling rendah dalam menghadirkan teror. Maraknya aksi teror yang ada disebabkan adanya faktor kecemasan, dendam, diperlakukan tidak adil, baik secara sosial maupun ekonomi.

“Bagaimana mereduksi aksi teror, harus diperhatikan juga subjek yang menindak aksi teror itu, pendekatannya harus soft. Jadi, agar gerakan terorsme ini tidak lagi dendam,” kata dia.

Antara qishash dan perintah puasa

Ayat mengenai kewajiban puasa Ramadhan di dalam Alquran ternyata memiliki keterkaitan dengan susunan ayat sebelumnya yang berisi tentang qishash (pembunuhan). Lantas seperti apa makna tersirat dari susunan ayat tersebut?

Mengenai ayat tentang berpuasa, Allah SWT berfirman dalam QS al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

Pakar ilmu Alquran Prof KH Ahsin Sakho menjelaskan, ayat tersebut tersusun setelah ayat mengenai qishash diturunkan. Allah berfirman dalam Alquran surah al-Baqarah penggalan ayat 178: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.”

Menurut dia, ayat tentang kewajiban berpuasa diturunkan setelah ayat mengenai qishash karena qishash merupakan tindakan yang diidentikan dengan perilaku yang tidak baik. “Kenapa ada seseorang yang membunuh? Karena dia memiliki sifat-sifat yang tidak baik. Maka ayat shaum (puasa) itu diturunkan setelah ayat qishash, maka hendaknya dia berpuasa,” kata Kiai Ahsin saat dihubungi Republika, Rabu (7/4).

Kewajiban berpuasa merupakan kesempatan yang diberikan Allah kepada manusia dalam rangka meningkatkan ketakwaan. Menurut dia, puasa erat kaitannya dengan kejiwaan yang dapat menguji relung hati seseorang agar senantiasa terisi oleh Allah SWT.

 
Puasa erat kaitannya dengan kejiwaan yang dapat menguji relung hati seseorang agar senantiasa terisi oleh Allah SWT.
 
 

Apabila seseorang dapat melalui puasanya dengan baik, hal tersebut bermakna dia takut kepada Allah SWT. Dia mampu lolos dan menaiki tangga ketakwaan yang lebih tinggi. Sebagaimana diketahui, dalam berpuasa umat Islam bukan hanya dianjurkan untuk menahan diri dari makanan dan minuman, tapi juga menahan diri dari hawa nafsu.

Oleh karena itu, kata dia, melakukan pembunuhan atau pun melakukan aksi bom bunuh diri adalah tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Apalagi, kata dia, dalam Islam tindakan membunuh termasuk ke dalam tujuh dosa besar sebagaimana yang disampaikan Nabi SAW.

Dalam sebuah riwayat, Nabi bersabda: “Jauhilah tujuh (dosa besar) yang membinasakan. Mereka (sahabat Nabi) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apa saja itu?’ Nabi pun menjawab: ‘Menyekutukan Allah, membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa alasan yang hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita mukmin baik yang lengah melakukan perzinaan.’”

“Selama puasa, jangankan sampai membunuh, mencaci maki saja tidak boleh, kalau kita mau membalas caci makian orang pun, sebaiknya katakan ana shaaim (saya berpuasa),” kata dia.

 
Dalam Islam tindakan membunuh termasuk ke dalam tujuh dosa besar sebagaimana yang disampaikan Nabi SAW.
 
 

Bulan kemanusiaan

Ketua Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis mengatakan, Ramadhan adalah bulan kemanusiaan. Saat menjalankan ibadah puasa, setiap Muslim dilatih sikap kebersamaannya. Ketika menjalankan ibadah puasa, jangan sampai seorang Muslim melakukan tindakan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Dia menjelaskan, dalam bulan Ramadhan ataupun bulan-bulan lainnya, tidak ada satu pun ajaran Islam yang mengajarkan umatnya untuk berlaku ekstrem. Sebaliknya, Islam merupakan agama datang ke muka bumi sebagai sebuah pesan menebarkan rahmatan lil alamin atau rahmat bagi seluruh alam.

Jika menyelisik sikap dan akhlak Nabi Muhammad SAW, dia menjelaskan, Ramadhan identik dengan bulan Alquran dan ampunan. Ramadhan juga kerap dimanfaatkan Nabi dengan hal-hal baik. Pada bulan ini, Nabi biasa mendatangi masjid dan melakukan iktikaf.

Di sisi lain, Nabi juga kerap diasosiasikan sebagai sosok manusia yang paling dermawan di dunia karena selama bulan ini Rasulullah amat gencar bersedekah.

photo
Sejumlah anggota komunitas Punkajian membagikan makanan berbuka puasa untuk masyarakat di Bekasi, Jawa Barat, Ahad (12/5/2020). Pada bulan Ramadhan komunitas Punkajian bekasi bekerja sama dengan Fam’us menyediakan takjil untuk berbuka puasa sebanyak 250 makanan dan minuman - (REPUBLIKA)

Bulan Toleransi

Ramadhan juga menjadi momentum solidaritas non-Muslim kepada Muslim yang sedang berpuasa. Sejumlah tokoh berpengaruh di media sosial bahkan ikut melakukan eksperimen sosial dengan ikut mencoba berpuasa. Fenomena itu tampak di kalangan artis, pelaku seni, hingga youtuber dan selebgram pada beberapa tahun terakhir. 

Youtuber Jang Hansol dari Korea Selatan mengaku pernah menjalani puasa Ramadhan sebagai bentuk toleransi terhadap masyarakat Muslim Indonesia. Youtuber lainnya yang juga pernah mencicipi puasa Ramadhan adalah Jessica Jane.

Sedangkan, sederet nama artis Indonesia tak terhitung jumlahnya yang ikut mencoba menjalankan puasa Ramadhan atas dasar toleransi. Bahkan, pada Ramadhan tahun lalu, tagar #christians4ramadhan sempat meramaikan Twitter.

Sejumlah masyarakat non-Muslim dari berbagai negara di dunia tak segan-segan mengikuti kampanye tersebut sebagai bentuk solidaritas dan toleransi. Meski tentu saja puasa Ramadhan yang mereka lakukan tidak berdasarkan pakem syariat Islam karena mereka tidak beragama Islam.

Jika dilihat dari lingkup yang lebih kecil, sikap toleransi dan kepedulian non-Muslim pada bulan Ramadhan juga tampak terlihat di lingkungan perumahan. Aksi mengirimkan takjil atau makanan berbuka puasa juga sering dilakukan oleh warga non-Muslim ke rumah-rumah tetangga Muslimnya.

photo
Anggota Pecalang atau petugas keamanan adat Bali mendampingi umat Islam saat membagikan daging kurban ke umat Hindu pada Hari Idul Adha 1441 H di Denpasar, Bali, Jumat (31/7/2020). Pembagian daging kurban ke masing-masing rumah warga tersebut untuk mencegah kerumunan dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dan untuk tetap mempertahankan toleransi antarumat beragama. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/nym/pras. - (Nyoman Hendra Wibowo/ANTARA FOTO)

Salah satunya dilakukan oleh warga Kelurahan Cibubur, Jakarta Timur, Samuel Situmorang (42 tahun). Hampir setiap tahun dia kerap memberikan makanan berbuka puasa kepada beberapa rumah tetangga Muslimnya. “Hampir setiap tahun (memberikan makanan), tapi enggak setiap hari, kadang-kadang saja,” kata Samuel.

Dia mengaku cukup mengetahui adat dan kebiasaan masyarakat Muslim dalam memilih makanan halal. Karena itu, Samuel mengatakan, setiap makanan yang ia berikan kepada tetangga Muslimnya tak pernah dimasak sendiri. Ia selalu membeli makanan yang akan diberikan di warung-warung terdekat.

“Kalau masak sendiri kan khawatir dia (tetangga)-nya enggak mau karena mungkin takut alat-alat masaknya dipakai bekas masak babi karena memang saya suka makan daging babi,” kata Samuel.

Dia mengaku hal yang dilakukannya selama bulan Ramadhan kerap dianggap sebagai tradisi yang khas dari lingkungannya. Saat hari Natal tiba pun, kata dia, tak sedikit tetangga-tetangga Muslimnya yang membawakan kue maupun makanan ke rumahnya. Bahkan, di antara yang membawakan makanan di kala Natal itu merupakan tokoh agama Islam di lingkungan rumah dia.

photo
Warga melintas di depan mural bertema keanekaragaman budaya di kawasan Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Selasa (17/12/2019). Mural tersebut sebagai media edukasi kepada masyarakat tentang kekayaan budaya serta mengajarkan nilai toleransi keberagaman Indonesia untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/foc. - (MOHAMMAD AYUDHA/ANTARA FOTO)

Toleransi di Gaza

Relawan Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, Bang Onim, menceritakan bagaimana sikap dari sejumlah masyarakat non-Muslim kepada umat Islam pada bulan Ramadhan. Menurut dia, setiap tahunnya menjelang berbuka puasa, terdapat sejumlah pemuda yang membagikan takjil di jalan raya kepada setiap pengendara.

“Mereka (non-Muslim) biasanya memberikan takjil di jalan raya, mengucapkan selamat beribadah, selamat berbuka,” kata Bang Onim saat dihubungi Republika, beberapa waktu lalu.

Menurut Bang Onim, munculnya toleransi dan kepedulian dari orang-orang non-Muslim Palestina tak terlepas dari sikap toleran yang ditunjukkan umat Muslim Palestina. Sebab, sebagaimana dalam ajaran Islam yang membebaskan bagi setiap individu untuk memilih dan menjalani kepercayaan yang dipercaya, hal itu pula yang dilakukan oleh umat Islam Palestina.

Maka tak mengheran, kata dia, apabila terdapat sejumlah orang-orang dari kalangan non-Muslim yang menunjukkan rasa simpatinya terhadap umat Islam pada bulan Ramadhan.


×