Hikmah Republika Hari ini | Republika
10 Apr 2021, 03:30 WIB

Menggapai Mutmainnah

Mereka dipanggil Allah dengan gelar yang sangat luar biasa, yakni nafsul mutmainnah

 

OLEH ASEP SAHID GATARA

Kebahagiaan sejatinya menjadi milik kita yang akan segera melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Mengapa demikian? Karena ibadah puasa Ramadhan hanya diserukan bagi orang-orang yang beriman. 

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS al-Baqarah: 183). Ini artinya, ketika merasa terseru atau terpanggil untuk berpuasa Ramadhan, berarti kita memiliki tanda-tanda orang yang tengah beriman.

Terkait

Iman bukan hanya tentang kepercayaan dan keteguhan batin. Namun, juga tentang rangkaian pengakuan dengan lisan, pembenaran dengan hati, dan pengamalan dengan perbuatan. Dalam konteks pengertian ini, sesungguhnya seseorang dapat dikatakan mukmin apabila memenuhi rangkaian keimanan secara utuh. 

Tuntunan untuk mengetahui derajat iman kita terkandung dalam QS al-Anfaal ayat 2, yaitu hati senantiasa bergetar ketika mendengarkan nama Allah beserta segala sifat-sifat-Nya, keyakinan meningkat ketika membacakan sekaligus mendengarkan ayat-ayat Allah, dan bertawakal.

Derajat iman yang utuh menjadikan kehidupan mukmin lebih tenang. Dalam Surah al-Fajr ayat 27-28 dijelaskan bahwa ketenangan bagi orang beriman itu merupakan nilai penghargaan paling puncak dari Allah.

Mereka mendapatkan penghargaan tersebut karena setimpal dengan keutuhan iman yang dimilikinya. Pada derajat itu, mereka dipanggil Allah dengan gelar yang sangat luar biasa, yakni nafsul mutmainnah (jiwa yang tenang).

Suatu gelar yang digunakan Allah untuk menyeru orang-orang yang memiliki keutuhan iman agar senantiasa menyandarkan segala urusan hidup kepada-Nya, dengan dasar hati yang puas dan selalu ingin mendapatkan ridha-Nya. Tentu kita semua ingin menggapai panggilan dengan gelar itu. Karena itu, marilah kita songsong Ramadhan dengan merangkai iman dan niat mencari pahala.

Kita dituntut untuk meningkatkan iman tersebut agar kita benar-benar menjadi pemilik jiwa yang tenang. Jiwa yang selain memiliki relasi ketuhanan yang sangat baik secara vertikal ke langit, tetapi juga relasi kemanusiaan yang sangat baik secara horizontal di bumi.

Maka, pemilik jiwa yang tenang itu tidak hanya tenteram buat dirinya, tetapi senantiasa menebar ketenteraman sosial bagi sesama dan seru sekalian alam. Pemilik jiwa yang tenang memiliki tanda-tanda selalu berbaik sangka, peka, dan sahaja. 

Pertama, berbaik sangka kepada Sang Pencipta bahwa semua apa yang diberikan kepada kita adalah wujud kasih sayang-Nya. Kedua, peka. Sifat yang mudah merasa dan mudah bergerak untuk membantu sesama, seperti anak yatim dan orang miskin (QS al-Fajr: 17-18). Selain itu, mempunyai kesanggupan bereaksi cepat terhadap suatu keadaan lingkungan yang mengalami kerusakan.

Ketiga, sahaja, yaitu tidak mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan (QS al-Fajar: 20). Alakhir, semoga kita semua segera bergelar mutmainnah.

Wallahu’alam bishawab.


×