Ilustrasi mengaji kitab Daqaiqul Akhbar, kitab yang mengajak kita melaksanakan wisata gaib. | Republika/Putra M. Akbar
08 Apr 2021, 15:43 WIB

Wisata Gaib dengan Daqaiqul Akhbar

Kabar gaib dalam Daqaiqul Akhbar mempertebal keimanan kita.

 

Wisata mengunjungi tempat-tempat indah sudah biasa dilakukan. Banyak orang mendatangi pegunungan, sungai, air terjun, perkebunan, atau pesisir. Semuanya menampakkan keindahan alam yang menenangkan jiwa dan membangun kehangatan keluarga.

Namun ada satu wisata yang unik, yaitu wisata gaib. Caranya dengan menelusuri hal-hal gaib sebagaimana yang termaktub dalam Alquran dan disebut Rasulullah dalam berbagai hadis. Wisata ini dilakukan dengan membaca buku yang mengupas hal tersebut. Salah satunya adalah buku karangan Syekh Abdurrahman bin Ahmad al-Qadhi berjudul Daqaiqul Akhbar fi Dzikril Jannah wan Nar. Ini adalah kitab yang mengupas tentang surga, neraka, dan berbagai hal yang menyangkut perjalanan menuju dua tempat tadi.

Tentu saja itu semua adalah kabar gaib, yaitu berita yang tidak dapat dijangkau dengan pancaindra. Penjelasannya bersumber pada Alquran dan hadis. Kabar gaib adalah inspirasi yang menggetarkan hati, menambah keimanan, dan memperkuat keyakinan, bahwa kehidupan duniawi sebatas persinggahan. Kehidupan di akhirat nanti, yang sejak lama dijelaskan dalam berbagai kabar gaib, adalah yang jauh lebih panjang.

Terkait

Ibnul Qayyim al-Jauzi dalam Kitab Hadi al-Arwah menjelaskan masa tinggal di neraka. Ada yang berada di sana selama beberapa huqub (satu huqub sama dengan 80 tahun). Satu tahun sama dengan 360 hari. Satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Berarti, 80 tahun di akhirat sama dengan 28.800 tahun di dunia. Luar biasa lama.

Kabar gaib merupakan mukjizat Alquran (I’jazul Quran) yang disampaikan Allah kepada rasul-Nya. Kabar ini merupakan pelajaran dan peringatan bagi setiap insan bahwa perjalanan hidup masih sangat panjang. Dengan kabar gaib, seseorang akan menyadari bahwa kehidupan akhirat adalah yang utama. Keimanan menjadi bertambah. Ketauhidan menjadi semakin kuat.

Kembali ke Kitab Daqaiqul Akhbar. Ini adalah kitab yang dikaji di banyak pesantren. Biasanya kajian kitab ini berlangsung dalam waktu sebulan, semisal sepanjang Ramadhan. Ini merupakan kitab selingan setelah santri mempelajari kitab-kitab advanced, seperti Alfiyah Ibnu Malik, Bidayatul Mujtahid, dan semacamnya. Dengan mengaji Daqaiqul Akhbar, santri diajak rileks, berwisata mengetahui, memahami, dan menghayatinya berbagai hal gaib.

Berisikan 45 bagian, buku ini mengawali pembahasannya dengan mengupas Nur Muhammad atau cahaya Muhammad. Ini merupakan istilah esoteris yang diulas sejumlah pegiat tasawuf. Ibnu Arabi misalkan, dalam kitab karangannya menyebut Nur Muhammad lebih dahulu ada sebelum semua makhluk diciptakan. Buktinya Allah bershalawat kepada Rasulullah (innallaha wa malaikatahu yushalluna ‘alan nabi/ sesungguhnya Allah bershalawat kepada Nabi Muhammad/Al-Ahzab ayat 56). Setelah itu para makhluk ikut bershalawat kepada Sang Nabi.

photo
Peta buku Daqaiqul Akhbar 2 - (Erdy Nasrul)

Pembahasan berikutnya adalah tentang penciptaan Nabi Adam, manusia pertama ciptaan Allah yang memakan buah Khuldi. Pengarang mengutip hadis dari Ibnu Abbas, bahwa Allah menciptakan raga Adam dari tanah yang berasal dari berbagai wilayah bumi. Kepalanya dari tanah Ka’bah, dadanya dari tanah pulau-pulau seluruh penjuru bumi, punggung dan perutnya dari tanah India, tangannya dari tanah bagian timur, dan kedua kakinya dari tanah bagian barat.

Setelah raga diciptakan, Allah meniupkan ruh masuk kedalamnya. Ada yang mengabarkan ruh masuk melalui otak dan berputar di dalamnya hingga 200 tahun. Setelah itu baru turun ke mata. Pada saat itulah Adam dapat menyaksikan bentuk tubuhnya. Kemudian ruh masuk ke telinga. Pada saat itulah Adam mendengar para malaikat bertasbih.

Kemudian ruh turun ke hidung, mulut, dan lidah, yang menyebabkannya mampu mencium bebauan dan bertutur kata. Allah menuntun Adam mengucapkan Alhamdulillah dan berdoa yarhamuka rabbuka ya Adam (Tuhanmu menyayangimu wahai Adam).

Daqaiqul Akhbar juga menyingkap penjelasan profil malaikat yang tidak umum. Contohnya adalah Malaikat Ruman. Ini adalah malaikat yang mendatangi manusia di alam kubur. Dia datang bercahaya terang laksana matahari.

Ketika datang, Malaikat Ruman memerintahkan orang yang sudah mati untuk menuliskan amalnya selama hidup di bumi. “Bagaimana menulis itu sedangkan di sini tidak ada pena dan kertas?” kemudian malaikat tadi merobekkan kain kafan yang menjadi kertas. Kemudian penanya adalah jemari si mayat. Tintanya adalah ludah di mayat tadi.

Mulailah si mayit menuliskan amalnya. Ketika sampai kepada amal buruk, dia malu menuliskannya. Malaikat Ruman kemudian berkata, “Wahai manusia yang berbuat salah, ketika melakukan amal – amal itu dahulu engkau sama sekali tidak merasa malu kepada Allah yang telah menciptakanmu, kenapa sekarang engkau malu kepadaku...” kemudian Ruman memukul si mayit.  Selesai berurusan dengan Ruman, barulah Malaikat Munkar dan Nankir datang untuk menanyakan segala amal tadi.

Adalagi Malaikat Kiraman Katibin. Dia adalah malaikat yang mencatat perbuatan baik dan buruk setiap orang, mirip dengan Malaikat Raqib dan Atit. Jika seorang mu’min berbuat dosa, maka akan dicatat. Tapi malaikat lainnya akan menahan. “Tunggu dulu sampai tujuh jam. Apakah dia beristighfar atau tidak. Jika tidak, maka catatlah amal itu.”

Biasanya Malaikat Kiraman Katibin melapor kepada Allah bahwa menemukan manusia yang berbuat baik, dan ada pula yang berbuat sebaliknya. Surah al-Infithar ayat 11-12 menjelaskan: kiraman katibin ya’lamuna ma taf’alun (yang mulia di sisi Allah dan yang mencatat (amal manusia). Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan).

Lainnya adalah Zabaniyah: malaikat yang Allah sebutkan dalam surah Al-Alaq ayat 18. Sanad’uz Zabaniyah. Artinya, kelak Kami (Allah) akan memanggil malaikat penyiksa orang-orang berdosa. Dalam Daqaiqul Akhbar bagian ke-37 terdapat penjelasan siapa itu Malaikat Zabaniyah: yaitu sejumlah malaikat yang tugasnya melempar dan menyiksa para pendosa.

photo
Peta buku Daqaiqul Akhbar - (Erdy Nasrul)

Pakar hadits Al-Baihaqi mengatakan di dalam kitab Al-Ba’tsu wan Nusyur, sebagian besar ahli tafsir menyatakan malaikat Zabaniyah berjumlah 19. Dalam satu waktu, Zabaniyah melempar 10 ribu pendosa dengan satu tangan dan 10 ribu lainnya dengan tangan berbeda. 10 ribu lagi dilempar dengan satu kaki, dan 10 ribu lainnya dengan kaki lainnya.

Dengan demikian, satu Malaikat Zabaniyah melempar 40 ribu orang. Allah memang menganugerahkan kemampuan yang besar kepada malaikat ini.

Pemimpin Malaikat Zabaniyah adalah Malaikat Malik si penjaga neraka. Dialah malaikat yang tak pernah tersenyum, meskipun dilihat oleh Rasulullah dalam Mi’raj menuju alam Lahut.

Daqaiqul Akhbar juga menjelaskan perihal neraka. Bagaimana mengerikannya keadaan di sana. Manusia pendosa akan selalu menjalani penyiksaan di dalamnya dalam waktu yang sungguh sangat panjang. Namun apakah para pendosa itu akan selamanya menjalani penyiksaan? Akankah mereka dipindah ke surga? Wallahu a’lam.

Kabar gaib yang mengasyikkan

Nah, selain kabar gaib yang seram dan menakutkan, ada juga yang mengasyikkan. Apa itu? Di antaranya adalah tentang surga. Penjelasan mengenai surga terdapat pada bagian ke-43. Ini adalah beberapa bagian akhir kitab.

Surga digambarkan memiliki seratus tingkatan. Jarak dari satu tingkatan ke lainnya setara dengan 500 tahun jalan kaki di muka bumi.

Di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengaliri air jernih. Di pinggirannya terdapat pohon yang berbuah segar dan selalu siap untuk dinikmati. Juga terdapat segala sesuatu yang memuaskan jiwa para penghuninya serta menyenangkan mata yang memandangnya.

Bidadari juga disiapkan di sana untuk para penghuni surga. Mereka adalah perawan suci nan jelita yang diciptakan dari cahaya. Penampakannya seperti permata Zircon (Yakut) dan Marjan. Pakaiannya lembut dan ringan seperti rambut. Mereka hanya melayani pasangannya, yaitu para penghuni surga.

Surga memiliki delapan pintu yang terbuat dari emas dan bertaburkan mutiara. Pertama adalah pintu bertuliskan la ilaha illallah Muhammadun rasulullah. Inilah pintu yang dilalui para nabi, rasul, syuhada, dan para dermawan. Pintu kedua adalah yang dimasuki orang-orang yang taat menjalankan shalat dengan menyempurnakan wudhu dan rukun shalat.

Pintu ketiga dilalui para muzakki yang mukhlis. Pintu keempat dilalui para penyeru kebaikan dan pencegah kemungkaran. Pintu kelima adalah untuk mereka yang mengendalikan syahwat dan mengekang hawa nafsu. Pintu keenam adalah untuk mereka yang menunaikan ibadah haji dan umrah.

Pintu ketujuh adalah untuk orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Terakhir adalah pintu surga yang dikhususkan untuk orang-orang bertakwa: yang menahan pandangan mata dari hal-hal diharamkan. Juga melakukan perbuatan baik, seperti berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung silaturahim.

Diterjemahkan

Sejumlah penerbit sudah menerjemahkan kitab ini ke Bahasa Indonesia. Salah satunya adalah Penerbit Turos Pustaka. Karya terjemahan satu ini cukup memuaskan, karena selain pengalihbahasaan yang baik, sehingga buku menjadi enak dibaca, juga terdapat peta buku pada bagian awal. Dengan melihat peta buku ini, pembaca mendapatkan gambaran mengenai konten yang tersaji.

Sistematika pembahasan juga dibuat mengalir. Biasanya kitab klasik tidak membagi pembahasannya sehingga sulit dipahami. Namun oleh penerjemah dan editor, pembahasan buku ini dibagi menjadi beberapa bagian, sehingga pembaca nyaman dan dapat menangkap pesan setiap pembahasan turos ini.

Penerbit lain juga ada yang menjual terjemahan Daqaiqul Akhbar, tapi kualitas terjemahan dan kreativitas dalam mendesain dan mengatur tata letak pembahasannya pasti berbeda. Juga belum tentu membuat nyaman pembaca.

Penilaian

Secara keseluruhan, isi buku ini menarik dibaca, karena berkaitan dengan kabar gaib yang menjadi asupan keimanan. Namun ada sejumlah hal yang harus menjadi catatan.

Pertama, tidak diketahui pasti siapa Syekh Abdurrahman bin Ahmad al-Qadhi yang merupakan pengarang kitab ini. Ada yang mengatakan nama itu adalah anonim. Yang sebenarnya adalah Abu Layts as-Samarkandi, ahli hukum mazhab Hanafi dan penafsir Alquran, yang hidup pada abad ke-10.

Kedua, kaum tekstualis atau skripturalis, seperti pemegang pendapat Wahhabi, dipastikan akan banyak mengeritik, bahkan menolak kitab ini. Alasannya, hadis yang menjadi sandaran pembahasan kitab ini diragukan kesahihannya. Namun alasan ini terbantahkan apabila standard hadis yang dijadikan sandaran paling minimal maqam-nya adalah dhaif atau lemah, dengan maksud untuk fadhailul a’mal.

Ketiga, struktur bahasa Arab dalam buku ini sederhana. Cocok untuk dibaca mereka yang baru mempelajari dan menerjemahkan kitab berbahasa Arab.

Keempat, berbagai kitab tafsir juga mengupas kabar gaib seperti surga, neraka, bidadari, malaikat, dan lainnya. Namun Daqaiqul Akhbar dinilai mampu menyajikan kabar gaib tadi dengan ungkapan sederhana dan mudah dipahami.

Kelima, buku ini sudah menjadi bacaan umat Islam sejak abad ke-11 hijriah sampai detik ini. Artinya, Daqaiqul Akhbar sudah dibaca orang selama empat ratus tahun. Dan tetap relevan sampai sekarang, karena isinya merupakan oase di tengah kegersangan spiritual.


Terkini

×