Perilaku bijak sebaiknya diterapkan saat ini, semisal bahwa pandemi ini adalah nyata. | Pixabay
21 Mar 2021, 19:24 WIB

Sadar untuk Berlaku Bijak di Kala Pandemi

Perilaku bijak sebaiknya diterapkan saat ini, semisal bahwa pandemi ini adalah nyata.

OLEH ADYSHA CITRA RAMADANI

Melewati sepanjang tahun dalam berbagai keterbatasan akibat pandemi Covid-19 tentu bukan hal yang mudah. Rasa khawatir hingga bosan bisa saja mengendurkan kepatuhan terhadap protokol kesehatan (prokes) yang ditetapkan.

Sosiolog Ricardi S Adnan mengatakan, di komunitas tertentu, ketaatan terhadap penerapan prokes tampak menguat dan menjadi rutinitas keseharian. Namun, dia juga melihat kejenuhan masyarakat pada situasi pandemi yang sudah berlangsung setahun ini. 

Mengendurnya kepatuhan masyarakat pada prokes ini makin terlihat sejak hadirnya vaksin Covid-19. Pusat perbelanjaan, beragam tempat aktivitas, hingga lapangan sepak bola kini sudah mulai ramai kembali.

Terkait

"Ketika vaksin diyakini masuk ke Indonesia pada 2021, perilaku masyarakat terhadap 3M jadi kendur, bahkan sangat kendur," ujar anggota tim pakar Satgas Penanganan Covid-19 di bidang perubahan perilaku saat dihubungi, Jumat (12/3).

Ricardi mengatakan, fenomena ini terjadi karena berbagai alasan. Sebagian muncul persepsi bahwa orang yang pernah terinfeksi Covid-19 tak bakal terkena lagi dan yang sudah divaksinasi risiko penularannya kecil. Ada lagi alasan lainnya, seperti rasa jenuh, dorongan mencari uang, sampai keterbatasan anggaran.

"Yang perlu diperbaiki dari ini semua saya pikir tingkat kesadaran kita, bukan hanya peduli kepada diri kita, melainkan juga peduli terhadap lingkungan semuanya," katanya.

Pendapat serupa disampaikan sosiolog Arie Sujito. Menurut dia, perilaku bijak justru sebaiknya diterapkan saat ini, misalnya, kesadaran untuk peduli bahwa pandemi ini adalah nyata. "Cara kita melindungi diri bukan semata-mata lewat aturan, melainkan juga kesadaran diri," ujarnya saat dihubungi.

 
Cara kita melindungi diri bukan semata-mata lewat aturan, melainkan juga kesadaran diri.
ARIE SUJITO, Sosiolog
 

Arie menilai penting memunculkan keberanian untuk menegur mereka yang tak patuh prokes. Di sisi lain, penting pula agar orang yang ditegur berbesar hati menerima masukan dan memperbaiki kesalahannya. "Itu aturan, demi menjaga kolektivitas perlindungan bersama."

Hal lain yang sebaiknya dilakukan adalah memprioritaskan keamanan dan kesehatan dalam beraktivitas pada masa pandemi. Sebagai contoh, biasanya orang berekreasi untuk mencari suasana yang nyaman dan indah. Saat ini, berekreasi tak cukup dengan mempertimbangkan kesenangan dan kenyamanan saja. "Konsep barunya aman dan sehat juga. Senang, nyaman, sehat, dan aman harus di-combine," ujar Arie.

Ricardo menambahkan, penting juga untuk bersikap bijak dalam menerima informasi yang belum jelas kebenarannya pada masa pandemi Covid-19. Sering kali informasi yang diterima dan belum jelas kebenarannya, langsung tersebar di media sosial. "Itu mengakibatkan banyak misinformasi. Kita harus lebih bijak cek-ricek, gunakan logikanya." 

photo
Seorang anak yang mengenakan masker di patung Merlion, Taman Merlion, Singapura, Rabu (15/4/2020). Warga Singapura dinilai disiplin menerapkan protokol kesehatan sehingga jumlah kasus positif Covid-19 rendah.- (EPA-EFE / HOW HWEE YOUNG)

Saat ini, pusat perbelanjaan sampai tempat rekreasi sudah dibuka sebagian. Namun, sebagian di antaranya belum menerapkan prokes dengan ketat, misalnya, di pusat perbelanjaan atau tempat makan. "Kalau kita tidak bisa menjaga jarak dengan orang lain minimal 1,5 meter, lebih baik tidak masuk," kata Tim Komunikasi Publik Satgas Penanganan Covid-19 Suryopratomo dalam percakapan telepon. 

Karena itu, dia menilai, perilaku bijak lainnya yang perlu dipupuk saat ini adalah disiplin dalam menerapkan prokes, termasuk menjaga jarak saat beraktivitas. Dia mencontohkan Singapura yang warganya disiplin menerapkan prokes, termasuk menjaga jarak. Tak hanya itu, mereka juga disiplin menerapkan digital tracing saat ada yang positif Covid-19 di antara mereka.

Semua yang diketahui melakukan kontak erat dengan pasien tersebut, kata dia, bisa diminta menjalani tes swab PCR. Bila hasilnya positif, dia bisa segera menjalani karantina. Melalui cara ini, diharapkan penularan Covid-19 bisa menjadi lebih terkendali.

"Di Singapura disiplin terapkan digital tracing dan masyarakatnya pun disiplin untuk tidak berkerumun dan ada pembatasan jumlah orang, maka kita lihat Singapura kasusnya rendah sekali sekarang," ujar Suryopratomo.


×