Salah satu mahakarya Fariduddin Attar ialah Manthiq al-Thair, yang menceritakan kisah sekumpulan burung dan pencarian mereka akan Simorgh. Kitab tersebut menginspirasi dunia bahkan hingga saat ini. | DOK WIKIPEDIA
21 Mar 2021, 08:20 WIB

Fariduddin Attar dan Memetik Hikmah dari 30 Burung

Kitab Musyawarah Burung karya Attar mengajarkan pesan moral tentang pencarian spiritual.

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

Manthiq al-Thair merupakan sebuah karya sastra fenomenal yang digubah seorang sufi sekaligus penyair, Fariduddin Attar (1145-1220). Kitab tersebut secara harfiah mengisahkan tentang puluhan burung yang bersatu padu dalam menempuh satu tujuan.

Terkait

Bagaimanapun, sebagaimana karangan para salik, karya tersebut dapat dimaknai lebih dalam. Menurut Prof Abdul Hadi WM, guru besar Universitas Paramadina Jakarta yang juga banyak menerjemahkan kitab-kitab para sastrawan-sufi Persia, Manthiq al-Thair mencerminkan pengalaman spiritual yang dilalui Attar dalam mencari hakikat hidup.

Dalam Sastra Sufi: Sebuah Antologi (1985), Abdul Hadi menjelaskan, cerita Musyawarah Burung—demikian terjemahan karya itu dalam bahasa Indonesia—melukiskan rihlah kesufian yang dijalani Fariduddin Attar. Kitab tersebut mengisahkan perjalanan sekawanan burung untuk menemukan pemimpin.

Burung-burung dari pelbagai penjuru dunia berkumpul karena satu pertimbangan. Mereka merasa, banyak spesies lain sudah memiliki pemimpin. Mengapa burung tidak ikut pula mempunyai imam?

 
Mereka merasa, banyak spesies lain sudah memiliki pemimpin. Mengapa burung tidak ikut pula mempunyai imam?
 
 

Mulanya, mereka mendatangi burung hudhud. Sebab, ia dipandang sebagai figur yang terhormat di antara seluruh hewan bersayap dan berparuh. Dia terkenal lantaran pernah berdialog dengan Nabi Sulaiman AS. Dialog yang bahkan telah diabadikan dalam Alquran.

Namun, hudhud berkeberatan terhadap keinginan para burung. Dia merasa tidak pantas untuk menjadi imam mereka. Untuk mengatasi persoalan, ia pun berkata, “Sesungguhnya pemimpin kita berada di Gunung Kaf. Namanya, Simorgh. Ke sanalah kalian seharusnya pergi menuju.”

Dalam terjemahan bahasa Inggris atas kitab Manthiq al-Thair, simorgh disepadankan dengan phoenix (feniks), yakni sejenis burung api yang kerap muncul di kisah-kisah mitologi.

Hudhud lantas menggambarkan kesaktian dan keindahan simorgh kepada mereka.

“Pada mulanya simorgh terbang pada malam hari di tengah gelap gulita di negeri Cina. Selembar bulunya jatuh di situ, hingga seluruh dunia tercengang melihat keindahannya. Orang-orang mulai menggambar bulunya yang indah itu. Dan, dari gambar bulunya itulah tersusun berbagai sistem pemikiran sehingga akhirnya kacau-balau karena begitu banyaknya. Bulu simorgh yang jatuh itu sekarang masih tersimpan di negeri itu. Itulah sebabnya hadits Nabi mengatakan, ‘Carilah ilmu pengetahuan sampai ke negeri Cina sekalipun',” tutur hudhud dalam kisah Manthiq al-Thair, seperti dialihbahasakan Abdul Hadi WM.

Mendengarnya, para burung menjadi jatuh hati terhadap sosok penghuni Gunung Kaf tersebut. Mereka lalu memohon kepada hudhud agar bersedia memimpin perjalanan akbar untuk menemui sang legenda. Namun, sebelum menyanggupi permintaan mereka, hudhud terlebih dahulu mengungkapkan betapa beratnya perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju simorgh.

Sebenarnya, dengan perkataannya itu ia ingin menyemangati mereka agar lebih menguatkan tekad demi mencapai Gunung Kaf. Tak disangka, satu per satu burung justru mulai tertunduk lesu. Hati mereka bimbang lantaran membayangkan berbagai rintangan dan jauhnya rute di perjalanan yang hendak dilalui.

Seperti diceritakan hudhud, ada pelbagai medan yang memisahkan mereka dengan simorgh. Mulai dari gurun yang ganas, puncak-puncak gunung yang beku, hingga tujuh lembah maut yang membentang dengan tantangan tersendiri di masing-masingnya.

 
Satu per satu burung justru mulai tertunduk lesu. Hati mereka bimbang lantaran membayangkan berbagai rintangan dan jauhnya rute di perjalanan yang hendak dilalui.
 
 

Dalam keadaan kalut dan bingung, banyak di antaranya yang mulai mencari-cari dalih untuk tidak ikut pergi. Burung pipit menyatakan dirinya terlalu lemah dan ketakutan. Bebek bercerita dengan sedih tentang danau kesayangan yang harus ditinggalkannya bila turut dalam perjalanan ini.

Demikian pula dengan burung bangau yang merasa sendu bila harus meninggalkan rawa tempatnya mencari makan. Burung elang, merak, dan puyuh pun masing-masing mengajukan keberatannya jika mesti berpisah jauh dengan habitatnya. Bagaimanapun, hudhud mendengarkan semua alasan mereka dengan rendah hati.

“Aku mencintai simorgh dan ingin menjumpainya, tetapi sekarang ini cintaku telah terpatri pada kebun bunga mawar. Jika kupikirkan tentang kelopak mawar yang merekah, kurasa aku tak perlu lagi berpikir tentang simorgh. Cukuplah bagiku keindahan mawar itu. Aku tidak bisa hidup jika harus meninggalkannya. Aku tak mau hidup jika tak dapat lagi memandang rekahan mawar itu,” kata burung bulbul menyatakan isi hatinya.

“Ketahuilah, kecintaanmu terhadap mawar itu adalah kecintaan yang palsu. Janganlah engkau terpesona akan keindahan lahiriah. Mawar hanya merekah pada musim semi. Begitu tiba musim gugur, mawar akan menggugurkan kelopaknya. Ia akan menertawakan cintamu,” jawab hudhud.

Ia terus berusaha menyalakan kembali semangat dan keberanian kawan-kawannya. Akhirnya, dari seluruh burung yang datang bermusyawarah, “hanya” terkumpul 30 ekor burung.

Puluhan hewan bersayap itulah yang bersedia menyertai perjalanan menuju simorgh. “Sabarlah, bertakwalah kepada Tuhan, karena bila kalian telah sanggup menempuh perjalanan itu, kalian akan tetap berada dalam diri kalian buat selama-lamanya,” ucap hudhud.

Tujuh tahapan

Ketujuh lembah yang harus ditempuh 30 burung untuk menemui simorgh, menurut Abdul Hadi, dapat dipandang sebagai tujuh tingkatan sufistik. Seluruh tujuh level itu mesti dilalui agar seorang hamba dapat “bertemu” dengan Sang Kekasih, yakni Allah SWT. Semuanya secara berturut-turut dijelaskan Fariduddin Attar melalui lisan burung hudhud dalam kisah Manthiq al-Thair.

“Lembah pertama adalah Lembah Pencarian. Kedua, Lembah Cinta. Ketiga, Lembah Pemahaman. Keempat, Lembah Kebebasan dan Kelepasan. Kelima, Lembah Kesatuan Sejati. Keenam, Lembah Ketakjuban. Ketujuh, Lembah Kefakiran dan Kefanaan. Di balik itu, tak ada lagi apa-apa,” ucapnya.

Lembah Pencarian, sesuai dengan namanya, dilalui oleh para pencari. Yakni, mereka yang hendak menemukan pencerahan dalam kehidupan spiritualnya. Aneka ragam godaan duniawi akan menghampiri.

Namun, semua itu harus bisa ditaklukkan. Burung-burung yang dipimpin hudhud dengan gigih melalui lembah itu. Mereka bagaikan para pencari petunjuk Tuhan. Karena itu, tekad yang kuat mesti bersemayam dalam hati dan jiwanya agar siap mendapatkan cahaya Ilahi yang didambakan. Caranya dengan mengendalikan, bukan sepenuhnya meninggalkan, hasrat-hasrat duniawi.

Setelah melalui lembah pertama, para pencari harus menemukan cinta sejati dalam dirinya. Itu untuk menghalau dominasi akal rasional-kalkulatif yang dapat menutupi ketajaman mata batin. Hanya dengan mata batinlah para pencari kebenaran ini dapat melihat realitas apa adanya.

 
Bagaimana laron bisa mengelak dari nyala lilin apabila dia ingin menyatu dengan cahaya lilin?
 
 

Di dalam Lembah Cinta, mereka harus memiliki kesudian untuk mengorbankan apa-apa darinya demi yang diharapkannya dari Sang Kekasih. Keikhlasan menunjukkan seberapa besar cintanya.

Selanjutnya, Lembah Pemahaman atau Kearifan. Dengan mata hati yang terbuka, seorang pencari dapat melihat jelas realitas ciptaan Tuhan. Dengan begitu, ilham akan menyertai kehidupannya. Jalan makrifat dapat dilalui dengan cara selalu berupaya khusyuk dalam melakukan ibadah. Di sini, diri perlu ditempa dengan latihan-latihan (riyadhah).

Lembah Kebebasan merupakan tahapan yang dilalui bila mereka sudah mampu menghilangkan nafsu untuk mendapatkan sesuatu dengan cara-cara mudah atau ikhtiar biasa. Dalam tingkatan ini, seorang pencari akan fokus pada hal-hal yang hakiki. Pernak-pernik duniawi dan hal-hal materiil akan tampak biasa dalam pandangan matanya.

Lembah Kesatuan Sejati merupakan perlambang wujud. Mereka yang telah mencapainya akan merasakan keyakinan penuh, hanya ada satu wujud yakni Wujud Tuhan.

Dari sana, mereka bertolak menuju Lembah Ketakjuban. Inilah tempat bagi mereka untuk mengalami kekaguman. Sebab, mereka merasakan hal-hal luar biasa yang datang dari Tuhan mereka.

Dalam kisah Manthiq al-Thair, ke-30 burung yang menyertai hudhud dalam perjalanannya menyaksikan betapa besar pancaran cahaya simorgh. Siang seakan-akan menjadi malam, sedangkan malam jadi siang. Segalanya serba berubah.

Lembah ketujuh merupakan puncak perjalanan sufistik yang dinarasikan Attar. Kefakiran berarti bahwa para pencari akan merasa dirinya tidak memiliki apa-apa. Bahkan, dia sendiri pun adalah milik-Nya.

Namun, keadaan itu justru mengangkat derajatnya. Mereka pun fana, terbakar api cinta, tetapi sekaligus menemukan dirinya secara utuh dan bersatu dengan yang selama ini dirindukan. “Bagaimana laron bisa mengelak dari nyala lilin apabila dia ingin menyatu dengan cahaya lilin?” kata hudhud.

photo
Dalam syair Musyawarah Burung karya Fariduddin Attar, sosok burung simorgh dapat diibaratkan sebagai cahaya cinta Ilahi yang dicari dan dirindukan. - (DOK FLICKR)

Simorgh yang Sesungguhnya

Dalam kitab Manthiq al-Thair karya Fariduddin Attar (1145-1220), terdapat kisah penuh hikmah, yakni sebanyak 30 ekor burung melakukan perjalanan untuk menjumpai simorgh. Untuk sampai ke lokasi tempat sang legenda berada, Gunung Kaf, mereka dipimpin burung hudhud yang bijaksana. Setelah melalui fase ketujuh, yaitu Lembah Kefakiran dan Kefanaan, para burung tersebut menemukan bahwa simorgh tak lain adalah hakikat diri mereka sendiri.

Ya, ketika burung-burung itu mencapai akhir perjalanan panjang, tampak di depan mata mereka puncak Gunung Kaf bersinar amat terang. Semuanya terpukau menyaksikan pemandangan indah tersebut. Kaki-kaki mereka seakan membeku. Mata mereka tak berkedip menatap apa yang disangkanya sebagai kepala burung simorgh.

Akan tetapi, lama kelamaan mereka mengumpulkan nyali untuk mendekat. Semakin dekat, tampaklah dalam pandangannya apa yang semula disangkanya sebagai sumber cahaya.

Perlahan-lahan, mereka dapat melihat bayangan mereka sendiri di situ. Akhirnya, ke-30 burung tersebut menyadari bahwa pendar cahaya dari tubuh simorgh adalah cahaya mereka sendiri. Itulah cahaya yang telah lama mereka cari. Ternyata, selama ini telah menyertai, yakni di dalam hati mereka.

 
Akhirnya, ke-30 burung tersebut menyadari bahwa pendar cahaya dari tubuh simorgh adalah cahaya mereka sendiri. Itulah cahaya yang telah lama mereka cari.
 
 

Banyak mitologi yang menyebutkan phoenix (feniks) sebagai burung api yang melambangkan kesucian. Berbagai terjemahan bahasa Inggris atas Manthiq al-Thair juga menyepadankan simorgh sebagai burung feniks. Bagaimanapun, gambaran yang paling tepat tentu berasal dari bahasa Persia, sebagai bahasa yang dipakai Attar untuk menulis bukunya.

Dalam bahasa Persia, simorgh merupakan perpaduan dari dua kata, yakni si yang berarti ‘tiga-puluh’ dan morgh ‘burung'. Jadi, burung feniks atau sang legenda yang dicari-cari adalah “30 burung".

Dengan perkataan lain, pada akhirnya simorgh dan para pencarinya adalah satu. Ini semacam penjabaran tentang konsep wahdatul wujud. Dalam dunia tasawuf, menurut Prof Nasaruddin Umar dalam artikel “Tentang Wahdatul Wujud” (2014), konsep tersebut seakan-akan menjadi sebuah istilah untuk merangkum berbagai bentuk perjumpaan atau rasa penyatuan Tuhan dengan makhluk, khususnya manusia.

 
Attar bermaksud dengan kisahnya itu untuk menunjukkan tahapan-tahapan sufistik. Seorang salik akan selalu merindukan perjumpaan dengan Tuhan.
 
 

Prof Abdul Hadi WM dalam Sastra Sufi: Sebuah Antologi (1985) mengatakan, Attar bermaksud dengan kisahnya itu untuk menunjukkan tahapan-tahapan sufistik. Seorang salik akan selalu merindukan perjumpaan dengan Tuhan.

Namun, upaya itu memerlukan tekad untuk tidak lagi terbelenggu oleh perkara-perkara duniawi. Seorang hamba tidak merasa hal-hal materiil sebagai tolok ukur kemuliaan. Justru, yang didambakannya adalah kefakiran, yang menjadi jalan keikhlasan untuk dapat berjumpa dengan Sang Kekasih.

“Kemudian ajal datang dan segala yang kau miliki lenyap, tenggelam. Sehabis itu kau jadi debu jalanan. Berkali-kali seseorang itu fana; tapi bila orang berhasil mengetahui rahasia-rahasia kehidupan yang hakiki, akhirnya ia akan menerima kebakaan, dan akan mendapatkan kehormatan dalam keadaan hina,” tulis Attar, seperti diterjemahkan Abdul Hadi.


×