Para pelancong berjalan di Bandara Changi, Singapura, 5 Oktober 2020. Sektor pariwisata di kawasan ASEAN terdampak pandemi Covid-19. | EPA-EFE/WALLACE WOON
11 Mar 2021, 07:32 WIB

Wisata ASEAN Kelam

Banyak negara yang pesimistis kinerja sektor pariwisata bakal membaik pada 2021.

OLEH RAKHMAT HADI SUCIPTO

 

 

 

Terkait

Beberapa waktu yang lalu Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) merilis laporan perkembangan pariwisata global. Seperti sudah diduga sebelumnya, kinerja pariwisata dunia benar-benar dalam kondisi sangat tidak menggembirakan. UNWTO memaparkan, kunjungan wisatawan internasional merosot sampai 73,9 persen pada 2020 lalu.

Jelas ini fakta yang sangat menyedihkan. Dalam angka, kedatangan wisatawan global merosot drastis dari 1.453 juta kunjungan wisatawan pada 2019, lalu menjadi 379 juta kunjungan pada 2020. Artinya, kunjungan pariwisata global terjun bebas sepanjang 2020.

Menurut UNWTO, pariwisata 2020 tersebut menjadi catatan sejarah terburuk dalam 16 tahun terakhir sejak 2005. Bahkan, 2020 menjadi yang terburuk dalam histori perkembangan industri pariwisata modern.

Mengapa kunjungan pariwisata internasional bisa merosot sangat drastis? Ini terjadi karena kinerja industri wisata di seluruh negara dan kawasan mengalami nasib buruk. Kondisi pariwisata semua negara sangat lesu terimbas pandemi Covid-19 yang muncul nyaris sepanjang 2020 tersebut. 

Tidak ada negara yang melaporkan kondisi pariwisata mereka mengalami kenaikan atau kemajuan berarti. Semua negara mengumumkan penurunan performa industri pariwisata mereka sampai level yang sangat kritis.

 
Semua negara mengumumkan penurunan performa industri pariwisata mereka sampai level yang sangat kritis.
 
 

 

Asia Tenggara termasuk kawasan yang mengalami nasib sangat memprihatinkan. Negara-negara anggota ASEAN bahkan tak mampu menangkis terjangan virus Covid-19 yang begitu dahsyat merusak sendi-sendi perekonomian mereka dan mengikis industri pariwisata yang sudah mereka bangun selama puluhan tahun.

Enam negara utama anggota ASEAN, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, dan Indonesia mencatat jumlah kunjungan wisatawan asing yang sangat sedikit pada 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Total jumlah kunjungan turis di enam negara ini pada 2020 hanya 22,92 juta.

Jumlah ini sangat rendah dibandingkan dengan kondisi 2019 yang mencapai 117,91 juta kunjungan wisatawan. Artinya, terjadi penurunan jumlah kunjungan sebanyak 80,6 persen pada 2020 dari tahun sebelumnya.

 

photo
YMurid sekolah dasar di Bangkok, Thailand sedang makan siang, 1 Februari 2021. Pemerintah Thailand membuka kembali sekolah tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat untuk meredam penularan virus Covid-19. Sektor pariwisata di semua negara ASEAN terdampak akibat pandemi ini. - (EPA-EFE/DIEGO AZUBEL)

Penurunan jumlah kunjungan wisatawan asing di enam negara tersebut lebih parah dibandingkan dengan rata-rata kondisi global yang mengalami penyusutan sebesar 73,9 persen. Dengan kata lain, enam negara ASEAN tersebut menyumbang keterpurukan yang signifikan untuk kondisi global.

Dari enam negara tersebut, siapa yang mengalami nasib terburuk? Filipina ternyata menjadi negara yang mengalami penurunan jumlah kunjungan terbanyak, sampai 83,5 persen. Thailand nyaris sama dengan Filipina yang mencatat penurunan sampai 83,2 persen.

Jumlah kunjungan wisatawan ke Filipina pada 2019 mencapai 8,0 juta, lalu turun menjadi 1,32 juta pada 2020. Thailand lebih dahsyat lagi nasib buruknya karena jumlah kunjungan pada 2020 hanya 6,7 juta, sementara pada 2019 mencapai 39,8 juta.

Singapura menyusul dengan jumlah kunjungan merosot sebesar 82,8 persen dari 15,9 juta pada 2019 menjadi 2,74 juta pada 2020. Kondisi Vietnam dan Malaysia nyaris sama, masing-masing mencatat penyusutan 78,7 persen dan 78,6 persen.

photo
Seorang anak yang mengenakan masker di patung Merlion, Taman Merlion, Singapura, Rabu (15/4). Singapura pada 14 April mewajibkan semua orang untuk mengenakan maker di luar rumah. EPA-EFE / HOW HWEE YOUNG - (EPA-EFE / HOW HWEE YOUNG)

Kunjungan wisatawan asing ke Vietnam mencapai 18 juta pada 2019, lalu drop pada 2020 menjadi 3,84 juta. Malaysia mencatat penurunan dari 20,1 juta pada 2019 menjadi 4,3 juta pada 2020. Indonesia mengalami penurunan 75 persen dari 16,1 juta pada 2019 menjadi 4,02 juta pada 2020.

Banyak faktor yang mengakibatkan industri pariwisata menjadi sangat tidak bergairah. Inti dari semuanya adalah pandemi Covid-19 yang masih merajalela di seluruh dunia. Apa konsekuensinya?

Banyak negara mengeluarkan larangan kepada seluruh warga negara mereka pergi ke luar negeri. Di sisi lain, banyak pula negara yang melarang masuknya warga negara asing ke negara mereka. Jadi, ada saling larang dari banyak negara. Akibatnya, mobilitas antarnegara menjadi sangat terbatas. Sedikit sekali, bahkan nyaris tidak ada denyut pergerakan di perbatasan negara.

Situasinya menjadi lebih memprihatinkan lagi karena ada larangan mobilitas di tingkat domestik. Sebagai gambaran, di Indonesia saja banyak pemerintah daerah (pemda) yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Lalu, secara perlahan pemda melonggarkan aturan hingga mengeluarkan aturan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Banyak pula daerah yang menerapkan isolasi mikro demi mencegah dan mengurangi penyebaran virus corona.

Masih lesu

Seluruh negara ASEAN juga masih menerapkan pembatasan mobilitas warga negaranya. Malaysia termasuk yang ketat menerapkan pembatasan mobilitas penduduk. Negara ini bahkan telah memperpanjang movement control order (MCO), terutama bagi negara bagian yang masih menunjukkan kasus tinggi Covid-19, yakni Selangor, Johor, dan Penang, serta ibu kota negara Kuala Lumpur hingga 4 Maret. Mungkin saja setelah itu akan ada perpanjangan larangan kembali.

Batas perjalanan radius 10 km secara nasional di Malaysia memang sudah dicabut. Namun, perjalanan antardistrik dan antarnegara bagian masih dilarang. Ini jelas bencana bagi industri pariwisata. “Sebuah langkah yang akan menghambat peluang bertahan hidup bagi industri pariwisata," ungkap CEO Asosiasi Hotel Malaysia, Yap Lip Seng, seperti dilaporkan TTG Asia, beberapa waktu lalu. 

“Pemerintah harus segera mengambil tindakan untuk mengatasi masalah ini, dan mendengarkan para pemangku kepentingan di lapangan yang telah menderita selama hampir satu tahun hingga sekarang, tanpa ada tanda-tanda akan berakhir,” lanjut Lip Seng.

Menurut Lip Seng, industri pariwisata Malaysia kini hanya bergantung pada wisata domestik. Itu pun sangat terbatas karena wabah belum berakhir dan masih ada pembatasan gerak bagi masyarakat.

“Setelah kehilangan semua bisnis internasional sementara perbatasan masih ditutup, industri pariwisata dan hotel hanya bergantung pada pariwisata domestik. Selama perjalanan antarnegara masih tidak diizinkan, tidak mungkin ada peluang bagi industri ini bisa bertahan hidup,” jelas Lip Seng.

Jika terus berlanjut, menurut Lip Seng, jumlah pengangguran di Malaysia akan meningkat. Ini bakal terjadi karena pelaku industri ini akan memangkas lebih banyak pekerja. Yang lebih mengerikan dalam waktu dekat hotel, restoran, dan usaha yang menggantungkan hidup dari sektor wisata bakal kolaps dan tutup. Karena itulah, pemerintah harus segera menerapkan tindakan khusus untuk industri pariwisata dan hotel. 

photo
Seorang perempuan sedang dirawat mukanya di kawasan Chinatown, Bangkok, Thailand, 19 Januari 2021. Pariwisata di negara-negara ASEAN mengandalkan kunjungan dari wisatawan domestik. - (EPA-EFE/DIEGO AZUBEL)

Yap Sook Ling, direktur pelaksana Asian Overland Tours & Travel Malaysia, meminta pemerintah memberikan bantuan bagi industri pariwisata, termasuk meningkatkan subsidi gaji menjadi 1.200 ringgit Malaysia (297 dolar AS) per bulan bagi setiap karyawan yang berpenghasilan di bawah 4.000 ringgit Malaysia (RM) per bulan dan memperpanjangnya setelah Maret.

Sektor pariwisata Singapura juga mengalami tahun terberat pada 2020 karena pembatasan perjalanan global yang belum pernah terjadi sebelumnya dan penutupan perbatasan di tengah pandemi Covid-19. Selain terjadi penurunan kedatangan wisatawan, menurut Badan Pariwisata Singapura (STB), penerimaan sektor wisata juga drop.

Penerimaan pariwisata turun 78,4 persen menjadi 4,4 miliar dolar Singapura dalam tiga kuartal pertama 2020. Negara ini mencatat penerimaan sebesar 27,7 miliar dolar Singapura sepanjang 2019.

STB memperkirakan butuh waktu lama industri ini bisa pulih ke kondisi normal. Pengembangan beberapa vaksin Covid-19 tak bisa mempercepat pemulihan perjalanan wisata massal dan kepercayaan wisatawan. Karena itulah, STB memperkirakan kedatangan dan penerimaan pariwisata akan tetap lemah pada 2021 ini.

“Sektor pariwisata Singapura harus berjuang untuk bertahan hidup pada 2020. Bisnis pariwisata kami telah menunjukkan ketahanan dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa selama periode yang sulit ini, menemukan kembali model bisnis mereka dan memanfaatkan teknologi untuk menemukan solusi menghadapi Covid-19,” ungkap Kepala Eksekutif STB Keith Tan, seperti dilansir CAN, beberapa waktu lalu.

photo
Seorang perempuan mengenakan masker sedang melewati pusat perbelanjaan selama penerapan pembatasan pergerakan atau movement control order (MCO) di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (18/2/2021). - (AP/Ariana Cubillos)

Imbas ke PDB

Buruknya sektor wisata memberi efek negatif bagi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Thailand mencatat PDB 2020 terkontraksi sebesar 6,1 persen. Ini catatan terburuk Thailand sejak pertumbuhan negatif 7,6 persen saat terjadi krisis finansial pada 1997 silam.

Pandemi Covid-19 juga menghajar ekonomi Malaysia. Menurut Kepala Departemen Statistik Malaysia Uzir Mahidin, seperti diberitakan The Straits Times, PDB negara ini tumbuh negatif 5,6 persen, kontraksi terbesar sejak krisis keuangan Asia 1998. Pada 2019, ekonomi Malaysia tumbuh 4,3 persen.

Ekonomi Singapura mengalami kontraksi 5,4 persen pada 2020. Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Chan Chun Sing menyatakan, ini kondisi terburuk bagi negaranya. Resesi terburuk sejak kemerdekaan pada 1965.

Perekonomian Indonesia juga berada di zona negatif sepanjang 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, pertumbuhan ekonomi RI pada 2020 terkontraksi 2,07 persen dari tahun sebelumnya.

Filipina tampaknya menjadi negara yang paling parah terkena dampak pandemi Covid-19 di ASEAN. Otoritas Statistik Filipina (PSA) menyatakan, PDB negara ini mengalami kontraksi hebat hingga 9,5 persen. Ini catatan terburuk dalam sejarah Filipina.

photo
Pengemudi Jude Recio berjalan melewati jeepney yang diparkir di terminal Tandang Sora yang telah menjadi rumah mereka sejak lockdown dimulai tiga bulan lalu di kota Quezon, Filipina, Rabu (17/6/2020). Sekitar 35 pengemudi jeepney terpaksa tetap tinggal di terminal akibat adanya pembatasan perjalanan dan menjadikan jeepney sebagai tempat tinggal karena pemerintah melarang angkutan umum beroperasi selama masyarakat isolasi diri untuk mencegah penyebaran Covid-19. Banyak pengemudi yang menganggur dan terpaksa mengemis di jalan-jalan, memajang papan nama bertuliskan permohonan uang dan makanan di jipney mereka. Foto AP / Aaron Favila - (AP/Aaron Favila)

Ini kontraksi ekonomi pertama Filipina dalam lebih dari dua dekade terakhir atau sejak -0,5 persen yang terlihat pada 1998 di tengah krisis keuangan Asia. Angka ini juga melebihi -7,0 persen yang terjadi pada 1984 dan -6,9 persen pada 1985 menjelang akhir rezim Marcos.

“Tahun 2020 akan dikenang sebagai tahun tersulit dalam hidup kita. Jalan di depan tetap menantang, tetapi sekarang ada cahaya di ujung terowongan,” kata Penjabat Sekretaris Perencanaan Sosial Ekonomi Filipina Karl Kendrick T Chua, seperti dilansir Business World, beberapa waktu lalu.

Filipina melakukan isolasi dan pembatasan mobilitas ketat sepanjang 2020 untuk menekan penyebaran virus corona. Pembatasan ini telah memangkas pengeluaran rumah tangga sebesar 801 miliar peso atau rata-rata 2,2 miliar peso sehari pada 2020.

photo
Warga beraktivitas memakai masker di Chinatown, Singapura, Rabu (15/4/2020). Dampak pandemi Covid-19 mempengaruhi sektor pariwisata semua negara ASEAN. EPA-EFE / HOW HWEE YOUNG - (EPA-EFE / HOW HWEE YOUNG)

“Penurunan konsumsi berarti kerugian pendapatan total sekitar 1,04 triliun peso pada 2020 atau rata-rata sekitar 2,8 miliar peso per hari,” jelas Chua. Berdasarkan per kapita, pendapatan tahunan keluarga menurun sekitar 23.000 peso per pekerja, tetapi rata-rata ini menutupi perbedaan yang lebar antarsektor dan pekerjaan. Banyak pekerja mengalami penurunan pendapatan, sementara yang lain kehilangan pekerjaan.

Jelas sekali, sektor wisata menentukan gairah ekonomi. Lesunya industri pariwisata, membuat suram perekonomian. Rontoknya sektor wisata, menghancurkan sektor runtutannya yang sangat banyak.


×