Sejumlah ibu-ibu memakai baju adat Buton membacakan syair Barzanji di Kendari, Sulawesi Tenggara, beberapa waktu lalu. Kitab al-Barzanji ditulis untuk meningkatkan rasa rindu dan cinta umat kepada Rasulullah SAW. | ANTARA

Tema Utama

07 Mar 2021, 04:00 WIB

Syair Barzanji, Untaian Permata untuk Nabi Tercinta

Kitab al-Barzanji ditulis untuk meningkatkan rasa rindu dan cinta umat kepada Rasulullah SAW.

OLEH MUHYIDDIN

 

 

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” Demikian terjemahan Alquran surah al-Ahzab ayat 56.

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam al-Qurtubi menjelaskan, shalawatnya Allah kepada Nabi Muhammad SAW berarti rahmat dan keridhaan-Nya kepada beliau. Adapun shalawatnya para malaikat berarti doa dan permohonan ampun mereka bagi Rasulullah SAW. Sementara itu, shalawatnya umat Islam merupakan doa dan pengagungan terhadap kedudukan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ucapan shalawat dapat bermacam-macam. Salah satunya, seperti yang diajarkan Nabi SAW sendiri, ialah puji-pujian yang di dalamnya menghadiahkan doa dan pengagungan bukan hanya untuk beliau, tetapi juga Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Di antara bacaan shalat pun, terdapat kandungan shalawat demikian.

Dengan bershalawat, rasa cinta Muslimin kepada sang Khatamul Anbiya kian menguat. Insya Allah, ridha dan kasih sayang-Nya pun akan terus menaungi mereka. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada ayahnya, anaknya dan manusia seluruhnya.” (HR al-Bukhari).

photo
Koordinator Pesantren Salafiyah se-Banten KH Samsuri (kanan) bersiap menyerahkan ratusan Alquran dan kitab Salafy kepada Kepala Rutan Serang Aris Munandar (kiri), di Serang, Banten, beberapa waktu lalu. Samsuri atas nama para pengelola Ponpes Salafy Banten di antaranya menghibahkan Kitab Barzanji untuk dibaca para penghuni Rumah Tahanan (Rutan) Klas II B Serang dengan harapan dapat menunjang sarana ibadah napi. FOTO ANTARA/Asep Fathulrahman/Koz/nz/11. - (ANTARA)

Ekspresi rasa cinta kepada Nabi SAW dapat melalui kata-kata indah yang menggugah. Dalam hal ini, kalangan sastrawan dengan daya kreasinya mampu menerjemahkan perasaan yang luhur tersebut ke dalam karya.

Pada zaman Rasulullah SAW, para pujangga Muslim menggubah syair puji-pujian untuk beliau. Sebut saja beberapa sahabat, seperti Hasan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah, Ka’ab bin Malik, dan Ka’ab bin Zubair. Keempatnya menjadi rujukan bagi para penyair Islam dari generasi ke generasi.

Seiring dengan meluasnya wilayah kedaulatan Islam, tradisi pujian kepada Rasulullah SAW pun tumbuh di banyak negeri. Hingga pada masa Dinasti Ayyubiyah, tradisi itu mulai diselenggarakan dalam konteks merayakan hari lahir atau maulid Nabi SAW.

 
Seiring dengan meluasnya wilayah kedaulatan Islam, tradisi pujian kepada Rasulullah SAW pun tumbuh di banyak negeri.
 
 

 

Perayaan tersebut diinisiasi sang pendiri daulah itu, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1137-1193). Tujuannya untuk semakin menumbuhkan perasaan cinta umat Islam kepada al-Musthafa shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada akhirnya, kecintaan itu dapat memperkuat rasa persaudaraan (ukhuwah) di antara sesama Muslimin.

Peringatan Maulid Nabi untuk pertama kalinya digelar pada 580 H atau 1184 M. Saat itu, Shalahuddin mengimbau para penyair negerinya untuk menggubah syair puji-pujian bagi Nabi SAW seindah mungkin. Bahkan, raja Muslim ini mengadakan sayembara untuk itu.

Ratusan tahun kemudian, pada abad ke-18 terbitlah ‘Iqd al-Jawahir fii Mawlid an-Nabi al-Azhar (Untaian Permata-Permata tentang Kelahiran Nabi SAW) karya Syekh Ja’far al-Barzanji. Sejak saat itu, Muslimin di berbagai negeri kerap membawakan syair-syair mempesona dari kitab tersebut setiap kali tiba perayaan Maulid Nabi.

Kandungan kitab

Wasisto Raharjo Jati dalam artikel “Tradisi, Sunnah & Bid’ah: Analisa Barzanji Dalam Perspektif Cultural Studies” (2012) menjelaskan, ‘Iqd al-Jawahir pada akhirnya lebih dikenal sebagai Kitab al-Barzanji.

Dalam menulis karyanya itu, Syekh Ja’far al-Barzanji bertujuan meningkatkan kecintaan Muslimin kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam kitab itu, riwayat Rasulullah SAW disampaikan dengan bahasa sastrawi yang indah. Dalam banyak bagian, narasinya berupa puisi, tetapi ada pula prosa (nasr) yang ritmis.

Melalui gubahannya itu, imam besar Masjid Nabawi ini menuturkan kehidupan sang Kekasih Allah, sejak kelahiran hingga wafatnya. Diceritakannya, banyak peristiwa ajaib terjadi menjelang lahirnya al-Musthafa shallallahu ‘alaihi wasallam. Syekh Ja’far mengisahkan, ketika lahir Muhammad SAW kecil menyentuh lantai dengan tangannya. Sementara, kepalanya menengadah ke langit.

Dalam riwayat lain disebutkan, beliau setelah dilahirkan langsung bersujud. Pada saat bersamaan, istana raja Persia berguncang. Pilar-pilarnya yang berjumlah 14 unit porak-poranda. Bahkan, api “abadi” yang selalu menyala ratusan tahun lamanya dalam kuil Majusi seketika padam. Ini menjadi penanda bahwa umur Imperium Kisra dan kemusyrikan yang merajalela di sana tidak akan lama.

 
Secara garis besar, paparan Kitab al-Barzanji dapat diringkas dalam beberapa poin.
 
 

 

Secara garis besar, menurut Wasisto, paparan Kitab al-Barzanji dapat diringkas dalam beberapa poin. Pertama, rangkuman silsilah Rasulullah SAW, yakni Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusay bin Kitab bin Murrah bin Fihr bin Malik bin Nadar bin Nizar bin Maiad bin Adnan. Kedua, cerita-cerita tentang masa kecil beliau yang sarat peristiwa luar biasa.

Ketiga, kisah yang terjadi ketika Muhammad SAW berusia 12 tahun. Waktu itu, beliau mengikuti pamannya berniaga ke Syam (Suriah). Keempat, pernikahannya dengan Khadijah.

Kelima, peristiwa pengangkatan Muhammad SAW sebagi nabi dan rasul Allah SWT tatkala usianya 40 tahun. Sejak itulah, lelaki kelahiran Makkah al-Mukarramah ini mulai menyiarkan Islam hingga umurnya sekira 63 tahun.

Kitab al-Barzanji menuturkan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad SAW serta berbagai peristiwa yang pernah dilalui beliau. Semua itu untuk dijadikan sebagai teladan bagi umat manusia. Dalam narasi kitab tersebut, keagungan akhlak Rasulullah SAW juga tergambarkan dalam setiap tindakannya sehari-hari. Sebagai contoh, sesudah hijrahnya Rasulullah SAW memimpin umat di Madinah.

Suatu hari, beliau menggelar majelis ilmu di masjid. Seorang sahabat kemudian datang terlambat dan mendapati tidak ada ruang kosong untuknya duduk. Sudah dimintanya beberapa hadirin untuk sedikit bergeser, tetapi tak ada satu pun yang mau.

photo
Maulid Nabi sudah menjadi tradisi bagi sebagian masyarakat Muslim, baik global maupun di Tanah Air. Bagaimanapun, para ulama berlainan pendapat tentang hukum merayakan maulid. - (DOK FLICKR)

Di tengah kebingungannya, sahabat ini mendengar suara Nabi SAW memanggilnya. Beliau tidak hanya memintanya untuk duduk di sampingnya. Rasulullah SAW bahkan melipat sorbannya dan memberikannya kepada sahabat tersebut untuk dijadikan sebagai alas tempat duduk.

Melihat keagungan akhlak beliau, lelaki yang datang terlambat ini langsung mencium sorban tersebut sebagai tanda baktinya kepada al-Musthafa.

Kitab al-Barzanji tidaklah semata-mata merangkai riwayat kehidupan sang Kekasih Allah. Dengan gaya bahasa yang mempesona, karya monumental Syekh Ja’far al-Barzanji ini juga menjadi bagian dari tradisi Maulid Nabi.

Dengan segala potensinya, kitab tersebut telah ikut membentuk kebudayaan dalam menghidupkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW di berbagai negeri, bahkan hingga kini.

Secara sederhana, dapatlah dikatakan bahwa masterpiece ini adalah sebuah buku biografi Nabi SAW yang disusun secara puitis. Karya ini terpilah menjadi dua bagian, yakni natsar dan nadhom.

Bagian natsar terdiri atas 19 sub-bagian yang memuat sebanyak 355 untaian syair. Sementara, bagian nadhom menghimpun 16 sub-bagian yang mengandung 205 untaian syair.

Dalam untaian prosa lirik atau sajak prosaik itu, terasa betul adanya keterpukauan pengarangnya terhadap akhlak dan sosok Rasulullah SAW. Dalam bagian nadhom, misalnya, diungkapkannya sapaan kepada Nabi SAW dengan kata-kata metaforis, “Engkaulah mentari, engkau rembulan, dan engkau cahaya di atas cahaya.”

Digemari

Pembacaan Kitab al-Barzanji sudah menjadi sebuah tradisi di berbagai belahan dunia Islam, tak terkecuali Indonesia. Martin van Bruinessen dalam artikelnya, “Kurdish ‘Ulama and Their Indonesian Disciples” (1998) menerangkan, kitab tersebut amat populer di tengah masyarakat Muslimin Nusantara. Bahkan, yang dapat menyainginya hanyalah Alquran al-Karim.

Begitu digemarinya karya Syekh Ja’far al-Barzanji ini. Alhasil, lanjut Martin, legasinya itu menjadi salah satu simpul penghubung antara ulama-ulama Kurdistan dan Indonesia.

Awal mula masuknya tradisi Barzanji ke Tanah Air tak lepas dari peranan kaum pendakwah asal Gujarat, India. Mereka telah ratusan tahun lamanya terpengaruh budaya Persia. Ketika menyebarkan Islam ke Nusantara, mereka pun turut membawa beberapa tradisi islami dari tanah kelahiran.

 
Awal mula masuknya tradisi Barzanji ke Tanah Air tak lepas dari peranan kaum pendakwah asal Gujarat.
 
 

 

Sumber lain menyebutkan, tradisi Barzanji dibawa oleh para mubaligh yang bermazhab Imam Syafii ke Indonesia. Seorang di antaranya adalah Syekh Maulana Ibrahim. Sosok itu lebih dikenal sebagai Sunan Gresik dan merupakan gurunya para Wali Songo.

Dari Hadramaut (Yaman), dia berlayar mengarungi Samudra Hindia. Sempat berlabuh di Sumatra Timur—beberapa peneliti menyebut Pasai, Aceh—sang alim lantas bermukim di pantai utara Jawa.

Sepeninggalan Sunan Gresik, seni Barzanji terus hidup. Sunan Kalijaga disebut-sebut terinspirasi dari kitab karangan Syekh Ja’far al-Barzanji sebelum menciptakan lagu “Lir Ilir” dan “Tombo Ati".

Dakwah ulama yang lahir di Tuban, Jawa Timur, itu sangat familiar di tengah masyarakat tradisional Jawa. Oleh karena itu, tradisi Barzanji pun berkembang pesat. Pada akhirnya, kalangan pesantren yang tersebar di Jawa Tengah maupun Jawa Timur merawat tradisi ini. 

Al-Barzanji Dalam Pandangan Ulama

Tradisi pembacaan Kitab al-Barzanji karangan Syekh Ja’far al-Barzanji biasanya berlangsung saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Wasisto Raharjo Jati dalam artikel “Tradisi, Sunnah & Bid’ah: Analisa Barzanji Dalam Perspektif Cultural Studies” (2012) mengatakan, tradisi tersebut kemudian menjadi topik perdebatan sebagian kaum Muslimin, termasuk di Indonesia.

Sebab, ada kalangan yang memandang bahwa peringatan hari lahir Rasulullah SAW tidak pernah dicontohkan oleh beliau. Karena dari sisi syariat tidak diajarkan, maka perayaan itu menjadi sebuah bidah. Malahan, ada pula para ulama yang melarang baik Maulid Nabi maupun pembacaan Kitab al-Barzanji.

Alasannya, para pengamalnya cenderung seperti melakukan pengultusan terhadap sosok Nabi SAW. Padahal, dalam Islam sudah jelas bahwa hanya Allah SWT yang berhak disembah.

Di sisi lain, sebagian ulama berpendapat, peringatan Maulid Nabi bisa dipandang sebagai sebuah sunah. Sebab, kegiatan itu diyakini semakin meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Beliau pernah bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada ayahnya, anaknya dan manusia seluruhnya” (HR al-Bukhari). Membaca Kitab al-Barzanji pun dinilai dapat turut menumbuhkan semangat cinta Nabi SAW.

Kalangan yang merawat tradisi Maulid Nabi maupun al-Barzanji juga mendasarkan diri pada argumentasi terkait syafaat Rasulullah SAW untuk umat beliau di hari akhir. Dikatakan, “Siapa yang menghormati hari lahirku (Nabi SAW), maka ia akan memperoleh syafaatku pada hari akhir kelak.” Memang, kata-kata itu masih menjadi kontroversi lantaran ada yang menyebutnya sebagai hadis tidak sahih.

Bagaimanapun, pembacaan Kitab al-Barzanji tidak melulu dilakukan pada waktu merayakan Maulid Nabi. Di Indonesia, momen tersebut bisa terjadi dalam berbagai kesempatan, seperti tasyakuran kelahiran bayi, akikah, khitanan, pernikahan, dan lain-lain.

Bagi warga Nahdliyin, tradisi Barzanji sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Sebagaimana mereka mencintai shalawat Nabi, kitab tersebut pun dibacakan sebagai bentuk rasa rindu dan cinta kepada sang Khatamul Anbiya.

Berikut ini penggalan lirik dalam Kitab al-Barzanji, seperti dikutip Wasisto dari terjemahan oleh Abu Ahmad Najieh (1987), yang menyiratkan perasaan luhur demikian.

Seperti cantikmu (Nabi SAW) tak pernah kupandang. Aduhai wajah ceria. Engkau matahari, engkau purnama. Engkau cahaya di atas cahaya. Engkau permata tak terkira. Engkau lampu di setiap hati.

Makna yang ingin disampaikan dalam syair tersebut adalah betapa keagungan Rasulullah SAW tidak bisa tertandingi makhluk apa pun, manusia siapapun, di dunia ini. Syair tersebut acap kali dinyayikan dalam berbagai kegiatan keagamaan, di pesantren, masjid, maupun majelis pertemuan.

Bacaan shalawat kemudian bergema sebagai respons terhadapnya: “Ya Nabi, salam ‘alaika. Ya Rasul, salam ‘alaika. Ya Habib, salam ‘alaika. Shalawatullah ‘alaika.” ';

×