Ilustrasi mata uang digital | Pexels/Marta Branco
08 Mar 2021, 11:27 WIB

Bekal Sebelum Bertualang di Dunia Cryptocurrency

Selalu lakukan riset mandiri sebelum memutuskan masuk ke pasar uang kripto.

Sejak pengujung 2020, Bitcoin (BTC) dan industri mata uang crypto (cryptocurrency) makin banyak diperbincangkan dan menarik perhatian publik. Hal ini tak lepas dari volatilitas harganya, dan teknologi desentralisasi yang dibawa Bitcoin, dan koin-koin kripto lainnya.

Berinvestasi dalam dunia mata uang kripto memang sangat spekulatif dan sebagian besar pasar tidak diregulasi. Siapa pun yang tertarik masuk ke dalamnya, harus siap untuk menanggung risiko kehilangan uang akibat volatilitasnya yang melebihi pasar investasi tradisional.

Dilansir dari Forbes, Kamis (4/3), ada beberapa hal yang harus diperhatikan, ketika rasa tertarik untuk mengenal pasar uang kripto sudah sulit dibendung. Pertama, saat ini Bitcoin lebih banyak dipandang sebagai penyimpan nilai.

Di awal kehadirannya, Bitcoin memang dikenal sebagai alat tukar. Namun, dalam perkembangannya, semakin banyak investor Bitcoin yang melihat Bitcoin sebagai aset digital dan penyimpan nilai.

Terkait

CEO Micro Strategy, Michael Saylor menyebut Bitcoin sebagai aset yang langka karena hanya tersedia 21 juta koin saja. “Di dunia keuangan, kita selalu menginginkan aset yang langka. Dan Bitcoin adalah emas digital,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg.

Pada dasarnya, Bitcoin menawarkan kemudahan mengirimkan sejumlah nilai dari satu orang ke orang lain (peer to peer), tanpa perlu memberikan detail sensitif, seperti informasi perbankan dan nomor kartu kredit. Bitcoin juga mudah dipindahkan, tanpa adanya batasan jumlah, dan tidak terikat dengan entitas atau wilayah tertentu.

Nilainya pun mirip dengan emas, karena bergantung pada aspek penawaran dan permintaan. Berbeda dengan pasar uang tradisional, pasar uang kripto yang memperdagangkan Bitcoin dan koin-koin lainnya, tidak pernah tutup.

Semua aset kripto diperdagangkan setiap hari, pada semua jam, bahkan pada hari libur. Semua koin yang diperdagangkan juga dapat ditransaksikan sepanjang hari, dengan transaksi diselesaikan melalui blockchain.

Hal inilah yang secara teori digadang-gadang menjadi kelebihan dari teknologi blockchain dan sistem ekonomi terdesentralisasi. Karena, sistem perbankan yang saat ini tersentralisasi kerap membutuhkan waktu untuk menyelesaikan transaksi pada sistem back end mereka.

Namun dalam praktiknya, ketika kita ingin memperjualbelikan aset kripto saat ini, sebenarnya kita tetap masih memerlukan campur tangan sistem perbankan konvensional. Karena, aplikasi-aplikasi unuk membeli atau menjual mata uang kripto masih memerlukan rekening bank sebagai proses know your customer (KYC).

Mata uang kripto juga membutuhkan lokasi penyimpanan. Bitcoin dan mata uang lainnya dapat disimpan di bursa atau platform berbasis laman atau aplikasi. Tetapi hal itu bisa dibilang bukan cara terbaik, karena berisiko rentan menjadi sasaran peretasan atau pengguna yang secara tidak sengaja lupa kata sandi untuk mengakses akunnya.

Menyimpan koin atau token di dompet kripto pribadi, dapat memberi pengguna lebih banyak kendali atas dana mereka, jauh dari interaksi pihak ketiga, serta membiarkan pemegang aset mengelola keamanan mereka sendiri. Ada beberapa jenis dompet yang dapat digunakan,  termasuk dompet perangkat lunak (software wallet), dan dompet perangkat keras (hardware wallet).

Dompet perangkat keras untuk menyimpan mata uang kripto, berbentuk seperti USB dan sudah dapat dibeli di beberapa marketplace di Indonesia. Konsep dompet hardware pun saat ini dipandang di industri sebagai salah satu metode penyimpanan yang relatif lebih aman.

Selalu Riset Mandiri

photo
Ilustrasi pasar mata uang cryptocurrency - (Pexels/Nataliya Vaitkevich)

Karena mata uang kripto saat ini masih terbilang baru bagi banyak orang, diperlukan usaha tersendiri untuk memahami bagaimana sistem baru ini bekerja. Istilah DYOR atau Do Your Own Research pun menjadi salah satu dasar yang selalu ditekankan para pegiat cryptocurrency.

Saat ini, Twitter, YouTube dan siniar menjadi sumber informasi yang lengkap bagi yang ingin mulai belajar. Di jagat maya, telah tersedia sekumpulan sumber informasi di untuk membantu para pendatang baru.

Saluran YouTube, contohnya DataDash milik Nicholas Merten hadir untuk memberi edukasi tentang mempelajari dasar-dasar industri kripto. Selain itu, ada pula Altcoin Daily yang setiap hari memberi rangkuman tentang berbagai berita dan perkembangan dunia criptocurrency dari berbagai belahan dunia dalam kurun waktu 10 menit.

Selain YouTube, Twitter juga menjadi salah satu tempat paling umum untuk menemukan percakapan dan informasi menarik tentang kripto. Nama, seperti Willy Woo (@Woonomics) sudah cukup lama dikenal sebagai analis Bitcoin dan pasar uang kripto.

Dalam salah satu tweet sematannya, Woo mengungkapkan, bahwa dalam konteks pengadopsian, Bitcoin saat ini berada di posisi yang sama seperti internet pada 1997. “Hanya saja, Bitcoin menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat. Dengan pola yang ada sekarang, Bitcoin akan memiliki satu miliar pengguna pada empat tahun mendatang. Jumlah yang sama seperti internet pada 2005,” ujarnya.

Mempelajari mengenai sebuah sistem keuangan, lengkap dengan teknologinya yang revolusioner seperti blockchain dan mata uang kripto memang bisa memakan waktu. Termasuk juga, mempelajari tentang praktik keamanan yang tepat dan cara bertransaksi, Ooleh karena itu tentulah memerlukan upaya dan sumber daya tersendiri. 

 

Dibenci dan Dipuja

photo
Ilustrasi trading cryptocurrency - (Pexels/Alesia Kozik )

Layaknya teknologi baru, Bitcoin saat ini memiliki banyak pendukung dan kritikus yang sama kuatnya. Masing-masing, tentu memiliki argementasinya sendiri, dalam memandang apakah Bitcoin memiliki nilai dan merupakan sebuah inovasi yang berharga.

1. Bill Gates

Selama ini, Gates dikenal bukanlah penggemar Bitcoin. Salah satu alasan utamanya, adalah karena Bitcoin ikut bertanggung jawab dalam pencemaran lingkungan. Cryptocurrency terpopuler ini memang mengonsumsi listrik dalam jumlah besar setiap tahunnya, bahkan menyamai penggunaan listrik Argentina.

Para penambang Bitcoin mengoperasikan komputer dalam jumlah besar selama 24 jam selama sepekan. Pembakaran bahan fosil ini, kemudian menghasilkan karbon dioksida (CO2) yang mencemari lingkungan.

2. Sejak awal kehadirannya di 2009, Bitcoin tidak mampu menarik perhatian Warren Buffet. Pada 2014, dalam wawancaranya dengan CNBC, Buffet menyebut Bitcoin sebagai fatamorgana yang sebaiknya dijauhi.

Pandangan Buffet juga belum berubah pada 2019. “Bitcoin adalah alat judi, dengan banyak koneksi terhadap berbagai penipuan. Bitcoin juga selama ini tidak menghasilkan apapun,” ujarnya.

3. Elon Musk

Sebagai salah satu orang terkaya di dunia, Musk dikenal konsisten memberikan dukungannya pada komunitas pecinta cryptocurrency. Pada awal Februari lalu, perusahaannya, Tesla, membeli Bitcoin seharga 1,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, ia juga sempat mengkatrol harga Digecoin hingga 900 persen dalam kurun waktu 24 jam. Salah satu cuitannya sebelum Tesla membeli Bitcoin, yaitu “In retrospect, it was inevitable,” pun dimasukkan ke dalam blockchain nomor 668.197 dan akan tersimpan selamanya.  

Pemikiran umum saya adalah jika Anda memiliki lebih sedikit uang daripada Elon (Musk-Red). Anda mungkin harus berhati-hati.

Bill Gates
 

 


×