Penyandang disabilitas, Sodik (55 tahun), menyelesaikan pembuatan pot berbahan sabut kelapa di Desa Bongkot, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Presiden Jokowi menggaungkan ajakan benci produk asing. | ANTARA FOTO/Syaiful Arif
05 Mar 2021, 03:20 WIB

Jokowi: Gaungkan Benci Produk Asing

Ajakan mencintai produk dalam negeri diharapkan lebih diplomatis.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo meminta Kementerian Perdagangan menyiapkan kebijakan dan strategi untuk mengembangkan pasar produk nasional, khususnya usaha mikro kecil menengah (UMKM). Ia pun meminta agar jajarannya mendorong masyarakat untuk mencintai dan mendukung produk-produk dalam negeri.

“Gaungkan juga benci produk-produk luar negeri. Bukan hanya cinta tapi benci. Cinta barang kita, benci produk luar negeri,” kata Jokowi saat meresmikan pembukaan rapat kerja nasional Kementerian Perdagangan, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/3).

Presiden juga meminta agar pusat perbelanjaan seperti mall di berbagai daerah memberikan ruang bagi produk-produk buatan Indonesia, khususnya produk UMKM. Lokasi strategis di pusat perbelanjaan pun harus diisi oleh merek produk-produk lokal.

“Jangan sampai ruang depan, lokasi-lokasi strategis justru diisi dari brand-brand dari luar negeri. Ini harus mulai digeser. Mereka digeser ke tempat yang tidak strategis. Tempat yang strategis, lokasi yang baik berikan ruang untuk brand-brand lokal,” ujar dia.

Terkait

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 270 juta jiwa dan sebagai pasar yang sangat besar, seharusnya masyarakat lebih loyal dan mencintai produk-produk buatan bangsa. Karena itu, Presiden meminta agar branding untuk mencintai produk lokal harus lebih ditingkatkan.

“Sehingga betul-betul masyarakat kita menjadi konsumen yang loyal, sekali lagi untuk produk-produk Indonesia,” tambahnya.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menekankan agar Kementerian Perdagangan dapat meningkatkan posisi emerging market dengan mendorong konsumsi dan meningkatkan peran ekspor-impor dalam menopang pertumbuhan ekonomi.

“Di sinilah pentingnya tugas perwakilan perdagangan di luar negeri, yaitu dengan memperkuat kontribusi ekspor dan impor untuk mendorong peningkatan produk domestik bruto (PDB). Salah satunya dengan memfokuskan pada 30 komoditas ekspor utama Indonesia,” kata Lutfi, dalam Pra-Raker Kemendag, Kamis (4/3).

Ia menyampaikan, pada era kolaborasi saat ini, penting untuk membuka pasar karena dapat mendatangkan investasi. Itu yang kemudian diharapkan dapat menciptakan pusat produksi dan menjadikan ekspor nonmigas sebagai primadona.

“Kita sedang beralih dari mengekspor barang mentah dan barang setengah jadi menjadi barang industri dan barang industri berteknologi tinggi. Untuk itu, perlu diciptakan pelaku UMKM yang tangguh untuk mewujudkan perdagangan yang adil dan baik demi Indonesia yang sejahtera,” katanya. 

Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) merespons baik pernyataan Presiden Jokowi yang menyatakan bahwa masyarakat harus mulai mencintai produk asli UMKM dalan negeri dan membenci produk-produk luar negeri.

"Ini yang kami tunggu, setelah 10 tahun kami menggelorakan gerakan ayo kembali belanja ke pasar tradisional dan ayo belanja ke warung rumahan untuk cintai produk dalam negeri dan produk-produk UMKM sendiri," kata Ketua Bidang Organisasi DPP Ikappi, Muhammad Ainun Najib, dalam keterangan resmi diterima Republika, Kamis (4/3).

Ia mengatakan, ajakan dari Presiden itu patut dipandang positif dan diharapkan mendapat respons positif juga dari masyarakat untuk kembali berdiri di kaki sendiri. "Kita semua tahu bahwa pandemi ini menggerus seluruh sektor ekonomi. Jika kita tidak membangkitkan kembali sektor ekonomi maka kita tidak mungkin bertahan untuk menghadapi pandemi," ujarnya.

Ainun mencontohkan, sebanyak 95 persen bawang putih yang dikonsumsi masih impor dari Cina dan beberapa komoditas lain, seperti kedelai jagung dan lainnya akan terus mengalir ke dalam negeri.

"Ini adalah momentum petani kita untuk kembali bangkit dan pulih. Masyarakat juga harus kembali sadar bahwa produk dalam negeri jauh lebih berkualitas dibandingkan produk luar negeri. Ini momentum berbenah," kata Ainun.

photo
Pekerja menunjukkan bubuk kopi arabika gayo yang telah dikemas dengan bungkusan hasil kerajinan UMKM rumah tangga dan industri kecil menengah (IKM) di bazar UMK-IKM dan pasar murah Asia Mart Center, Banda Aceh, Aceh, Selasa (19/1/2021). - (IRWANSYAH PUTRA/ANTARA FOTO)

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan, tujuan ajakan Presiden sebetulnya baik karena mengajak untuk menggunakan produk dalam negeri. Namun, semestinya ajakan dari seorang Presiden bisa lebih diplomatis.

"Khawatirnya kalau kita gaungkan benci produk luar negeri, lalu dibalas benci produk Indonsia, bagaimana? Kita jadi tidak bisa ekspor," kata Heri kepada Republika, Kamis (4/3).

Menurutnya, di banyak negara saat ini memang sudah mulai intens untuk mengajak masyarakatnya mengutamakan produk dalam negeri. Namun, upaya itu dilakukan dengan slogan yang fokus pada negeri sendiri tanpa menyinggung negara lain.

Heri melanjutkan, yang terpenting adalah bagaimana agar pemerintah bisa memperkuat posisi industri dalam negeri untuk melakukan substitusi produk impor. "Itu kan perlu roadmap. Apa yang mau dikurangi impornya harus diimbangi dengan kemampuan industri. Kalau kita langsung kurangi impor nanti kekurangan barang, repot juga," ujar dia.

Yang tak kalah penting adalah soal harga barang substitusi impor. Ia menekankan, harga juga harus bisa bersaing agar masyarakat benar-benar mengutamakan produk dalam negeri.

"Slogan yang harus dibangun itu aku cinta produk Indonesia, produk lokal, atau made in Indonesia 2022. Banyak sebenarnya di berbagai negara. Tapi kalau statement benci itu menyerang, ya kita nanti balas. Jadi fokus ke industri kita saja," katanya.

Menurut Heri, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian sudah memiliki semangat untuk substitusi impor. Salah satunya dalam target penurunan impor produk manufaktur sebesar 35 persen. Arah itu sudah baik, tapi harus diiringi dengan tindakan agar utilisasi dan produktivitas industri dalam negeri ikut membaik. 


×