Ilustrasi layanan streaming | Google Play Store
04 Mar 2021, 14:31 WIB

Menyempurnakan Layanan Streaming Masa Depan

Layanan streaming akan menghadirkan pengalaman yang lebih menarik.

Di saat menikmati konser tak dimungkinkan, dan menyaksikan film di bioskop diliputi rasa was-was, opsi menikmati hiburan makin bergantung pada streaming on demand. Sejak setahun lalu, makin banyak orang di seluruh dunia melakukan streaming konten video di rumah mereka daripada sebelumnya.

Peningkatan kebiasaan streaming video ini didorong oleh peningkatan kecepatan koneksi internet yang makin baik, peningkatan opsi konten, dan yang terbaru adanya keterbatasan mobilitas akibat virus Covid-19. Dalam artikel “How to Trust Your Player Building An OTT Service For Today’s World”, seperti dilansir dari Bitmovin, Rabu (3/3), survei dari Altman Vilandrie & Company menunjukkan, setengah dari pemirsa di Amerika Serikat (AS), kini menonton lebih banyak TV dan film sejak Covid-19 dimulai.

Sekitar 22 persen konsumen, bahkan menonton TV atau film dengan waktu tambahan lima jam per pekan daripada yang mereka lakukan sebelum pandemi. Melihat tren ini, ada peluang bagi penyedia video daring untuk menangkap pangsa pasar dan meningkatkan pengalaman pengguna dengan meningkatkan keterlibatan pemirsa.

Laporan pengembang Bitmovin 2020 menemukan, memperbaiki atau meningkatkan keterlibatan pemirsa adalah salah satu peluang teratas yang dilihat oleh 792 peserta industri. Tren menjadikan streaming sebagai bagian dari gaya hidup saat ini pun diperkirakan akan terus berlangsung di masa depan.

Terkait

Dalam webinar Bitmovin Live: IBC Edition 2020 disampaikan pandemi Covid-19 diperkirakan akan semakin mempercepat tren teknologi video ini. Salah satunya, dengan menghadirkan konsep tampilan tersinkronisasi.

Hal ini sudah mulai terlihat di siaran langsung dan olahraga. Meski awalnya menderita akibat pandemi global, kini tayangan olahraga mulai kembali dalam format streaming.

Tren ini muncul karena penonton ingin tetap terlibat dengan tim favoritnya. Tetapi, tidak siap untuk duduk di stadion yang ramai.

Penayangan tersinkronisasi memungkinkan mereka menikmati kebersamaan dengan sesama penggemar dengan aman. Hal ini membuka banyak peluang bagi penyedia video yang ingin menambahkan komponen sosial ke layanan mereka.

Meskipun jejaring sosial seperti Facebook, Twitch, dan Twitter semuanya memiliki kemampuan streaming langsung, fokus utamanya adalah pada pembuat konten yang ingin berbagi video dengan penggemar mereka.

Hal ini kemudian menyisakan celah yang cukup besar bagi penyedia untuk membangun pengalaman sosial kreatif yang berpusat di sekitar feed video langsung.

Tren penayangan tersinkronisasi juga tidak terbatas pada acara langsung. Popularitas alat sosial khusus, seperti Netflix Party, juga membuktikan pemirsa kini menginginkan pengalaman menonton film dan acara TV bersama-sama, bahkan ketika pandemi menghalangi pertemuan langsung.

Konsep menonton bersama orang juga menjadi peluang bagus untuk meningkatkan pangsa pasar. Penyedia layanan streaming dapat mengizinkan penonton untuk membagikan tautan video dengan teman-temannya, sehingga menciptakan viral loop.

Makin Libatkan Penonton

photo
Ilustrasi layanan streaming film di Indonesia - (Google Play Store)

Streaming tersinkronisasi bukanlah satu-satunya cara untuk meningkatkan keterlibatan pemirsa dengan konten. Xavier Leclercq dari penyedia konten Broadpeak, saat ini memberi contoh siaran balap mobil Formula 1 yang memberi pemirsa opsi untuk beralih di antara berbagai streaming saat menonton balapan.

Menurutnya, apa yang F1 telah lakukan sangat menarik. Karena penonton memiliki akses ke semua streaming dan merasakan pengalaman menyaksikan driver yang berbeda. “Pengalaman adalah tempat kami akan melihat industri ke depan, banyak konten yang sangat berkualitas. Di sinilah orang-orang terlibat secara emosional dengan konten,” ujar Leclercq.

Tren streaming yang juga kini mulai berkembang adalah bundling. Saat ini, banyak penyedia layanan yang mengejar strategi bundling konten untuk menjaga pemirsa tetap terlibat tanpa memproduksi lebih banyak konten original.

Jure Zlak dari Beenius menjelaskan, bundling adalah peluang signifikan bagi penyedia OTT untuk mengalahkan perusahaan telekomunikasi tradisional. “Anda bisa melihat selama bertahun-tahun bahwa mayoritas perusahaan telekomunikasi menawarkan semakin banyak konten, semakin banyak saluran untuk pelanggan mereka. Namun rata-rata jumlah saluran yang dikonsumsi oleh rumah tangga belum benar-benar meningkat," kata Zlak.

Menurutnya, peluang untuk inovasi, adalah bagaimana melibatkan pemirsa dengan lebih baik. Dengan menggabungkan konten dari berbagai sumber, penyedia video dapat mempertahankan lebih banyak penonton di platform mereka lebih lama.

Tren lainnya adalah penurunan latensi. Untuk menikmati acara real-time, mengobrol dengan teman sambil menonton video, dan menyinkronkan pengalaman antara perangkat seluler dan layar besar, tentu pemirsa memerlukan koneksi internet yang cepat. Di sisi lain,  penyedia streaming pun memerlukan pengkodean video yang efisien.

Dengan dirilisnya jaringan 5G di sebagian besar dunia dan Low Latency HTT Live Streaming// (HLS) milik Apple, akan semakin banyak pengguna yang dapat melakukan streaming video definisi tinggi saat bepergian. Hal ini sekaligus memperkenalkan peluang baru bagi penyedia video untuk melibatkan pengguna di perangkat seluler mereka sambil menonton film atau streaming langsung.

Tentu saja, menjaga latensi tetap rendah akan semakin menantang seiring dengan peningkatan kualitas video. Dengan video kualitas 4k dan 8k yang menjadi tuntutan standar dari penonton, penyedia layanan harus terus meningkatkan kualitas dan pengalaman dari pengguna. 

Peluang Baru Digital Marketing

Popularitas layanan streaming over the top (OTT) meningkat secara luar biasa sejak pandemi terjadi. Menurut laporan Streaming Seluler 2021, yang diluncurkan platform analitik pemasaran aplikasi global, Adjust, saat ini masyarakat lebih sering mencari hiburan on-demand.

Pandemi juga menghadirkan perubahan mendasar dalam pola konsumsi ke arah mobile. Apabila dulu streaming identik dengan kegiatan membunuh waktu, atau dilakukan di sela perjalanan, kini streaming konten dilakukan jauh lebih banyak sejak adanya pembatasan sosial.

Lead Product Strategist Adjust Dr Gijsbert Pols menjelaskan, perubahan signifikan dalam rutinitas streaming seluler di seluruh dunia dan terjadi di lintas generasi telah menciptakan peluang yang luar biasa bagi industri periklanan. “Dengan memahami tentang cara dan waktu pengguna melakukan streaming, hal ini akan memberi dampak pemasaran paling signifikan,” ujarnya.

Laporan Streaming Seluler 2021 melibatkan 8.000 responden di Amerika Serikat (AS), Inggris, Jerman, Turki, Jepang, Singapura, Korea, dan Cina. Laporan ini pun mencatat perkembangan industri streaming yang kian pesat, sejak terjadinya pandemi, antara lain:

·       84 persen pengguna di berbagai negara yang disurvei menggunakan smartphone untuk streaming konten dalam jumlah yang sama atau bahkan lebih banyak sejak adanya pembatasan sosial.

·       Hampir 90 persen pengguna berusia 55 tahun ke atas di Cina dan di Turki, kini melakukan streaming melalui ponsel setiap hari atau setidaknya lebih dari sekali seminggu.

·       Tren second-screening kini semakin populer di seluruh dunia dengan meningkatnya popularitas Connected TV (CTV). Secara rata-rata, lebih dari tiga perempat responden menggunakan telepon seluler sembari menonton TV.  

Pengiklan dapat memanfaatkan tren baru ini dengan menempatkan call-to-action dalam iklan TV, seperti mengunduh aplikasi seluler melalui QR code. Hal ini berpotensi untuk menciptakan pengalaman brand yang baru dan interaktif, untuk dua perangkat. 

Anggaran Streaming

photo
Warga menonton film karya sineas Indonesia di salah satu aplikasi perangkat elektronik di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).ÊMenteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama KusubandioÊmengajak masyarakat untuk menonton film Indonesia berkualitas di rumah saja, Kemenparekraf bekerjaÊsama dengan layanan streaming dan unduh film dari Gojek, GoPlay dan Badan Perfilman Indonesia (BPI) untuk mendukung perfilman Indonesia dan memberikan apresiasi kepada para pekerja film. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc. - (Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO)

Untuk bisa menikmati konten streaming, tentu ada anggaran yang harus dikeluarkan konsumen. Saat ini, konsumen di Korea memimpin dengan pengeluaran bulanan sebesar 42,68 dolar AS atau sekitar Rp 610 ribu per bulan. Inggris dan Singapura menjadi negara selanjutnya yang mencatatkan jumlah konsumsi streaming bulanan terbesar, yaitu mencaai 35 dolar AS atau sekitar Rp 500 ribu per bulan. 

 

 
Selama pandemi terjadi penurunan dalam investasi periklanan. Hal ini tentu saja, mempengaruhi setiap pemegang saham utama untuk memikirkan kembali model bisnis mereka.
Matej Puhan, Sales Director platform periklanan terintegrasi Castoola
 
 

 

 

 


×