Bank Riau Kepri | Bank Riau Kepri
03 Mar 2021, 04:00 WIB

Bank Riau Kepri Selesaikan Konversi Syariah Tahun Ini

Bank Riau Kepri (BRK) menargetkan penyelesaian konversi menjadi bank syariah pada semester I 2021.

 

JAKARTA -- Bank Riau Kepri (BRK) menargetkan penyelesaian konversi menjadi bank syariah pada semester I 2021. Direktur Utama Bank Riau Kepri Andi Buchori mengatakan, pihaknya telah menyampaikan laporan perkembangan persiapan konversi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 12 Januari 2021. Andi mengatakan, persiapan terkait administrasi, prosedur, dan sosialisasi pada nasabah sudah hampir selesai.  

"Kami menargetkan konversi jadi syariah pada semester I 2021 dan persiapannya sudah hampir rampung," kata Andi kepada Republika, Selasa (2/3).

 
Setelah memutuskan konversi tahun lalu, kita kerahkan segala effort mengarahkan nasabah kita ke syariah.
Direktur Utama Bank Riau Kepri Andi Buchori
 

Saat ini, BRK dan regulator sedang menjalani tahap asistensi yang dilakukan dalam beberapa sesi. Asistensi sudah digelar sebanyak dua kali dan akan dilanjutkan untuk membahas teknis per fokus bidang seperti dari sisi teknologi informasi (TI), kesiapan produk, dan hal-hal teknis lainnya.

"Dari kita persiapannya untuk sisi teknis, administrasi, dokumentasi, sosialisasi, infrastruktur, hingga persiapan sumber daya insaninya itu sudah selesai," katanya.

Seluruh sumber daya manusia yang ada di BRK kini sudah menjalani pelatihan untuk mendapatkan sertifikasi kompetensi syariah. Persetujuan nasabah pendanaan pun sudah mencapai 91 persen. Hal itu lebih cepat dari target yakni satu tahun lagi.

Selain proses di regulator, persiapan payung hukum atas konversi BRK juga sudah mencapai tahap finalisasi. Pengesahannya dalam rapat paripurna pemerintah daerah akan dilaksanakan pada Maret 2021.

Jelang konversi, BRK pun mencatat kinerja yang impresif. Andi menyampaikan, pertumbuhan kinerja dikontribusikan salah satunya oleh percepatan layanan skema syariah.

"Setelah memutuskan konversi tahun lalu, kita kerahkan segala effort mengarahkan nasabah kita ke syariah," katanya.

Dalam satu tahun terakhir BRK mendorong layanan dan skema syariah pada setiap pembukaan transaksi baru. Hal ini disambut baik oleh masyarakat dengan semakin banyaknya pembukaan kerja sama dan bisnis dengan BRK.

Dari sisi eksternal, pertumbuhan juga didukung kondisi ekonomi Riau dan Kepulauan Riau yang tetap tumbuh meski di tengah pandemi. Sektor perdagangan dan perkebunan seperti kelapa sawit menjadi kontributor signifikan.

Harga kelapa sawit yang meningkat memicu pertumbuhan perdagangan. Penopang lainnya dari sektor usaha bahan pangan, kebutuhan pokok, dan konsumer berhasil tumbuh cukup tinggi.

Andi mengatakan, unit usaha syariah (UUS) BRK mampu tumbuh di atas rata-rata industri. Per Desember 2020, aset UUS BRK tumbuh 62 persen menjadi Rp 5,78 triliun, pembiayaan tumbuh 23,4 persen menjadi Rp 2,74 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 57,4 persen menjadi Rp 3,51 triliun.

"Laba juga tumbuh pesat 132,9 persen menjadi Rp 91,8 miliar," katanya.

Secara keseluruhan, BRK mencatat pertumbuhan aset sebesar 11,45 persen menjadi Rp 28,4 triliun. Laba tumbuh 45,18 persen menjadi Rp 662 miliar. Kredit tetap tumbuh sebesar 6,02 persen menjadi Rp 18,96 triliun dengan rasio kredit bermasalah tetap terjaga sebesar 2,83 persen, lebih baik dari 2,92 persen pada 2019.

 Sementara itu, DPK tumbuh 11,06 persen menjadi Rp 22,14 triliun. Rasio BOPO yakni 72,74 persen, lebih rendah dibandingkan bank-bank sekelompok di BPD maupun Bank BUKU II yang rata-rata 75 persen.

"Alhamdulillah kita bersyukur memang kinerja di akhir 2020 sangat menggembirakan dan akan jadi bekal kita melakukan konversi," katanya.


×