Penyidik KPK menunjukan barang bukti pada konferensi pers penetapan tersangka di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Ahad (28/2). | Prayogi/Republika.
02 Mar 2021, 03:15 WIB

KPK Didesak Telusuri Aliran Suap Nurdin Abdullah

Penelusuran aliran suap Nurdin Abdullah guna membuktikan pihak lain yang turut menikmati uang.

JAKARTA -- Indonesian Corruption Watch (ICW) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera mengembangkan dugaan perkara korupsi yang menjerat Gubernur Sulamwesi Selatan Nurdin Abdullah. ICW menilai, KPK perlu menelisik aliran dana suap yang telah diterima Nurdin Abdullah tersebut.

"Penetapan tersangka Nurdin sudah semestinya menjadi pintu masuk bagi KPK untuk menelusuri aspek-aspek lain yang berkaitan," kata Peneliti ICW, Egi Primayogha dalam keterangannya, Senin (1/3).

Penelusuran aliran dari uang suap Nurdin penting guna membuktikan apakah ada pihak lain yang turut menikmati uang tersebut, baik individu atau organisasi seperti partai politik. Hal itu mengingat biaya politik dalam kontestasi pemilu yang teramat mahal. Untuk menutupi kebutuhan pemilu, kandidat pejabat publik kerap menerima bantuan dari pengusaha.

Beban itu belum ditambah dengan pemberian mahar politik kepada partai. Artinya, kata dia, saat menjadi pejabat publik, calon tersebut akan melakukan berbagai upaya untuk "balas budi" kepada pihak tersebut. "Upaya tersebut di antaranya adalah praktik-praktik korupsi," katanya.

Terkait

photo
Suasana Rumah Jabatan Gubernur Sulsel pasca Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah ditangkap di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (27/2/2021). Penyidik KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Nurdin Abdullah dalam dugaan kasus tindak pidana korupsi dan kemudian membawanya ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan selanjutnya. - (ABRIAWAN ABHE/ANTARA FOTO)

KPK juga perlu mendalami dugaan keterlibatan Nurdin dalam proyek infrastruktur lainnya. Sebab, Nurdin pernah disebut memanfaatkan kewenangannya dalam memberikan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) terhadap dua perusahaan pertambangan pasir, yaitu PT Banteng Laut Indonesia dan PT Nugraha Indonesia Timur.

Dia mengatakan, Nurdin diduga menekan bawahannya agar perusahaan tersebut mudah mendapatkan amdal. Perusahaan tersebut diketahui terafiliasi dengan Nurdin dan berisikan orang-orang yang pernah menjadi tim sukses dalam kontestasi pilkada. "Perusahaan itu juga diketahui akan memasok kebutuhan proyek infrastruktur Makassar New Port yang merupakan proyek strategis nasional," katanya.

Gubernur Nurdin Abdullah terjaring operasi tangkap tangan (OTT) di Kota Makassar, Jumat (26/2) malam menjelang dini hari. Nurdin pun telah ditetapkan sebagai tersangka korupsi dan dijebloskan ke Rumah Tahanan (Rutan) KPK cabang Pomdam Jaya Guntur.

photo
Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah meninggalkan ruang pemeriksaan di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Ahad (28/2). Prayogi/Republika. - (Prayogi/Republika.)

Nurdin diduga menerima suap sebesar Rp 2 miliar dari Direktur PT Agung Perdana Bulukumba (APB) Agung Sucipto melalui Sekretaris Dinas PUPR Provinsi Sulawesi Selatan Edy Rahmat. Dua nama itu juga telah ditetapkan tersangka.

Tak hanya suap, Nurdin juga diduga menerima gratifikasi dengan total nilai Rp 3,4 miliar. Diduga suap diberikan guna memastikan agar Agung bisa mendapatkan kembali proyek yang diinginkannya pada 2021.

Nurdin usai penetapan tersangka sempat membela diri. Ia mengaku kaget mengetahui Edy Rahmat yang merupakan orang kepercayaannya menerima suap dari Agung. "Tidak tahu apa-apa kami, ternyata si Edy itu melakukan transaksi tanpa sepengetahuan saya, sama sekali tidak tahu. Demi Allah, demi Allah," kata Nurdin.

photo
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Wakil Presiden Maruf Amin (kedua kanan) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri) menyerahkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) serta Buku Daftar Alokasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa Tahun 2020 kepada Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah di Istana Negara, Jakarta, Kamis (14/11/2019).  - (PUSPA PERWITASARI/ANTARAFOTO)

Pelaksana tugas Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman juga mengaku kaget dengan kasus korupsi yang menyeret nama Nurdin. "Kita empati dengan apa yang terjadi. Mari kita doakan yang terbaik untuk beliau," kata Andi dalam keterangannya, Senin (1/3).

Meski begitu, kata Andi, terbuka peluang bagi Nurdin untuk berbuat salah. "Semua orang punya aib. Tidak ada yang sempurna, pasti kita pernah melakukan kesalahan atau kekhilafan. Kita harus selalu mengingatkan dan banyak berdoa," ujar Andi.

Andi mengimbau supaya anak buahnya fokus menunaikan pekerjaan. Ia juga memastikan program yang dicanangkannya bersama Nurdin akan tetap dijalankan. "Visi misi kita sama beliau (Nurdin Abdullah) sama. Mari kita bekerja bersama, berdoa, dan mendukung. Saya selalu terbuka," katanya.


×