Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika
27 Feb 2021, 17:14 WIB

Mencari Ukuran yang Paling Umum dari Bahasa Ibu

Kata-kata dari bahasa daerah yang memiliki ukuran umum, bisa diterima menjadi bagian bahasa Indonesia.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Tempe menjadi salah satu kata dalam bahasa Jawa yang sudah menjadi kata dalam bahasa Indonesia. Van Ronkel memasukkan kata `tempe' ke dalam kamus Melayu-Belanda (Maleis Woordenboek) yang ia susun pada 1939. Kata itu ia rujuk ke kata 'timpe', lalu ia beri keterangan [Jav] di belakang kata 'timpe'.

Sanusi Pane pada 1940 menyebut, kata-kata dari bahasa daerah yang memiliki ukuran umum, bisa diterima menjadi bagian dari bahasa Indonesia. Namun, bukan berarti 'amblas' akan bisa diterima sebagai serapan dari kata Jawa 'ambles'. 'Amblas' telah memiliki ukuran umum orang Indonesia sebagai 'ambles', tetapi tidak bisa diartikan sebagai 'ambles'. Dalam bahasa Jawa, amblas berarti lenyap, sedangkan 'ambles' berarti melesak ke bawah (untuk tanah).

Ketika geulis dari Sunda dimasukkan ke KBBI menjadi 'gelis' ada yang memprotesnya. Di Jawa, 'gelis' berarti segera. Geulis belum memiliki ukuran umum orang Indonesia. Berbeda halnya dengan amburadul. Mbradhul dari Jawa kalah umum dibandingkan amburadul.

Terkait

Menurut Sanusi, bahasa Indonesia pada dekade 1930-1940-an masih belum nyata bentuknya. "...akan tetapi rakjat poedjangga2, penoelis2, pengandjoer2 berdjalan kearah oekoeran jang dioendjoekkan itoe," kata Sanusi seperti dikutip Pemandangan, edisi 6 April 1940.

photo
Sanusi Pane pada 1940 menyebut, kata-kata dari bahasa daerah yang memiliki ukuran umum, bisa diterima menjadi bagian dari bahasa Indonesia. - (DOK Wikipedia)

Ukuran mana yang dia maksud? Yaitu ukuran paling umum (grootste gemeene deeler) dari kata-kata bahasa daerah yang bisa diterima oleh orang Indonesia. "Soepaya basa persatoean sesoenggoehnja djadi basa persatoean ia mesti moedah diterima oleh rakjat dan ini tjoema bisa terdjadi, kalau bahasa persatoean itoe dekat kepada bahasa daerah masing2." (Pemandangan, 6 april 1940).

Bahasa daerah di Indonesia berada dalam rumpun Austronesia. Oleh karena itu, bahasa di Indonesia itu, menurut Sanusi, jika tidak sama asalnya juga banyak persamaannya, baik gramatika maupun perkataannya. "Orang jang tjoema mengetahoei satoe bahasa Austronesia tidak akan sanggoep membangoen soenggoeh2 dalam lapangan bahasa Indonesia."

Sanusi mencoba ikut meletakkan dasar-dasar bahasa Indonesia agar bahasa Indonesia tumbuh bersama rakyat Indonesia:

"Pertoekaran pengetahoean tentang bahasa darah masing2 terdjadi sekarang poen dalam pergaoelan, dalam pers, dll. Tetapi djelas bahwa basa Indonesia akan lebih lekas madjoe, akan lebih lekas soeboer, kalau dengan sengadja dengan sadar kita teroes-meneroes mencari perasaan jang paling oemoem.

Jang bisa dan mesti kita kerdjakan seorang demi seorang ialah mentjoba mengetahoei grootste gemeene deeler dari bahasa2 Austronesia dan menoelis dan bitjara menoeroet pengetaoean itoe. Makin dekat kepada grootste gemeene deeler itoe, makin baik bahasa kita.

Dengan pengetahoean jang loeas tentang bahasa2 daerah kita, tentang paramasasteranja, semangatnja, dengan pengetahaoean tentang arah jang mesti ditempoeh dalam hal basa persatoean, kita lebih moedah mengoetip dengan tjara jang sebaik- baiknja dari bahasa asing."

Ketika pemerintah Hindia Belanda marah karena orang-orang Indonesia memunculkan bahasa persatuan bahasa Indonesia, langkah pencegahan perkembangannya pun dilakukan. Sekolah-sekolah diwajibkan menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar.

Hal ini, kata Sanusi Pane, akan menguntungkan bahasa Jawa yang dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah Jawa, termasuk sekolah swasta Taman Siswa. Ia lantas memprediksi bahasa Jawa akan menyumbang banyak kosa kata untuk bahasa Indonesia.

 
Pada 1935, di lokasi perkebunan di Deli, Sumatera, sekolah dengan pengantar bahasa Jawa lebih banyak siswanya daripada sekolah dengan pengantar bahasa Melayu.
 
 

Pada 1935, di lokasi perkebunan di Deli, Sumatera, sekolah dengan pengantar bahasa Jawa lebih banyak siswanya daripada sekolah dengan pengantar bahasa Melayu. Seperti dilaporkan De Sumatra Post mengutip laporan Deli Planters Vereeniging 1936, 27 sekolah perusahaan dengan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, hanya memiliki 1.904 siswa. Sedangkan, 32 sekolah dengan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar memiliki 3.779 siswa.

Seorang pembaca majalah Jong Java pada 1926 pernah menyampaikan keluhannya mengenai mulai banyaknya remaja Jawa yang mengabaikan bahasa Jawa, tapi mengagungkan bahasa Belanda. Ia mengingatkan agar mereka tetap mempelajari bahasa Jawa.

"Ingatlah! Saudara-saudarakoe, kita ini orang Djawa, bahasanja ndjoega Djawa. Ta'baikkah bahasanja sendiri? Hmm...heran akoe ini, kalau akoe melihat anak-anak jang beroemoek (geurt) dengan bahasa Belanda, akan tetapi bahasanja sendiri ta' pandai. Belas kasihan betoel, boekan, 'engkoe redacteur?" tulis Soeprapto, si pembaca majalah Jong Java itu.

Kaum zendeling juga memilih menerjemahkan Injil ke dalam bahasa daerah daripada bahasa Melayu untuk menyebarkan ajaran Injil di daerah-daerah. Khutbah pun disampaikan dalam bahasa daerah karena lebih menyatu dengan orang-orang di daerah itu.

Bahasa Melayu tak menyatu dengan mereka, kendati menurut zendeling dr Nicolaas Adriani, Injil berbahasa Melayu membuat bahasa Melayu hampir menjadi bahasa daerah di Ambon (De Locomotief, 18/4/1917).

 
Di Papua tak ada domba, sehingga susah bercerita tentang penggembala domba sehingga harus menggantikannya dengan babi ketika bicara dalam bahasa ibu mereka.
 
 

Maka, ketika Adriani dari Lembaga Alkitab Belanda di Poso (Nederlandsch Bijbel-genootschap te Poso) itu masuk ke Toraja, dibantu oleh zendeling dr C Kruit, dia terlebih dulu mempelajari bahasa yang dipakai sehari-hari di Toraja. Dengan mempelajari bahasa, ia meyakini akan dapat mengenali jiwa orang-orang Toraja.

Di Ngoro, Mojowarno, dekat Surabaya, penyebaran Injil pada abad ke-19 juga dilakukan dalam bahasa Jawa. Penginjil CL Coolen, saat membajak sawah di Ngoro, ia melantunkan tembang Jawa --sebagaimana halnya dilakukan oleh orang-orang Jawa, tetapi liriknya ia gubah dalam lirik doa Kristen (Dewi Sri dan Kristus, Philip van Akkeren, 1995: 83).

Di Papua, pengajaran bahasa Melayu di gereja dan di sekolah misionaris kurang mencapai hasil maksimal. Sebab, banyak kata di Injil meski sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu tak ada di bahasa ibu orang Papua.

Di Papua tak ada domba, sehingga susah bercerita tentang penggembala domba sehingga harus menggantikannya dengan babi ketika bicara dalam bahasa ibu mereka. "Jadi, jika penginjil ingin menjangkau hati masyarakat, harus berbicara menggunakan bahasa ibu," tulis Leeuwarder Courant, 4 Desember 1958.


×