Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada pemain Timnas sepak bola U-23 Yakob Sayuri (kiri) di Istora Senayan, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Jumat (26/2/2021). | ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO
27 Feb 2021, 03:15 WIB

Vaksin Mandiri Mulai Dijajaki

Vaksin gotong royong diberikan perusahaan secara gratis kepada karyawan.

JAKARTA -- Pemerintah melalui PT Bio Farma (Persero) mulai melakukan penjajakan pengadaan vaksin mandiri atau gotong royong. Jenis vaksin Covid-19 yang digunakan akan berbeda dengan vaksin program pemerintah yang sedang berjalan, yakni vaksin Coronavac buatan Sinovac.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari PT Bio Farma Bambang Heriyanto mengatakan, Bio Farma sebagai induk holding BUMN farmasi sedang melakukan pembicaraan dengan produsen vaksin asal Cina, Sinopharm, dan produsen vaksin Amerika Serikat, Moderna. Khusus vaksin Sinopharm, kata Bambang, kerja sama akan dilakukan oleh anak usaha holding BUMN farmasi, yaitu PT Kimia Farma.

"Bio Farma mulai menjajaki dan melakukan pembicaraan suplai vaksin dengan prinsip harus berbeda dengan vaksin program pemerintah," kata Bambang saat jumpa pers virtual bertajuk "Permenkes tentang Vaksin Gotong Royong", Jumat (26/2).

Jenis vaksin Covid-19 gotong royong juga harus mendapatkan persetujuan izin penggunaan darurat atau penerbitan nomor izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Selain itu, harus sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Terkait

"Vaksin gotong rotong juga harus berkoordinasi dengan Kemenkes untuk menyiapkan agar seluruh program vaksinasi bisa berjalan lancar," kata Bambang.

Bambang menyampaikan, Bio Farma juga sedang fokus melakukan produksi dan distribusi program vaksinasi lansia dan petugas pelayanan publik sebanyak 7,2 juta dosis. Menurut Bambang, program vaksinasi gotong royong tidak akan mengganggu jalannya program vaksinasi pemerintah yang sedang berjalan.

"Secara kapasitas akan kami siapkan kerja sama dengan berbagai pihak dan tidak akan menyebabkan distribusi vaksin pemerintah terganggu," kata dia.

Program vaksinasi gotong royong yang digagas swasta telah mendapat restu dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19. Permenkes tersebut ditandatangani Menkes pada Rabu (24/2) dan diundangkan pada Kamis (26/2).

Dalam beleid tersebut dijelaskan, vaksinasi gotong royong adalah pelaksanaan vaksinasi kepada karyawan/karyawati, keluarga dan individu lain terkait dalam keluarga yang pendanaannya ditanggung atau dibebankan pada badan hukum/badan usaha. Sehingga, penerima vaksin dalam program vaksinasi gotong royong tidak dipungut biaya alias gratis.

photo
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada pengasuh pondok pesantren (ponpes) Lirboyo di Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (26/2/2021). Sebanyak 49 orang pengasuh ponpes Lirboyo mendapatkan suntikan vaksin sebagai upaya menanggulangi penyebaran COVID-19 di lingkungan pesantren. - (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)

Hal tersebut sebelumnya juga telah disampaikan Menteri BUMN Erick Thohir. Erick yang juga merupakan Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional KPCPEN pada Kamis (25/2) mengatakan, pemerintah sedang menyiapkan program vaksin gotong royong bagi swasta yang ingin mengadakan dan membagikan secara gratis kepada para pekerjanya. Erick menilai, program tersebut akan membantu percepatan program vaksinasi.

"(Vaksin gotong royong) ini gratis dengan melibatkan swasta. Mereka (perusahaan swasta) beli dari pemerintah atau BUMN dan dibagikan gratis untuk para pekerja," ucap Erick.

Koordinator Project Management Office (PMO) Komunikasi Publik Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Arya Sinulingga menegaskan, pemerintah akan mengatur secara detail soal pelaksanaan vaksin gotong royong agar tidak berbenturan dengan program vaksinasi pemerintah.

"Ini upaya paralel yang saling melengkapi dan menguatkan. Jadi program vaksinasi pemerintah tetap jalan, dan ini tambahan baru dari kawan-kawan pengusaha yang ingin memberikan gratis ke pekerjanya," kata Arya.

Arya mengatakan pemerintah tetap melakukan program vaksinasi sesuai rencana dan prioritas. Kementerian BUMN, lanjut Arya, juga akan memastikan dan menjaga seluruh proses vaksin gotong royong berjalan lancar.

Geliat daerah

Sementara itu, vaksinasi yang digalakkan pemerintah pusat hingga daerah terus berjalan.  Kemarin, Sumatra Barat mengumumkan vaksinasi tahap pertama sudah mencapai 94,83 persen. Dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar, 7 daerah diantaranya sudah mencapai target vaksinasi 100 persen.

"Alhamdulillah cakupan vaksinasi kita saat ini sudah mencapai 94,83 persen. Bahkan ada kabupaten kota yang nilainya diatas 100 persen," kata Gubernur Sumbar, Mahyeldi, Jumat (26/2).

Mahyeldi berharap daerah yang belum merampungkan 100 persen vaksinasi agar segera menyelesaikannya. Supaya pemerintah dapat fokus kepada vaksinasi tahap kedua, yakni untuk ASN, TNI, Polri dan tenaga pelayanan publik lainnya.

Di Kota Bandung, Jawa Barat, sebanyak 36 orang lanjut usia menjalani vaksinasi perdana di RS Al-Islam, Jumat (26/2). Kota Bandung menargetkan total 300 ribu lansia yang akan divaksin. "Hari ini adalah pelaksanaan perdana untuk vaksinasi lansia di Kota Bandung, salah satunya di RS Al Islam," ujar Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Bandung, Rosye Arosdiani, kemarin. 

photo
Sejumlah warga lanjut usia (lansia) menunggu giliran untuk mengikuti tahap verifikasi dan pemeriksaan kesehatan sebelum disuntik vaksin Covid-19 di Rumah Sakit Al Islam (RSAI), Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Jumat (26/2/2021). - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Sementara, Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mengatakan pemerintah akan terus membenahi pelaksanaan vaksinasi Covid-19 agar berjalan lebih cepat. Percepatan dilakukan dengan memperbaiki teknis vaksinasi hingga menambah jumlah ketersediaan vaksin.

Vaksinasi telah memasuki tahap II yang menyasar pekerja publik. Sasaran penerima vaksin pun terus diperluas. Setelah pedagang, pemuka agama, guru, dan wartawan, vaksinasi kini menyasar kalangan atlet. Vaksinasi massal bagi atlet dan ofisial digelar di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (26/2), dengan total target penerima vaksin sebanyak 5.000 orang pada tahap awal. 

Kiai Ma'ruf mengatakan, Presiden Joko Widodo menginginkan ada sebanyak satu juta orang yang disuntik vaksin setiap hari. Saat ini, ungkap dia, capaian vaksinasi baru sekitar 80 ribu-90 ribu dosis per hari. "Target yang ingin dicapai itu sesuai dengan permintaan Presiden, itu satu juta satu hari," kata Kiai Ma'ruf dalam keterangannya melalui video yang disebarkan Setwapres, kemarin.

Wapres meminta agar masalah-masalah teknis yang menghambat pelaksanaan vaksinasi dibenahi, antara lain, mengenai pendataan penerima vaksin dan distribusi. Hal yang tak kalah penting adalah ketersediaan vaksin. Wapres memastikan pemerintah akan terus menambah stok vaksin.

Selain mendatangkan vaksin impor dalam bentuk jadi, Indonesia juga memproduksi vaksin dengan bahan baku dari produsen vaksin. "Ini sudah mulai dan di samping itu ada tambahan. Selain Sinovac, akan ada vaksin Astra Zeneca dan merek-merek lain yang sedang diusahakan," katanya.

Kiai Ma'ruf mengatakan, jumlah vaksinator serta tempat vaksinasi juga terus ditambah. Pemerintah melibatkan TNI-Polri dalam menyediakan vaksinator dan tempat vaksinasi. Selain itu, vaksinasi melibatkan rumah sakit swasta dan fasilitas kesehatan lainnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per Jumat (26/2), sebanyak 1,58 juta penduduk Indonesia telah disuntik vaksin dosis pertama. Adapun yang telah menjalani penyuntikan dosis kedua sebanyak 865 ribu orang.

Kemarin, Kiai Ma'ruf meninjau langsung pelaksaan vaksinasi bagi atlet. Wapres mengatakan, atlet merupakan salah satu kelompok prioritas penerima vaksin karena mereka tetap harus mengikuti kegiatan keolahragaan di tengah pandemi Covid-10.

"Vaksinasi para atlet ini penting, terutama mereka yang akan mengikuti beberapa event baik domestik maupun global," katanya. Jangan sampai, kata Ma'ruf, saat pelaksanaan dimulai justru para atlet terpapar virus Covid-19.

Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali mengatakan, pihaknya telah meminta lima ribu dosis vaksin Covid-19 untuk atlet nasional pada tahap awal. Vaksinasi tahap awal ini diutamakan bagi atlet yang sedang berada di Jakarta untuk menjalani persiapan mengikuti kompetisi.

“Kalau masih ada kekurangan, maka tentu saya akan melapor ke Menkes dan diperluas lagi sampai mereka yang akan ikut PON XX di Papua,” kata Zainudin.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, priortias vaksinasi untuk atlet adalah kebijakan yang tepat. Muhadjir berharap vaksinasi atlet akan kembali mengaktifkan kegiatan-kegiatan olahraga yang terhenti selama pandemi. "Kalau atlet-atletnya sudah divaksin mudah-mudahan semakin longgar kegiatan olahraga," harapnya.

Atlet penerima vaksin Covid-19 tahap awal merupakan mereka yang dijadwalkan mengikuti beberapa kejuaraan dalam waktu dekat, seperti All England, turnamen pramusim sepak bola Piala Menpora, Olimpiade Tokyo, dan pelatnas SEA Games Vietnam. Vaksinasi telah dilakukan terhadap atlet dari 40 cabang olahraga.

Para atlet mengajak seluruh masyarakat agar tak perlu takut disuntik vaksin Covid-19. Sprinter Lalu Muhammad Zohri yang menjadi salah satu atlet penerima vaksin, mengaku tak pernah ragu untuk divaksin. Efek penyuntikkan yang dirasakannya pun hanya pegal-pegal. “Setelah vaksin merasa pegal sedikit, cuma tidak terlalu sakit. Tapi biasa saja, tidak takut," kata Zohri di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta.

Hal senada disampaikan pebulu tangkis ganda putra Indonesia Fajar Alfian. Ia mengaku tak merasakan apa-apa setelah menerima vaksin Covid-19.  “Buat masyarakat Indonesia jangan takut divaksin karena vaksin ini salah satu cara melawan Covid-19," kata dia.

Perenang I Gede Siman Sudartawa bahkan mengaku tak merasa khawatir saat disuntik. Setelah menunggu selama 30 menit pun, ia tak merasakan dampak apa pun.

Sumber : Antara


×