Hikmah Republika Hari ini | Republika
26 Feb 2021, 03:30 WIB

Mengetuk Pintu Keajaiban

Jika kita ingin mengetuk pintu keajaiban, maka harus senang dan segera melakukan amal kebaikan.

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Dikisahkan, ketika umur Nabi Zakaria AS semakin menua, ia belum juga dikaruniai sorang anak. Badan mulai lemah, tulang punggung terasa rapuh, penglihatan mulai kabur dan rambut pun memutih dihiasi uban. 

Sementara itu, istrinya juga mandul sejak lama, sehingga tidak bisa mengandung dan melahirkan. Tentu saja kenyataan ini sangat merisaukan hatinya. Lalu, ia pun bermunajat, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.” (QS al-Anbiya[21]:89).

Didasari ketulusan dan kerendahan hati, ia ungkapkan kegundahan yang berkecamuk kepada Allah SWT. Hanya satu pengharapan, kiranya dianugerahi buah hati sebagai penerus keturunan dan risalah dakwah. Ia menyadari, secara logika tidak mungkin lagi mendapat keturunan.

Terkait

Namun, bukan berarti mustahil bagi Allah SWT mewujudkannya. Sebab, pintu langit terbuka bagi setiap hamba yang tak putus asa dari rahmat-Nya (QS Yusuf [12]: 87). 

Lalu, Allah SWT memenuhi permohonannya. “Maka, Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan, mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS al-Anbiya [21]: 90).  

Dalam kajian “Tafsir Shofwatut Tafasir”, Prof KH Didin Hafidhuddin, menegaskan, tiga kebiasaan baik Nabi Zakaria AS yang mendatangkan pertolongan Allah SWT; yakni Pertama, kanuu yusaari’uuna fil al-khairaat (sungguh, mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan).

Artinya, jika kita ingin mengetuk pintu keajaiban, maka harus senang dan segera melakukan amal kebaikan. Jangan menunda kebaikan ketika sudah terbentang di hadapan. Sekecil apa pun kebaikan akan bernilai di hadapan Allah SWT. (HR Abu Daud).

Kedua, yad’uunanaa raghaban wa rahaban (mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas). Artinya, bagi siapa saja yang hendak mengharap keajaiban, mesti berdoa (beribadah) dengan posisi di antara dua sikap, yakni harap dan cemas. Berharap mendapat rahmat-Nya, dan cemas jika tidak berkenan lalu dijatuhi hukuman (QS al-A’raf [7]:56).

Ketiga, kanuu lanaa khaasyi’iin (mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami). Artinya, untuk mengetuk pintu keajaiban harus dengan hati yang khusyuk (penuh kesadaran diri) sebagai hamba yang lemah yang butuh pertolongan. Tulus menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan tekun (itqon)  dan mengerahkan segala potensi dan kompetensi diri. 

Kisah di atas memberikan pelajaran tentang makna sikap optimistis dan pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan. Bagi orang beriman, sebesar apa pun masalah tidak ada yang melebihi kebesaran Allah SWT.

Boleh jadi, sesuatu tidak mungkin dalam pandangan manusia, tetapi mudah di hadapan-Nya. Jika Allah menghendaki, Dia cukup berkata “kun fa yakuun”, jadilah, maka jadilah ia. (QS al-Baqarah [2]: 117).    

Akhirnya, keajaiban bisa diraih oleh para pejuang dakwah yang selalu berhadapan dengan rintangan.  Jika telah menempuh jalan darat (profesionalitas), perkuatlah lewat jalan langit (spiritualitas). Itulah keajaiban dan keberkahan bagi orang yang konsisten mendaki jalan-jalan kemuliaan.

Allahu a’lam bish-shawab.


×