Foto udara banjir di Kampung Kampek, Telukjambe Barat, Karawang, Jawa Barat, Selasa (23/2/2021). | Muhamad Ibnu Chazar/ANTARA FOTO
25 Feb 2021, 03:05 WIB

Peringatan Cuaca Ekstrem Meluas

Jokowi perintahkan perbaikan Tanggul Citarum.

JAKARTA -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah di Indonesia. Peringatan tersebut memiliki cakupan lebih luas setelah sebelumnya terfokus di wilayah Jabodetabek.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, cuaca ekstrem diprediksi akan melanda kawasan pesisir pantai selatan DIY. "Cuaca ekstrem yang akan melanda diprediksi terjadi selama lima hari, yaitu pada 24-28 Februari 2021," kata Dwikorita di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Selasa (23/2).

Ia mengatakan, cuaca ekstrem tersebut berupa angin kencang yang disebabkan adanya sirkulasi siklonik. Sirkulasi siklonik ini berasal dari utara Australia yang terus bergerak dan sudah mencapai selatan Nusa Tenggara Barat.

Pihaknya memprediksi sirkulasi siklonik ini akan mencapai daerah selatan DIY pada 27 Februari nanti. Tepatnya, sirkulasi tersebut akan tiba di pesisir pantai selatan DIY yang berada di Selatan Kabupaten Gunungkidul.

Terkait

Dwikorita menyebutkan, efek dari sirkulasi tersebut adalah gelombang tinggi, angin kencang, dan curah hujan yang tinggi di wilayah pesisir pantai selatan DIY. "Angin kencang ini juga bisa masuk sampai ke Jalan Daendels," ujarnya. Walaupun begitu, ia menjelaskan, sirkulasi tersebut bukan badai siklon, melainkan semacam bibit yang tidak berkembang dan tidak mengakibatkan badai siklon.

Meski begitu, ia mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai efek yang ditimbulkan dari sirkulasi itu. Sebab, sirkulasi itu tetap mengakibatkan peningkatan curah hujan, angin kencang, dan gelombang tinggi. "Mulai tanggal 24 sudah mulai diwaspadai segera untuk disampaikan peringatan dini. Untuk nelayan perlu hati-hati,” ujar Dwikorita.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengatakan, hujan deras disertai angin kencang di Mataram diprediksi masih terjadi hingga lima hari ke depan. "Berdasarkan informasi dari BMKG, secara umum wilayah di Nusa Tenggara Barat diprediksi masih terjadi hujan deras disertai angin kencang hingga lima hari ke depan," kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram Mahfuddin Noor di Mataram, Rabu.

Pernyataan itu disampaikan berkaitan dengan terjadinya hujan deras disertai angin yang berlangsung lama di Kota Mataram dalam tiga hari terakhir. Padahal, sepekan sebelumnya, cuaca sudah mulai bersahabat.

photo
Petugas kebersihan berdiri dengan latar belakang dekorasi visual Lawang Sewu Semarang saat akan membersihkan ruang tunggu utama yang terendam banjir di Stasiun Tawang, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (24/2/2021). Banjir akibat curah hujan tinggi pada Selasa (23/2) merendam stasiun tersebut hingga Rabu (24/2) pukul 14:45 WIB dengan ketinggian mencapai 35 cm pada ruang tunggu utama.  - (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

Mahfuddin menegaskan, wilayah NTB termasuk Kota Mataram masih dalam posisi waspada siaga bencana alam, seperti angin puting beliung, banjir, dan longsor. Di Mataram, hujan deras yang lama dan angin kencang pada beberapa hari ini berdampak pada tiga pohon tumbang di tiga lokasi berbeda.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan sejumlah gedung gelanggang olahraga (GOR) sebagai lokasi pengungsian bagi warga yang terdampak saat banjir terjadi. Seluruh GOR yang disediakan itu tersebar di lima kota administrasi Jakarta.

"Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi DKI Jakarta ikut berpartisipasi dalam penanganan banjir yang melanda Provinsi DKI Jakarta dengan mempersiapkan fasilitas-fasilitas yang bisa dipergunakan sebagai lokasi pengungsian bagi masyarakat yang terdampak oleh banjir," kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam unggahannya di Instagram, Rabu (24/2).

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui BPBD Kota Bogor, dinas terkait, dan pemerintah wilayah juga melakukan persiapan antisipasi bencana yang terkait dengan curah hujan ekstrem. Persiapan itu mencakup simulasi evakuasi, penambahan natura, dan sosialisasi kepada warga.

photo
Banjir DKI Dalam Angka - (Republika)

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan, persiapan tersebut sekaligus persiapan Kota Bogor dalam menghadapi Bendung Katulampa ketika mencapai kondisi terburuk, yakni Siaga I.

“Kesiapan dari tim BPBD, dinas, dan wilayah ini mengantisipasi curah hujan yang ekstrem, berdasarkan prediksi dari BMKG, juga kesiapan sistem koordinasi. Jadi, ketika Katulampa Siaga I, sistem sudah bergerak,” ujar Bima Arya ketika ditemui di kantor BPBD Kota Bogor, Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal, Selasa (23/2).

Bima Arya menyebutkan, dalam tahap siaga bencana, BPBD Kota Bogor telah melakukan simulasi proses evakuasi. Ada beberapa titik di Kota Bogor yang menjadi langganan banjir. Jika dalam kemungkinan terburuk air kembali meluap di titik-titik tersebut, mekanisme penyelamatan sudah disimulasikan.

Selain itu, Bima Arya juga turut memeriksa kesiapan natura bagi para pengungsi. “Saya minta di pool dan saya minta ditambah di dinas sosial (dinsos) aturannya,” tuturnya.

Masih terendam

Hingga kemarin. BPBD Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mencatat 10 kecamatan di daerah itu masih terendam banjir dengan ketinggian muka air 20-100 sentimeter meski sebagian wilayah sudah mulai surut.

"Hingga hari ini terdata 84 titik banjir di 30 desa yang berada di 10 kecamatan dengan ketinggian air maksimal 1 meter berada di Kecamatan Muaragembong," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi Henri Lincoln di Cikarang, Rabu (24/2).

Dari 10 kecamatan itu, kata dia, sebanyak 13.872 keluarga menjadi korban banjir. Sebagian besar warga, terutama di wilayah yang sudah mulai surut, telah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan sisa-sisa banjir. 

Pemerintah Kabupaten Bekasi sejauh ini terus melakukan pemetaan dampak banjir, seperti pendataan rumah rusak, area persawahan, hingga sarana dan prasarana umum yang rusak karena musibah banjir. Pemerintah daerah juga telah melakukan evakuasi terhadap warga yang rumahnya terendam banjir, selain juga menyiagakan posko pengungsian di 55 titik, 12 dapur umum, serta 6 posko kesehatan.

Sementara itu, PT KAI telah menyelesaikan perbaikan jalur kereta api (KA) yang sempat terdampak banjir dan tergenang. Mulai kemarin, seluruh keberangkatan KA dari area Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta kembali berjalan normal.

Menurut Kepala Humas Daop 1 Jakarta Eva Chairunisa, secara total terdapat 15 keberangkatan dari Daop 1 Jakarta. Delapan KA keberangkatan dari Stasiun Gambir dan tujuh KA keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen. "Seluruh KA tersebut akan berjalan normal pascaperbaikan jalur yang sempat ditutup," kata Eva dalam siaran pers, Rabu (24/2). 

Perbaiki Tanggul Citarum 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Rabu (24/2), meninjau jebolnya tanggul Sungai Citarum, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, yang menyebabkan banjir di sembilan desa. Tanggul Sungai Citarum ini jebol pada 20 Februari lalu setelah hujan deras mengguyur.

“Ada tiga titik yang mengalami jebol tanggul seperti ini. Tetapi dua hari yang lalu, sudah mulai dikerjakan,” ucap Jokowi setelah melakukan peninjauan, Rabu (24/2). Ia pun menargetkan agar perbaikan seluruh tanggul yang jebol dapat selesai dikerjakan dalam dua hari mendatang, sehingga dapat kembali berfungsi normal.

photo
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Menteri PUPR Basoeki Hadimoeljono (kanan), Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kedua kanan) dan Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja (ketiga) meninjau lokasi jebolnya tanggul Sungai Citarum di Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (24/2/2021).  ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj. - (ANTARA FOTO)

“Tadi saya memberikan target maksimal dua hari lagi sudah harus selesai tanggulnya. Sehingga semuanya berfungsi normal kembali,” ucapnya. Sedangkan bagi masyarakat yang terdampak banjir, Jokowi berjanji bahwa pemerintah akan segera menyelesaikan perbaikannya. “Tadi sudah kita di sini ada tadi 30 juga rumahnya akan segera diselesaikan dalam waktu yang secepat-cepatnya,” katanya.

Seperti diketahui, tanggul Sungai Citarum yang jebol menyebabkan terjadinya banjir di Kabupaten Bekasi. Akibatnya, ribuan warga di sembilan desa pun terdampak bencana ini.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dalam tinjauannya menerangkan, kapasitas debit maksimal tanggul Citarum seharusnya hanya mampu menampung 800 meter kubik air.

Namun, ketika hujan tiba sejak Jumat (19/2) lalu, kapasitas debit air yang melewati tanggul mencapai 1.300 meter kubik. “Citarum meluap luar biasa. Kapasitasnya, yaitu 800 meter kubik. Kemarin sampai 1.300 meter kubik. Jadi, melebihi tinggi akhirnya menjebol beberapa titik,” kata Ridwan Kamil, Selasa (23/2).

photo
Presiden Joko Widodo berjalan di atas tanggul darurat saat meninjau lokasi jebolnya tanggul Sungai Citarum di Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (24/2/2021). Akibat jebolnya tanggul Sungai Citarum tersebut menyebabkan banjir di 134 titik lokasi pada 19 kecamatan di Kabupaten Bekasi dan sebanyak 27.928 kepala keluarga terdampak banjir. - (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Data Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi pada Senin (22/2) menunjukkan, tinggi muka air di Kecamatan Pebayuran sekitar 80-250 sentimeter (cm). Sedangkan di Kecamatan Kedungwaringin, masih 150 cm pada Selasa (23/2) pagi.

Bantuan logistik untuk masyarakat terdampak banjir juga didistribusikan, baik dari BPBD Kabupaten, BPBD Provinsi, maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sementara itu, warga yang rumahnya rusak berat ataupun roboh akibat banjir dapat mengikuti program perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu). “Kita akan perbaiki supaya air tidak mengalir lagi ke titik-titik rumah yang lain,” ucap dia. Pemerintah Provinsi Jabar menganggarkan Rp 560 miliar untuk memperbaiki 31.500 unit rumah rutilahu sepanjang 2021 di 27 daerah.

Selain itu, Kang Emil menjelaskan, pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Jabar terus berjalan. "Penyodetan Sungai Cisangkuy sudah 100 persen. Yang tadinya air dari Cisangkuy ke Citarum melewati permukiman dan bikin banjir, hari ini air dari Cisangkuy sudah dibelokkan langsung ke Citarum tanpa melewati permukiman. Itu contoh program penanganan banjir yang sudah 100 persen," tuturnya.

Selain Sodetan Cisangkuy, sejumlah bendungan untuk mengendalikan banjir di beberapa daerah, seperti Bendungan Sadawarna, sedang berjalan.

 


×