Dua petugas menyusun kotak berisi vaksin COVID-19 di ruang pendingin instalasi farmasi sesaat setelah tiba di Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (24/2/2021). | ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang
25 Feb 2021, 03:10 WIB

Stok Vaksin Belum Cukup

Inggris mengutamakan suntikan pertama daripada menjaga stok demi suntikan kedua.

JAKARTA — Stok vaksin Covid-19 yang tersedia di Indonesia saat ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pemerintah saat ini terus berupaya untuk mendapatkan jumlah dosis yang dibutuhkan untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).

Indonesia saat ini memegang 3 juta dosis vaksin jadi dari Sinovac dan 25 juta bahan baku (bulk) vaksin Sinovac yang kini masih dalam proses pengolahan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) penghasil vaksin Bio Farma. Tujuh juta di antaranya kini telah siap dipakai dan segera didistribusikan ke daerah.

“Kami sudah memesan 329.504.000 dosis. Kemudian yang sudah datang 3 juta dosis vaksin Sinovac dari Cina pada Desember 2020 lalu, kemudian 25 juta bahan baku (bulk) vaksin Sinovac dari Cina juga sudah tiba,” ujar Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi saat dihubungi Republika, Rabu (24/2).

Berdasarkan keterangan tersebut, jumlah dosis vaksin di Indonesia saat ini sebanyak 28 juta dosis dengan asumsi semua bulk vaksin Sinovac selesai diolah. Setelah 7 juta vaksin Sinovac didistribusikan, kata Nadia, pemerintah akan kembali mendistribusikan 11 juta dosis Sinovac dari bulk yang telah diolah pada pekan kedua Maret 2021.

Terkait

Sesuai peta jalan, sekitar 1,45 juta tenaga kesehatan ditargetkan menerima vaksin sampai April 2021. Sedangkan, masyarakat lanjut usia yang menerima vaksin ditargetkan sekitar 21,5 juta orang, kemudian petugas pelayanan publik sebanyak 16,9 juta orang. Total, dari sasaran ini, pemerintah butuh setidaknya kurang lebih 80 juta dosis karena satu orang butuh dua dosis.

Pada Ahad (21/2) lalu, Nadia mengatakan, persediaan vaksin Covid-19 di Tanah Air kini terus berkurang. Saat ini stok vaksin sebanyak 20 persen yang beredar di seluruh wilayah Indonesia yang didistribusikan di 13 ribu fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Bahkan, stok di beberapa fasyankes menipis karena menjaga untuk vaksinasi kedua.

Kendati demikian, Nadia mengatakan, Indonesia akan mendapatkan empat juta dosis vaksin Covax/Gavi. Vaksin Covax yang diberikan gratis dari organisasi kesehatan dunia PBB (WHO) ini akan tiba di Indonesia pada Maret 2021. “Namun, belum diketahui jadwal pasti tanggal kedatangannya,” ujar Nadia.

Kemudian, dia melanjutkan, Indonesia kembali mendapatkan vaksin Covid-19 dari Astra Zeneca sebanyak 50 juta dosis pada Juni 2021. Indonesia juga sedang melakukan lobi-lobi pembelian vaksin Covid-19 produksi Pfizer sebanyak 50 juta dosis yang diperkirakan tiba pada kuartal ketiga 2021 hingga kuartal pertama 2022. “Namun, (vaksin Pfizer) ini masih negosiasi,” katanya.

Di sisi lain, laju vaksinasi Covid-19 masih terbilang lambat. Sampai hari ini, suntikan vaksin dosis pertama baru diberikan terhadap 1.363.138 juta orang yang masuk dalam sasaran prioritas tenaga kesehatan. Angka tersebut masih di bawah target pemerintah untuk bisa memvaksin 1,47 juta tenaga kesehatan sebelum akhir Februari 2021 ini.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan, belum seluruhnya nakes divaksin disebabkan banyak faktor. Di antaranya, mekanisme vaksinasi yang terhambat mulai dari registrasi, pelaksanaan, hingga sosialisasi yang perlu ditingkatkan. “Untuk pihak penyelenggara faskes mohon untuk dapat menjamin setiap nakesnya telah tervaksinasi melalui pencatatan dan vaksinasi yang terjadwal,” kata Wiku.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban memuji langkah vaksinasi yang dilakukan di Inggris. Pemerintah Inggris memilih mengutamakan semua vaksin untuk suntikan pertama agar lebih banyak masyarakat terlindungi.

Vaksinasi Covid-19 yang umum digunakan saat ini perlu dua kali suntikan dengan jeda dua pekan per suntikan. Namun, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengutamakan stok vaksin untuk suntikan pertama daripada menjaga stok demi suntikan pertama-kedua. Pembuat vaksin yang digunakan Inggris, Pfizer dan AstraZeneca, diketahui sama-sama mengalami masalah pasokan di Eropa.

“Menurut saya, Boris Johnson pintar. Dia coba memperluas persediaan vaksin yang terbatas dengan menunda suntikan kedua hingga 12 pekan. Dasarnya adalah studi yang mendapati penerima vaksin itu akan memiliki kekebalan bagus hanya dengan satu dosis. Ini menjanjikan,” kata Zubairi di akun Twitter resminya.

Zubairi menilai keputusan Boris Johnson bukan dilandasi keputusan asal-asalan. Ia menyimak hasil dua penelitan terpisah yang diterbitkan di Inggris dan Skotlandia. Keduanya menunjukkan vaksin Covid-19 yang dibuat Pfizer cenderung efektif dalam mengurangi penularan penyakit dan rawat inap mulai dari dosis pertama.

Zubairi mengungkapkan, data penelitian di Inggris mendapati bahwa Pfizer dapat mengurangi risiko tertular Covid-19 hingga 70 persen setelah satu dosis. “Kemudian, angka itu meningkat menjadi 85 persen setelah dosis kedua,” ujar Zubairi.


×