Warga berjalan melintasi banjir yang merendam kawasan Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Jumat (19/2). Banjir yang terjadi akibat luapan Kali Sunter tersebut menggenangi sebanyak lima Rukun tetangga diantaranya RT 01 hingga RT 05 yang bread di RW 04 dengan | Republika/Thoudy Badai

Kabar Utama

DKI Masih Siaga Banjir

Tujuh orang meninggal akibat banjir di Jakarta dan Bekasi.

JAKARTA -- Banjir yang melanda berbagai titik di DKI Jakarta sejak Sabtu (20/2) dini hari mulai surut pada Ahad (21/2). Kendati demikian, Pemprov DKI masih terus bersiaga menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi hujan sepekan mendatang.

"Insya Allah kita siap. Dan saya juga mengimbau ke seluruh masyarakat untuk waspada seperti informasi yang disampaikan BMKG," kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan seusai memantau Pintu Air Manggarai, Jakarta Pusat, Ahad (21/2).

Dia menyampaikan, kesiagaan serupa juga dilakukan seturut peringatan BMKG terkait curah hujan akhir pekan ini. "Alhamdulillah, antisipasi itu sudah dilakukan dari kemarin. Atas izin Allah, satu hari kering," kata Anies.

photo
Banjir DKI Dalam Angka - (Republika)

Dia menjelaskan, antisipasi yang sudah dilakukan itu berupa pendataan atau pemetaan RT dan RW yang berisiko banjir. Dengan demikian, ketika muncul genangan, langsung disedot oleh petugas. 

"Jadi, insya Allah ke depan kita terus pertahankan tiga prinsip. Pertama, siaga; kedua, tanggap; ketiga, galang. Tiga ini kita galakkan terus," ujar mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu.

Hujan yang mengguyur DKI Jakarta dan sekitarnya sejak Sabtu (20/2) dini hari menyebabkan genangan air dan banjir di sejumlah titik. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat, sedikitnya 200 rukun tetangga (RT) terendam air yang tingginya berkisar dari 40 cm hingga 180 cm.

Daerah yang paling banyak terendam adalah Jakarta Timur (143 RT) disusul Jakarta Selatan (44 RT). Banjir tersebut memaksa 379 kepala keluarga dengan total 1.380 jiwa mengungsi. 

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Sambodo Purnomo menyebut, sekitar 40 ruas jalan di wilayah Jakarta terendam. Beberapa ruas jalan di antaranya tidak dapat dilewati kendaraan roda dua karena terendam air cukup parah. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga melaporkan sebanyak 397 gardu terdampak banjir di Jakarta.

Gubernur DKI menambahkan, banjir yang menerjang Jakarta juga menelan lima korban jiwa. "Kita berdukacita bahwa ada korban meninggal. Jumlahnya lima orang dan empat dari lima orang ini adalah anak-anak usia tujuh tahun, 11 tahun, 13 tahun," kata Anies, kemarin. 

Anies menjelaskan, anak-anak itu meninggal saat bermain air ketika banjir terjadi. Sebagian terseret arus, ada pula yang terpeleset. "Tegur dan ajak untuk berhenti karena bermain-main di tempat seperti ini sering berisiko, ada lubang, ada arus yang tidak terduga. Akhirnya terjadilah peristiwa yang tidak kita inginkan," ujar Anies.

photo
Suasana Jalan Warung Buncit Raya yang terendam banjir di Jakarta, Sabtu (20/2). Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan banjir di sejumlah wilayah Jakarta serta menyebabkan sebagian ruas jalan tidak dapat dilewati kendaraan. - (Republika/Putra M. Akbar)

Hingga Ahad, Anies menyatakan, masih terdapat 17 RW yang tergenang dari total 113 RW yang terdampak pada Sabtu (20/2). Adapun lokasi pengungsian tersisa 10 dari 44 lokasi sehari sebelumnya.

Sejak Ahad pagi, permukaan Kali Ciliwung, Kali Krukut, Kali Sunter, dan Kali Pesanggrahan juga telah kembali ke posisi normal. Kendati demikian, dia melanjutkan, kiriman air masih datang dari wilayah Tangerang melalui Kali Angke. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pemprov DKI Jakarta (dkijakarta)

BMKG sebelumnya mengimbau warga DKI Jakarta tetap waspada terhadap potensi banjir akibat hujan lebat yang terjadi. Sebab, BMKG memprediksi hujan lebat masih berpotensi terjadi di seluruh wilayah Ibu Kota hingga sepekan ke depan atau sampai 25 Februari 2021. 

Sementara pada Ahad (21/2) intensitas hujan cenderung melemah menjadi intensitas rendah hingga 22 Februari. “Dan akan meningkat kembali menjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi pada 23 sampai dengan 24 Februari," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. "Umumnya kejadian hujan terjadi malam hingga dini hari dan berlanjut sampai pagi hari. Ini merupakan waktu-waktu yang kritis dan perlu diwaspadai."

photo
Kendaraan menerobos banjir di Jalan Warung Buncit Raya, Jakarta, Sabtu (20/2).  - (Republika/Putra M. Akbar)

Jawa Barat

Banjir juga melanda sejumlah daerah di Jawa Barat sepanjang akhir pekan lalu. Di Karawang, misalnya, tim SAR gabungan harus mengevakuasi 360 warga terdampak banjir sejak Sabtu (20/2). Banjir tersebut terjadi di Kecamatan Teluk Jambe Barat dan Kecamatan Teluk Jambe Timur. 

Tanggul jebol juga memicu banjir di beberapa desa di wilayah Kabupaten Bekasi pada Ahad (21/2) pukul 01.00 WIB. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan, banjir mengakibatkan lima unit rumah hanyut. Petugas BPBD Kabupaten Bekasi melaporkan tinggi muka air antara 100 hingga 250 cm. 

"Warga terdampak mencapai 9.331 KK atau 28.329 jiwa, sedangkan 1.075 KK atau 4.184 jiwa mengungsi," katanya. Banjir akibat meluapnya Kali Rawalumbu juga merenggut nyawa dua anak di Rawalumbu dan Kranji, Kota Bekasi. 

BPBD Kabupaten Bogor juga mencatat lima kejadian banjir dan tujuh tanah longsor di 16 kecamatan wilayah tersebut pada Sabtu (20/2) dan Ahad (21/2).

 

photo

Pengendara motor menggunakan jasa gerobak untuk melintasi banjir yang merendam Jalan Raya Teuku Umar, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Sabtu (20/2).  - (ANTARA FOTO/Suwandy)

 

Waduk Hingga Curah Hujan

Terjadinya banjir besar di DKI Jakarta kembali memunculkan pertanyaan soal penyebabnya. Pihak-pihak terkait punya pandangan masing-masing soal ini.

Menteri Sosial Tri Rismaharini menyatakan, permasalahan banjir sebenarnya bisa diminimalisasi. Dia mengatakan, perlu ada tahapan intervensi yang harus dilakukan agar banjir tersebut dapat dikurangi.

Politikus PDIP ini menjelaskan, salah satunya adalah aliran sungai tidak boleh diganggu sehingga air bisa diantarkan dari hulu hingga hilir tanpa hambatan. Dia melanjutkan, sampah harus dipisahkan dan drainase kota juga harus bersih.

"Karena sampah bercampur antara plastik dan limbah lainnya, maka terjadi endapan yang tinggi di sungai," kata Risma dalam keterangan saat menanam dan melepaskan bibit mujair di Waduk Cincin, Ahad (21/2).

Risma menjelaskan, setiap tahun permukaan air laut semakin meningkat, menyusul pemanasan global yang mengakibatkan mencairnya kutub utara dan selatan. Karena itu, menurut dia, perlu dibuatkan tanggul dan pompa di pintu-pintu air.

"Nggak bisa kita hanya mengandalkan resapan karena kapasitasnya sudah tidak memadai, dengan curah hujan yang semakin tahun semakin tinggi," katanya.

Mantan wali kota Surabaya itu juga melihat bahwa Waduk Cincin Jakarta ini bisa dikelola dengan baik maka bisa menjadi salah satu alat untuk pengaturan air. Sayangnya, dia menilai, pemerintah setempat belum mengelolanya secara maksimal.

Risma percaya, banjir di suatu daerah bisa diminimalisasi asalkan seluruh pihak mau bekerja sama. Bukan hanya menteri, melainkan pemerintah daerahnya juga demikian. "Dan itu saya percaya bisa, karena saya juga dulu Surabaya 52 persen sejak awal-awal wali kota (banjir). Sekarang relatif clear. Gresik, Sidoarjo banjir, kami (Surabaya) relatif tidak (ada banjir)," katanya.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berdalih kondisi DKI tetap terkendali kendati ratusan RW tergenang banjir akibat tingginya curah hujan pada Sabtu (20/2). "Meski curah hujan tinggi, situasi tetap terkendali," kata Anies di Jakarta, Ahad. 

photo
Warga melintas dibawah puing serta matrial tembok rumah yang longsor sehingga menutupi anak kali di Kawasan Kemang Timur 11, Kelurahan Bangka, Kecamatan Mampang Perapatan, Jakarta, Ahad (21/2). Longsor yang menimpa lima rumah tersebut diakibatkan oleh tingginya intesnsitas hujan pada Sabtu (20/2) dini hari. - (Prayogi/Republika)

Anies menerangkan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut curah hujan di Ibu Kota pada 20 Februari, sebesar 226 milimeter per hari atau termasuk kategori ekstrem karena di atas 150 milimeter per hari.

Akibatnya, dari hujan deras di Jakarta serta sekitar Depok, Tangerang, dan Bekasi itu, menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, sebanyak 113 RW di beberapa wilayah di Ibu Kota tergenang.

Tak hanya Jakarta dan sekitarnya yang sedang dilanda cuaca ekstrem, karena sebelumnya, beberapa kota di Indonesia juga sempat dilanda hujan ekstrem. Di Semarang, misalnya pada 6 Februari 2021, kota itu diguyur hujan ekstrem dengan angka curah hujan, menurut BMKG, sebesar 177 milimeter per hari hingga juga membuat beberapa titik kebanjiran.

Meski curah hujan yang ekstrem itu membuat banyak genangan, BPBD mencatat, belum ada area strategis yang terdampak dari derasnya hujan di Ibu Kota. Bahkan, lanjut Anies, luas area yang tergenang pun sekitar empat kilometer, jauh lebih kecil ketimbang luas genangan pada 1 Januari 2020, yang mencapai 156 kilometer. "Sekarang sudah mulai surut genangannya," kata Anies.

photo
Warga membawa ikan yang didapat dengan menjala di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu (20/2). Banjir yang disebabkan tingginya curah hujan tersebut mengapungkan ikana dari empang sampai ke jalan raya. - (Republika/Putra M. Akbar)

Meski begitu, ia mengatakan, masih ada kawasan yang tergenang, yakni di daerah dekat sungai yang meluap karena mendapat kiriman dari hulu seperti Sungai Krukut. Ia mengatakan, karena debit yang besar membuat air di Sungai Krukut sempat meluap ke semua jalan yang dilalui, seperti Jalan Kemang Raya, Tendean, Gatot Subroto, Sudirman, dan Bendungan Hilir, pun sempat tergenang.

Sementara itu, aktivis Lingkungan Hidup, Chaerudin meminta Anies Baswedan tidak menyalahkan curah hujan sebagai penyebab banjir di Ibu Kota yang tak kunjung selesai. "Kalau banjir, kita jangan salahkan airnya, kalinya. Tapi caranya menangani yang mesti dilihat," kata Chaerudin atau akrab disapa Babe Idin, yang juga pembina Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana di Lebak Bulus.

Chaerudin menilai, banjir tersebut justru merefleksikan diri mengenai apa yang sudah dilakukan dalam menangani permasalahan lingkungan selama ini, khususnya terkait manajemen sungai di Jakarta. "Normalisasi oke. Tapi jangan nanti pohon bambu ditebang begitu saja dan diganti dengan beton-beton," ucapnya.

Oleh karena itu, Babe Idin meminta jajaran Pemerintah Provinsi DKI memahami pentingnya manajemen menyeluruh. Selain menanam pohon, Babe Idin mengatakan, perlu dilaksanakan manajemen pengelolaan sampah yang baik. "Sampah itu bisa dimanfaatkan kembali untuk apa saja, termasuk menjadi pupuk untuk pohon-pohon buah produktif," katanya.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat