Budayawan yang juga seorang mubaligh, KH Muhammad Jadul Maula. Menurut pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), itu, dalam berdakwah seorang dai niscaya menggunakan pendekatan seni. | DOK IST
21 Feb 2021, 09:35 WIB

Islam Berkebudayaan Tunjukkan Kearifan Nusantara

Kiai Jadul Maula mengulas aspek-aspek kultural dalam dakwah dalam buku Islam Berkebudayaan.

OLEH MUHYIDDIN 

Kebudayaan turut menopang tegaknya agama Islam di Indonesia. Para perintis dakwah di Nusantara sejak zaman dahulu memperhatikan seni dan tradisi sebagai medium syiar Islam. Sebagai contoh, para wali songo yang berdakwah di Tanah Jawa. Alhasil, ajaran agama ini pun sampai ke relung kesadaran masyarakat setempat dari generasi ke generasi.

Agama dan kebudayaan tidak terpisahkan satu sama lain. Keduanya membersamai manusia dalam kehidupannya di dunia. Karena itu, dakwah seyogianya berlangsung secara harmonis dengan sistem budaya masyarakat sasarannya. Dalam arti, Islam datang bukan untuk melenyapkan, tetapi menyelaraskan kebudayaan masyarakat agar sejalan dengan tuntunan Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Dalam hal ini, buku Islam Berkebudayaan: Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan, dan Kebangsaan dapat menjadi salah satu rujukan. Buku tersebut ditulis KH Muhammad Jadul Maula, seorang ulama yang juga aktif sebagai budayawan. Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) ini menuangkan pemikiran serta gagasan-gagasannya tentang sinergi budaya dan agama dalam karyanya tersebut.

Terkait

Kiai Jadul Maula merupakan perintis sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Lembaga yang didirikannya itu tidak hanya berfokus pada pendidikan Islam, melainkan juga kajian kebudayaan, tradisi, dan pengembangan kultural, khususnya yang menyasar anak-anak muda. Alumnus Fakultas Adab dan Ilmu Budaya Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta itu hingga kini aktif di Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU.

Islam Berkebudayaan menghimpun banyak tulisan Kiai Jadul yang terbit dalam rentang waktu 22 tahun, yaitu antara 1997 dan 2019. Melalui bunga rampai ini, sang penulis mengajak sidang pembaca untuk memahami keislaman di Nusantara. Sebab, fakta membuktikan, dakwah Islam dan kepedulian akan tradisi selama ini berjalan harmonis. Dalam tulisan-tulisannya, ia banyak mewacanakan dialog antara berbagai tradisi dan budaya di Indonesia untuk menggambarkan Islam berkebudayaan.

photo
Pondok Pesantren Kaliopak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), berupaya melestarikan metode dakwah dan pengajaran ala Wali Songo. Pengasuhnya, KH Muhammad Jadul Maula, mengatakan, cara para wali berdakwah efektif dalam membumikan Islam di Nusantara. - (DOK IST)

Berangkat dari telaah kesejarahan, menurut Kiai Jadul, Kerajaan Demak sebagai kesultanan Muslim pertama di Tanah Jawa berdiri pada akhir abad ke-15. Demak pun menjadi bukti keselarasan antara akar tradisi Jawa dan kebudayaan Arab. Kerajaan yang disangga oleh para wali songo itu mengambil langkah-langkah strategis untuk mengembangkan syiar agama Islam. Bahkan, hal itu dilakukan bersamaan dengan membangun kembali peradaban Jawa yang kala itu sempat lemah akibat runtuhnya Imperium Majapahit.

Kiai Jadul menjelaskan, di antara prinsip-prinsip penting yang digagas wali songo ialah transvaluasi. Dalam arti, mereka mengkaji nilai-nilai lama untuk memunculkan nilai-nilai baru yang dapat diterima masyarakat. Ada dua kata kuncinya, yakni keselarasan dan keseimbangan. Sebagimana diungkapkan Sunan Kalijaga dalam Suluk Syekh Melaya, “Anglaras ilining banyu, angeli ananging ora keli” (menyelaraskan aliran air; turut mengalir, tapi tidak terhanyut arus).

Kiai Jadul menerangkan, prinsip keselarasan menjadi sangat penting diterapkan pada masa itu. Sebab, runtuhnya Majapahit juga berarti merosotnya tradisi Hindu-Buddha, terutama di lingkungan brahmana dan ksatria. Selanjutnya, agama-agama rakyat kuno dalam bentuk pemujaan roh leluhur kembali muncul di tengah masyarakat Jawa. Buku ini menggambarkan bagaimana dialog antara Sunan Kalijaga dan Prabu Yudhistira, sebagaimana dinukil dari Serat Centhini. Melalui pembacaan atas teks sastra itu, diketahui bagaimana transisi yang damai terjadi, yakni dari peradaban Hindu-Buddha ke peradaban Islam di Tanah Jawa.

Budaya sebagai medium

Medium peralihan damai dan kesinambungan yang selaras itu ditandai dengan digunakannya seni untuk semarak dakwah Islam. Kasus yang paling mengemuka ialah pertunjukan wayang. Memang, menurut Kiai Jadul, bentuk kesenian ini pada mulanya dipraktikkan sebagai ritual pemujaan leluhur. Sejak zaman prasejarah, orang-orang Jawa sudah melakukannya.

Namun, para wali songo kemudian melakukan modifikasi dan pembaharuan format pertunjukan wayang secara dinamis, estetis, sekaligus fungsional. Dengan demikian, pertunjukan ini dapat berfungsi sebagai medium pendidikan masyarakat. Bahkan, legasi para alim ulama tersebut masih dapat dijumpai hingga sekarang. Sebagai contoh, pertunjukan wayang purwa. Itu adalah hasil kreasi wali songo, khususnya Sunan Kalijaga.

Kiai Jadul menuturkan, ulama-ulama tersebut bertemu dalam Dewan Walisanga. Mereka lantas bermusyawarah untuk mengembangkan rumusan-rumusan dakwah Islam yang kiranya secara tepat diterima masyarakat Jawa. Salah satu pokok pemikiran adalah, bagaimana syiar agama ini diselaraskan dengan berbagai kecenderungan budaya di penduduk setempat. Dengan begitu, mereka akan tertarik untuk mengenal dan bahkan memeluk Islam.

photo
Melalui buku ini, KH M Jadul Maula mengulas ranah kebudayaan sebagai medium dakwah Islam di Nusantara. - (DOK PRI)

Lantas, para wali songo memasukkan nilai-nilai baru yang dibutuhkan masyarakat, seperti sabar, ikhlas, musyawarah, mufakat, adil, dan sebagainya. Pada saat bersamaan, sambung Kiai Jadul, mereka juga membumikan atau melakukan pribumisasi Islam. Maksudnya, beberapa ajaran agama ini diperkenalkan ulang melalui istilah-istilah yang sudah dikenal masyarakat. Umpamanya, kalimat syahadat diperkenalkan sebagai kalimasodo; shalat disebut sebagai sembahyang; shaum disebut dengan puasa (upawasa), dan sebagainya.

Dalam buku karyanya itu, Kiai Jadul juga membahas peranan pesantren sebagai simpul dakwah yang ramah budaya di Nusantara. Di dalam Serat Walisanga disebutkan, para wali songo bermusyawarah di Pesantren Giri untuk merumuskan berbagai hal terkait dakwah Islam di Tanah Jawa. Malahan, mereka juga berupaya mengonsep sarana-sarana untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Ihwal wayang dan pesantren merupakan beberapa topik yang dibahas dalam buku Islam Berkebudayaan. Masih ada banyak pembahasan lainnya yang diulas Kiai Jadul dalam karyanya yang setebal 330 halaman itu. Dengan bernas dan bahasa yang mudah dimengerti, ulama yang juga budayawan itu menguraikan pokok-pokok pemikirannya. Di antara esai-esainya ialah “Inikah Akhir Zaman Budaya Kita?”, “Ka’bah Pergi Menjemput Rabi’ah”, “Arab Digarap Jawa Digawa”, “Orientasi Islam Nusantara”, dan lain-lain.

Tulisan-tulisan Kiai Jadul dalam buku ini mencerminkan perhatiannya yang mendalam terhadap sejarah dan sastra Jawa sebagai wadah bagi ajaran dan amalan Islam. Bagi Kiai Kadul, budaya Arab dan budaya Nusantara bukan dua alam yang terpisah.

Dalam pengantaranya di buku ini, Martin van Bruinessen mengatakan, Kiai Jadul melihat interaksi antara dua kawasan budaya tersebut dan sudah dapat dibuktikan pada masa sebelum Islam. Dengan datangnya Islam ke Nusantara, menurut Martin, budaya-budaya lokal telah menjadi sarana dakwah, dan Islam menemukan ekspresinya dalam berbagai bentuk seni dan upacara tradisional. Jika agama mendasarkan gerakannya pada nash-nash wahyu yang cenderung normatif dan permanen, maka budaya merupakan hasil akal budi manusia yang selalu berkembang sesuai fitrah perkembangan manusia itu sendiri.

Buku ini memang bukan sebuah tulisan utuh. Namun, tulisan-tulisan dalam buku ini bukanlah kumpulan tulisan biasa. Karena, di dalamnya terdapat banyak nilai yang bisa digali untuk mengetahui jati diri manusia Indonesia yang berkebudayaan.

DATA BUKU

Judul: Islam Berkebudayaan: Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan, dan Kebangsaan

Penulis: KH Muhammad Jadul Maula

Penerbit: Pustaka Kaliopak

Tebal: 330 halaman


Terkini

×