Rasa bosan justru meningkatkan kreativitas dan pemecahan masalah yang tidak biasa. | Pixabay

Perencanaan

Mengelola Kebosanan Jadi Kreativitas

Rasa bosan justru meningkatkan kreativitas dan pemecahan masalah yang tidak biasa.

 

OLEH FARAH NOERSATIVA

Selama pandemi Covid-19, adaptasi diperlukan dalam kondisi yang pertama kali kita hadapi ini. Dalam prosesnya, banyak warga yang mengalami stres, tetapi situasi ini membuat kita perlu membiasakan diri dengan beraktivitas.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengusir kebosanan akibat keterbatasan dan stres, seperti mengembangkan hobi dan terus berkreasi tanpa henti. Awalnya, kondisi yang serbaterbatas ini memang tak pernah terpikirkan oleh seniman Indonesia Dita Wistarini Yolashasanti atau akrab disapa Ditut.

Bersama keluarganya, istri dari kreator konten Wahyu Ichwandardi atau Pinot ini terus berkreasi, terlebih selama mengalami karantina wilayah di New York City, Amerika Serikat.

Kepada Republika, Ditut menjelaskan, penyebabnya mereka terus mengembangkan kreativitasnya. "Motivasi dasarnya adalah supaya tetap waras, supaya kesehatan mental terjaga. Agar pikiran teralihkan dari situasi yang enggak mudah bagi siapa pun ini," tulis Ditut dalam surat elektroniknya, pekan lalu.

Dia dan keluarganya tergolong tipe yang tak bisa berdiam diri di rumah. Itulah sebabnya mereka pun berkreasi di rumah. Bentuknya, kata dia, bisa bermacam-ma cam, tergantung suasana hati dan ide. "Kalau lagi ingin membuat sesuatu, ya bikin, eksperimen macam-macam saja."

Beruntungnya, dia dan keluarganya terbiasa membuat sesuatu dengan apa yang ada di rumah. Dengan kemajuan teknologi saat ini, berbagai materi untuk kreasinya bisa dibeli secara daring. Jadi, semuanya bisa dikerjakan di rumah secara mandiri. Caranya inilah yang ternyata menginspirasi keluarga lain untuk ikut berkreasi agar tidak jenuh, hati tenang, dan tetap semangat.

"Jadi punya tujuan. Ada yang ditunggu-tunggu untuk dilakukan keesokan harinya selain rutinitas kerja," tutur Ditut.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Dita W. Yolashasanti (ditut)

Berkegiatan di rumah saja pasti memerlukan partisipasi dan pelibatan keluarga. Menurut pelukis yang juga merupakan dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) Tisna Sanjaya, dia mengusung seni partisipatif dengan melibatkan keluarga.

Dilansir laman Covid19.go.id, dia berbagi tips mengenai bagaimana cara agar kita tetap berkreativitas di tengah keterbatasan pandemi. "Pertama, cintai keseharian karena sangat menarik," kata pelukis yang akrab disapa Kang Tisna itu.

Dia mengatakan, sepintas hari-hari yang dilewati sepertinya sama saja. Namun, bila dicermati, sebenarnya setiap hari adalah hari-hari yang berbeda.

Kedua, ia menambahkan, kita bisa menjadikan setiap perubahan dan perbedaan adalah energi. Kita bisa mengubah sudut pandang dalam melihat sesuatu agar menjadi semangat.

 
Kita bisa mengubah sudut pandang dalam melihat sesuatu agar menjadi semangat.
 
 

Ketiga, dia menyarankan untuk menjadikan setiap perubahan dan pertemuan sebagai bagian dari doa. Keempatnya, dia menyarankan untuk terus berpikir positif dan optimistis. "Jadikan itu semua sebagai seni lewat doa. Seni untuk perubahan. Kalau tidak seperti itu, kita tidak sukacita," ujar Kang Tisna.

Psikolog dari Universitas Indonesia Edward Andriyanto Soetardhio berpendapat, kebosanan selama masa karantina justru sebenarnya dapat membuat kita semakin kreatif.

Dia mengutip sebuah penelitian psikolog dari University of Central Lancashire bernama Sandi Mann yang menyebut bahwa kreativitas justru muncul karena adanya kebosanan.

"Ketika seseorang merasakan kebosanan, ada stimulasi neural yang tidak terpuaskan. Ketika tidak menemukan stimulasi tersebut, kita akan mulai menciptakan sehingga kita akan terpuaskan," kata dia kepada Republika.

 
Rasa bosan justru meningkatkan kreativitas dan pemecahan masalah yang tidak biasa.
 
 

Berdasarkan penelitian itu, dia menambahkan, rasa bosan justru meningkatkan kreativitas dan pemecahan masalah yang tidak biasa. Karenanya, dia mengatakan, kita tidak seharusnya menangkal kebosanan yang malah dapat memicu kreativitas. Sebab, kebosanan justru memicu kreativitas. "Kebosanan bisa dibuat dengan cara beraktivitas yang berulang dengan stimulasi seminimal mungkin."

Stimulasi yang berlebih dari gawai, kata dia, justru membuat kepala terus terstimulasi dengan dopamine yang instan. Inilah penyebab kecanduan pada gawai.

Jadi, saat kita bosan dan mulai melamunkan hal positif, dia menyarankan menuliskan isi lamunan tersebut dan melakukannya. Hal yang perlu diwaspadai adalah melewatkan isi lamunan yang justru dapat membunuh kreativitas.

Edward menekankan, sangat penting bagi kita untuk menjaga kreativitas pada masa pandemi yang sama pentingnya dengan waktu-waktu lainnya. Ide untuk melakukan hal-hal lama dengan cara baru atau yang benar-benar baru bisa didapatkan dengan menstimulasi isi kepala lewat membaca dan berdiskusi. "Yang terpenting adalah menindaklanjuti isi lamunan kita," tutur dia.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat