Perawat memberikan penjelasan kepada orang tua dan pasien anak yang kecanduan bermain gawai di Klinik Psikiatri Anak dan Remaja Terpadu, Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Kota Bogor. | ANTARA FOTO

Tajuk

Kecanduan Gawai dan Ancaman Bonus Demografi

Salah satu dampak negatif gawai adalah banyaknya anak yang kecanduan gim dan gawai.

Setahun sudah para pelajar dan mahasiswa di Tanah Air menjalani aktivitas pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pandemi Covid-19 telah memaksa sebagian besar pelajar dan mahasiswa untuk belajar secara daring (online) menggunakan gawai. Seperti dua sisi mata uang, penggunaan gawai dalam aktivitas PJJ tentu memiliki dampak positif dan negatif. 

Salah satu dampak negatif penggunaan gawai berupa smartphone saat ini adalah banyaknya anak-anak di negeri ini yang kecanduan gim dan gawai. Setiap hari anak-anak tak bisa lepas dari gawainya. Sudah banyak orang tua yang mengeluh dan dibuat pusing dengan anak-anak mereka yang telah kecanduan gawai. Fakta ini memang tak hanya terjadi di negeri ini.

Di Amerika Serikat (AS), misalnya, berdasarkan statistik terdapat peningkatan tajam aktivitas anak-anak di platform media sosial, seperti Tiktok dan Snapchat. Sebuah aplikasi gim bernama Roblox yang sangat populer di kalangan anak-anak usia 9 dan 12 tahun di AS rata-rata memiliki 31,1 juta pengguna per hari selama sembilan bulan pertama 2020. Jumlah itu meningkat 82 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Qustodio merupakan sebuah perusahaan yang melacak penggunaan perangkat telekomunikasi pada anak-anak mengonfirmasi hasil riset itu. Menurut Qustodio, secara keseluruhan, waktu pemakaian gawai oleh anak berusia 4-15 tahun di seluruh dunia meningkat dua kali lipat pada Mei tahun lalu. Di AS, pada Maret-April 2020, anak-anak menghabiskan rata-rata 97 menit per hari di platform Youtube. Angka itu meningkat jika dibandingkan dengan Februari yang berkisar 57 menit. Jika dibandingkan dengan 2019, angka-angka itu meningkat hampir dua kali lipat. 

 
Salah satu dampak negatif penggunaan gawai berupa smartphone saat ini adalah banyaknya anak-anak di negeri ini yang kecanduan gim dan gawai.
 
 

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun pernah melakukan survei kepada 25.164 anak di 34 provinsi terkait kebiasaan mereka selama pandemi. Hasilnya, ada penurunan produktivitas anak. Survei tersebut mengindikasikan adanya potensi anak-anak makin kecanduan gawai selama pandemi. KPAI juga mendata bahwa sebanyak 79 persen anak tidak memiliki aturan penggunaan gawai. Hal ini berarti mereka bisa bermain dengan gawai mereka dengan bebas tanpa aturan yang dibuat oleh orang tuanya.

Menurut catatan KPAI, rata-rata penggunaan gawai per harinya setiap anak di atas satu jam. Adapun persentase anak menggunakan gawai di luar untuk belajar adalah satu-dua jam per hari sekitar 36,5 persen, dua-lima jam per hari sekitar 34,8 persen, dan lebih dari lima jam per hari sekitar 25,4 persen. Fakta ini tentu tak boleh dianggap remeh.

Anak-anak adalah generasi penerus bangsa pada masa depan. Ya, jargon Indonesia maju di masa mendatang boleh jadi hanya sebatas angan-angan jika anak-anak bangsa sudah kecanduan gawai dan gim. Karena itu, pemerintah pusat dan daerah harus segera memberi perhatian serius terhadap dampak negatif pengunaan gawai pada anak-anak kita.

Paling tidak, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa ini. Pertama, pemerintah perlu meningkatkan literasi digital kepada masyarakat. Saat ini, literasi digital masyarakat masih sangat rendah. Kedua, pemerintah daerah perlu mendorong sekolah-sekolah untuk mengaktifkan fungsi bimbingan dan konseling. Para guru perlu terus mengedukasi para siswa agar bijak dalam menggunakan gawai. Dengan demikian, anak-anak bisa memiliki kesadaran untuk menggunakan gawai secara bijak. Pengawasan dari sekolah ini penting pada masa pandemi seperti ini.

 
Kelima, pemerintah pusat dan daerah harus menyediakan fasilitas konseling untuk merehabilitasi anak-anak yang kecanduan gawai dan gim. 
 
 

Ketiga, sekolah dan orang tua harus menjalin komunikasi dengan baik. Sekolah harus memberikan arahan terkait penggunaan gawai kepada para orang tua. Banyak orang tua yang tak paham, sementara anak-anak lebih cepat menguasai berbagai aplikasi yang datang dari berbagai negara. Akibatnya, banyak orang tua yang dibohongi anak-anaknya. Sekolah bisa memberi arahan batasan-batasan penggunaan gawai bagi siswanya melalui orang tua.

Keempat, peran orang tua. Orang tua di rumah tentu harus mengawasi secara ketat penggunaan gawai anak-anaknya. Harus ada aturan yang ketat terkait penggunaan gawai selama di rumah. Orang tua tak boleh abai. Anak kecanduan gawai dan gim tentu bermula dari tak adanya batasan dan pengawasan. Komunikasi hal ini kepada anak secara baik-baik. Beri mereka pemahaman.

Kelima, pemerintah pusat dan daerah harus menyediakan fasilitas konseling untuk merehabilitasi anak-anak yang kecanduan gawai dan gim. Fasilitas ini tentu sudah seharusnya gratis. Semua lapisan masyarakat harus bisa mengakses fasilitas ini agar anak-anak yang kecanduan gawai dan gim bisa kembali normal. Ini penting karena jika anak-anak bangsa sudah mengalami kecanduan gawai, bonus demografi yang kita miliki bisa berubah ancaman pada masa mendatang. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat