Hikmah | Republika

Hikmah

Merayakan Takdir Kemanusiaan

Oleh Merayakan Takdir Kemanusiaan

Pada hari tasyrik di Mina, Rasulullah SAW pernah berkhutbah: "Wahai manusia, bukankah Tuhanmu satu, bapakmu satu, tidak ada keutamaan antara orang Arab dengan orang asing, antara kulit hitam dengan kulit merah kecuali tentang ketakwaannya. Apakah kalian sudah menyampaikan pesanku?" Kemudian para sahabat menjawab: "Kami sudah menyampaikannya, wahai Rasul."



Dapat dipahami, esensi kemanusiaan adalah menginsafi dan menginternalisasi kesadaran etis tentang hakikat kesetaraan antarsesama manusia. Relasi atasan- bawahan, senior-junior, kaya-miskin hanyalah atribut sementara. Adalah eksemplar yang amat gamblang, andai kekuasaan, senioritas, dan kekayaan menjadi tolok ukur utama, mengapa narasi Fir'aun, Iblis, dan Qarun malah berakhir kehancuran?

 
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
(QS al- Hujurat [49]: 13)
 





Allah SWT berfirman: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS al- Hujurat [49]: 13).



Perlu disadari, pada hakikatnya setiap manusia dilahirkan setara, yang membedakan hanyalah fungsionalitas organis ketakwaannya. Imperatif moral ayat di atas, bila prinsip musawah terpenuhi, kanon taaruf akan berlaku. Artinya, dalam tahap operasionalisasinya, melalui segenap kesadaran diri dengan menyulam empati dalam balutan tempurung akal sehat untuk bersikap pantang menyakiti (harmlessness)antarsesama. Disebabkan hulu dari prinsip taaruf ialah saling menenggang perbedaan.



Diriwayatkan dari Qais bin Sa'ad dan Sahal bin Hunaif, suatu ketika rombongan pengiring jenazah melewati Rasulullah SAW. Beliau pun berdiri menghormati. Ketika dikatakan, itu jenazah orang Yahudi. Beliau pun menyahut, "Bukankah ia juga manusia?" (HR Muslim).



Dialog ini mengajarkan, tiap individu ibarat sebuah sel aktif dalam keterjalinan organ kemanusiaan hingga disadari bahwa kita semua harus rukun dan bekerjasama. Melimpahnya takdir keberagaman, bukan menjadi justifikasi yang sah untuk saling merendahkan, apalagi menistakan.



Di tengah teriknya iklim politik, ruh kemanusiaan tak boleh kehilangan daya hidupnya. Jangan sampai silang selisih dan perdebatan di ruang publik menghalangi proses pemberadaban (civilising process) bangsa ini. Disebabkan pada hakikatnya, kita adalah lingkaran- lingkaran kemanusiaan yang saling bertautan.



Habib Ali al-Jufri menegaskan, keintiman antara keimanan dengan kemanusiaan lewat rumusannya al- insaniyyah qabla at-tadayyun(berkemanusiaan terlebih dahulu sebelum beragama), yang bersandar pada hadis Nabi bahwa risalahnya dibangun atas fondasi silaturahim, meniadakan pertumpahan darah, mewujudkan keamanan, menghancurkan berhala dan berujung menyembah hanya kepada Allah.



Sayyidina Ali pun pernah berkata: "Kalau seseorang bukanlah saudaramu seagama, maka ingatlah bahwa ia adalah saudaramu sekemanusiaan." Saatnya lebih mengutamakan titik temu ketimbang titik tengkar, lebih memperbesar energi persatuan sembari memperkecil volume perbedaan agar echokemanusiaan tidak berdenging sumbang. Wallahu a'lam.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat