Sunarsip | Daan Yahya | Republika
08 Feb 2021, 03:15 WIB

Siklus Pemulihan: Menuju ‘V’ atau ‘W’?

Semoga, pola pemulihan ekonomi kita tak berbentuk "W" karena akan berdampak negatif.

OLEH SUNARSIP

Akhir pekan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi selama 2020, mencatatkan kontraksi atau pertumbuhan negatif -2,07 persen (year on year/yoy). Realisasi kinerja pertumbuhan ekonomi 2020 ini lebih baik dibandingkan proyeksi pemerintah (dalam hal ini Kemenkeu), yang pada awal Januari 2021, memperkirakan tumbuh -1,7 persen hingga -2,2 persen (yoy).

Namun, kalau kita runut dari proses perjalanan proyeksi pertumbuhan ekonomi, capaian kinerja pertumbuhan ekonomi selama 2020 sebenarnya di bawah ekspektasi. Dokumen resmi (awal) APBN 2020 disusun dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,3 persen. Kemudian, direvisi turun menjadi tumbuh 0,5 persen melalui Perpres No 72 Tahun 2020 yang terbit Juni 2020.

Kemenkeu juga beberapa kali menerbitkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020. Saya mencatat, Kemenkeu setidaknya mengeluarkan enam kali publikasi, yang seluruhnya konsisten merevisi turun dari proyeksi sebelumnya. Dari perjalanan proses proyeksi inilah terdapat realitas bahwa kinerja perekonomian 2020 harus diakui di bawah ekspektasi.

Terkait

 

 
Bila varian ini terjadi, berarti akan memunculkan pola "zig-zag" dalam proses pemulihan ekonomi kita dan itu berarti proses pemulihan berpotensi lebih lama. 
 
 

Pada November lalu, di harian ini, saya memunculkan optimisme bahwa pemulihan ekonomi kita akan dapat berbentuk "V" atau setidaknya "U" yang menunjukkan bahwa ekonomi kita berpotensi pulih lebih cepat. Namun, melihat perkembangan terakhir, kita juga perlu mengantisipasi potensi terjadinya pola pemulihan berbentuk "W" atau varian lainnya.

Bila varian ini terjadi, berarti akan memunculkan pola "zig-zag" dalam proses pemulihan ekonomi kita dan itu berarti proses pemulihan berpotensi lebih lama. Tentunya, kita tidak berharap pola ini yang terjadi.

Berdasarkan kinerja ekonomi 2020, terlihat bahwa seluruh komponen produk domestik bruto (PDB) mengalami pertumbuhan lebih rendah dan sebagian besar tumbuh negatif. Komponen PDB yang mengalami kontraksi paling dalam adalah ekspor dan impor.

Selama 2020, ekspor terkontraksi -7,70 persen dan impor -14,70 persen. Penurunan ekspor mencerminkan adanya gangguan perdagangan luar negeri akibat melemahnya demand dari luar negeri ataupun gangguan produksi di dalam negeri.

 
Pertanyaannya, apakah di tengah Covid-19, ketiga aktivitas tersebut ke depan masih harus dikurangi? 
 
 

Tajamnya kontraksi impor selain mendukung dugaan terjadinya gangguan produksi, juga memperlihatkan pelemahan investasi dan aktivitas proyek. Covid-19 jelas menjadi salah satu penyebab terganggunya ekspor, impor, dan investasi.

Pertanyaannya, apakah di tengah Covid-19, ketiga aktivitas tersebut ke depan masih harus dikurangi? 

Bila melihat kinerja negara-negara mitra dagang kita, terlihat bahwa terdapat peluang untuk mendorong ekspor pada 2021. Tahun lalu, ekonomi Cina tumbuh positif 2,3 persen dan berhasil terhindar dari resesi. Cina adalah negara tujuan ekspor kita terbesar di Asia saat ini.

Pada Januari 2021, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Cina akan tumbuh 8,1 persen. Pertumbuhan ekonomi Cina yang tinggi merupakan potensi akan terjadinya kenaikan impor dan kenaikan ekspor negara-negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia.

Melihat potensi ekspor selama 2021, tentunya hal ini perlu dimanfaatkan maksimal. Gangguan produksi selama Covid-19 yang menghambat ekspor di sektor manufaktur, pertanian, dan pertambangan perlu diselesaikan agar kita tidak kehilangan momentum memanfaatkan potensi kenaikan demand dari luar negeri. Perlu dipertimbangkan, misalnya, percepatan vaksinasi secara khusus bagi pelaku di sektor-sektor yang terkait ekspor (termasuk supply chain utamanya) agar tidak terganggu Covid-19.

 
Penurunan kinerja konsumsi RT jelas salah satunya dipengaruhi oleh daya beli. Namun, apakah turunnya daya beli harus menyebabkan pertumbuhan konsumsi RT negatif?
 
 

Pada 2020, pertumbuhan konsumsi rumah tangga (RT) terkontraksi -2,63 persen, yang tentunya disayangkan, mengingat kontribusinya terhadap PDB yang tinggi (bahkan terbesar), yaitu 57,66 persen. Terkontraksinya konsumsi RT harus dicegah agar tidak terjadi lagi pada 2021.

Penurunan kinerja konsumsi RT jelas salah satunya dipengaruhi oleh daya beli. Namun, apakah turunnya daya beli harus menyebabkan pertumbuhan konsumsi RT negatif? Ini yang perlu didalami.

Ada satu fakta menarik yang mungkin ini dapat menunjukkan adanya anomali di balik pertumbuhan konsumsi RT yang negatif. Biasanya, seseorang mengalami penurunan daya beli karena berkurangnya penghasilan, mereka akan menarik simpanannya di bank untuk memenuhi kebutuhan hidup. Atau, mereka akan menjual aset tetapnya (properti misalnya) secara cut loss sehingga harga properti turun.

Namun faktanya, dana masyarakat di perbankan tumbuh tetap tinggi, sebesar 11,11 persen selama 2020. Kemudian, harga properti, baik itu rumah residensial maupun komersial selama 2020 masih tumbuh meskipun tipis. Logikanya, kalau mereka membutuhkan uang, mereka akan cut loss agar cepat memperoleh cash.

 
Melihat kemungkinan penyebab kontraksi di sisi konsumsi RT ini, kita memiliki potensi untuk menggenjotnya pada 2021. 
 
 

Berdasarkan data ini, kontraksi pertumbuhan konsumsi RT dapat diduga tidak seluruhnya disebabkan turunnya daya beli, terutama dari kelompok masyarakat menengah ke atas. Dapat diduga, mereka tidak melakukan konsumsi bukan karena kehabisan penghasilan, melainkan karena sengaja tidak melakukan konsumsi. Mereka tidak melakukan konsumsi karena ruang untuk konsumsi terbatas akibat kebijakan pembatasan aktivitas yang masih terjadi.

Melihat kemungkinan penyebab kontraksi di sisi konsumsi RT ini, kita memiliki potensi untuk menggenjotnya pada 2021. Dengan kata lain, kita sebenarnya memiliki banyak potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi RT. Kuncinya, mampu menyiasati berbagai keterbatasan agar orang (terutama kelompok menengah ke atas) tetap melakukan konsumsi di tengah pandemi Covid-19. Salah satu caranya melalui jalur pariwisata.

Di tengah kejenuhan menjalani kebijakan pembatasan aktivitas yang sudah hampir setahun, pasti orang membutuhkan ruang untuk rekreasi. Bila pemerintah mampu mendesain wisata yang aman selama pandemi, saya yakin potensi tersimpan di atas akan menjadi peluang menggerakkan sektor pariwisata dan turunan lainnya.

Memang betul bahwa terdapat pula pengaruh turunnya daya beli terhadap kinerja konsumsi RT. Pengaruh penurunan daya beli ini, terutama berasal dari kelompok menengah ke bawah, utamanya kalangan pekerja tidak tetap dan pekerja tetap, tapi penghasilannya rendah. Kelompok ini jumlahnya cukup besar dan pemerintah sepertinya perlu melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program bantuan langsung tunai (BLT) kepada pekerja, yang dirasakan kurang efektif menjaga daya beli mereka.

 
Meskipun bukan satu-satunya cara untuk mempercepat pemulihan, bila langkah-langkah di atas dilakukan, saya yakin akan membantu proses pemulihan ekonomi.
 
 

Kemudian, untuk mendorong kinerja pembiayaan terutama bagi pelaku UMKM dan ekspor, kinerja perbankan (khususnya) juga perlu didorong. Terkonstraksinya pertumbuhan kredit selama 2020 sebesar -2,41 persen, lebih buruk dibanding pertumbuhan ekonomi, memperlihatkan perbankan belum mampu menjadi driver bagi pemulihan ekonomi

Bank masih menjadi follow the business, belum create the business. Salah satu caranya adalah memperbaiki regulasi di tingkat industri ataupun indikator kinerja pelaku perbankan.

Meskipun bukan satu-satunya cara untuk mempercepat pemulihan, bila langkah-langkah di atas dilakukan, saya yakin akan membantu proses pemulihan ekonomi. Semaksimal mungkin, 2021 dapat kita wujudkan sebagai tahun kebangkitan agar pola pemulihan ekonomi kita berbentuk “V”. Kinerja kuartal IV 2020, kita tempatkan sebagai kinerja terendah dan dalam kuartal berikutnya tumbuh meningkat.

Semoga, pola pemulihan ekonomi kita tidak berbentuk "W" atau varian lainnya karena pola ini akan berdampak negatif bagi masyarakat. 


×