Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) bersama Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, dan Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) serta Hery Gunardi dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi saat IDX Debut BSI di Main Hall B | Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
05 Feb 2021, 03:02 WIB

BEI: BRIS Pilihan Menarik Bagi Investor 

BRIS menjadi salah satu emiten dengan kinerja saham terbaik sepanjang 2020.

JAKARTA -- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sebagai entitas baru hasil penggabungan BRI Syariah, Mandiri Syariah, dan BNI Syariah memulai debut di pasar modal, Kamis (4/2). Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut emiten berkode BRIS tersebut bisa menjadi pilihan menarik bagi para investor. 

Harga saham BRIS yang sebelumnya merupakan kode emiten milik BRI Syariah sebagai entitas penerima penggabungan, telah melonjak lima kali lipat dengan adanya merger. Harga saham BRIS pada saat initial public offering (IPO) pada 9 Mei 2018 tercatat senilai Rp 510 per lembar saham. Sementara, pada penutupan perdagangan kemarin, harga BRIS ditutup di level Rp 2.680 per lembar saham. 

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, BRIS merupakan salah satu dari 10 saham syariah dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI. Berdasarkan catatan BEI, BRIS juga menjadi salah satu emiten dengan kinerja saham terbaik sepanjang 2020 dengan kenaikan harga saham 582 persen dari Rp 330 menjadi Rp 2.250 per lembar saham.

"Sehingga BRIS bisa jadi pilihan investasi yang menarik bagi investor," kata Inarno dalam seremoni debut BSI di BEI saat pembukaan perdagangan saham, Kamis (4/2).

Terkait

photo
Menteri BUMN Erick Thohir (ketiga kiri) bersama (dari kiri) Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Hery Gunardi dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi saat IDX Debut BSI di Main Hall BEI, Jakarta, Kamis (4/2).  - (Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO)

Menurut dia, kehadiran Bank Syariah Indonesia memberikan harapan yang besar dalam mendorong kemajuan dan keuangan syariah nasional. Selain itu, memberikan harapan dalam penguatan aset dan kapitalisasi dalam industri pasar modal syariah. 

Inarno melaporkan, pasar modal syariah masih mencatat pertumbuhan yang positif. Jumlah saham syariah naik 33 persen dari 318 saham syariah pada akhir 2015 menjadi 426 saham syariah per 22 Januari 2021. Porsinya kini mencapai 60 persen dari total saham yang tercatat di BEI. 

Dari 51 saham baru yang tercatat pada 2020, sebanyak 38 emiten atau 74,5 persen di antaranya merupakan saham syariah. Perkembangan investor saham saham syariah juga tumbuh pesat.

"Dalam lima tahun terakhir naik hingga 1.650 persen. Per Desember 2020, ada sebanyak 85 ribu investor atau 5,5 persen dari total investor saham di Indonesia," katanya.

BRIS belakangan merupakan salah satu saham yang amat diburu para investor di pasar modal setelah adanya pengumuman merger. Nilai saham BRIS menembus level psikologis di Rp 1.125 pada 13 Oktober 2020, sehari setelah conditional merger agreement (CMA) ditandatangani ketiga bank. 

Setelah itu, harga saham BRIS terus melesat. Bahkan, harga BRIS sempat menyentuh di level Rp 3.770 per lembar saham pada 13 Januari 2021. 

Menteri BUMN Erick Thohir yang hadir dalam acara debut BSI di BEI mengatakan, pembentukan Bank Syariah Indonesia merupakan salah satu bentuk transformasi yang dicanangkan Kementerian BUMN. Ada tiga hal utama dalam proses transformasi BUMN, yaitu akuntabilitas, transparasi, dan profesionalisme. Dalam perjalanannya, kata Erick, transformasi BUMN juga harus dilandasi fokus pada bisnis dan rencana strategis jangka panjang pasca-Covid-19.

"Alhamdulillah, kemarin ketika Bapak Presiden meluncurkan (BSI), beliau bisikin saya. 'Pak Menteri, logonya bagus, tapi titip usahanya harus bagus'," ujar Erick menirukan ucapan Jokowi. 

Ia menilai, Bank Syariah Indonesia bisa membawa kepastian soal adanya keberpihakan dan kesetaraan untuk pelaku pasar yang percaya dengan industri finansial syariah di Indonesia. Kehadiran Bank Syariah Indonesia, disebut Erick, telah sesuai dengan peta jalan Kementerian BUMN yang ingin menghadirkan lebih banyak lagi perusahaan negara berdaya saing global.

“Karena itu, saya berharap amanah yang diberikan bisa dijaga. Kita harus memastikan dengan adanya Bank Syariah Indonesia, ada keberpihakan dan kesetaraan untuk market yang percaya dengan industri finansial syariah," kata Erick. 

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi menyampaikan, kapitalisasi pasar BRIS per Rabu (3/2) sebesar Rp 112,8 triliun. "Jumlah itu naik puluhan kali lipat dari saat IPO sebesar Rp 4,96 triliun di harga 510," ujar Hery. 

Kapitalisasi sebesar Rp 112,8 triliun tersebut setelah adanya tambahan saham dari dua bank yang lain. Melihat kinerja saham yang positif di tengah pandemi, Hery berharap BRIS dapat menjadi primadona di bursa serta dapat masuk ke dalam indeks IDX BUMN20. IDX BUMN 2020 merupakan indeks yang mengukur kinerja harga dari 20 saham perusahaan BUMN di BEI. 

Hery pun mendorong sektor keuangan dan perusahaan keuangan syariah lain untuk juga bisa melantai di Bursa. Menurut dia, potensi bank syariah ke depan sangat menjanjikan mengingat industri keuangan syariah terus berkembang. Apalagi, Indonesia juga memiliki misi menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia pada 2025 sesuai Masterplan Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia.

"Kata Presiden Joko Widodo, BSI seperti bayi raksasa yang baru lahir, dan ini penting untuk mewujudkan cita-cita Indonesia jadi barometer ekonomi syariah dunia," katanya.

Per Desember 2020, BSI tercatat memiliki total aset Rp 240 triliun, total pembiayaan Rp 170 triliun, dana pihak ketiga (DPK) Rp 210 triliun, dan modal inti Rp 22,60 triliun. BSI memiliki 1.200 kantor cabang di seluruh Indonesia dan 20 ribu karyawan.

Hery menegaskan, BSI berkomitmen untuk menjadi lembaga perbankan yang melayani segala lini masyarakat. Selain itu, menjadi bank yang modern serta inklusif dalam memberikan pelayanan dengan tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip syariah.

Percontohan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, Bank Syariah Indonesia dapat menjadi role model bagi bank syariah lainnya. Ia berharap hasil merger ketiga bank mampu memperkuat upaya untuk memberikan stimulus bagi bisnis kecil atau UMKM masyarakat ke segala pelosok daerah.

Wimboh berharap Bank Syariah Indonesia dapat membantu bisnis-bisnis di daerah yang mayoritas merupakan pelaku UMKM.

“Masyarakat di daerah membutuhkan pembinaan usaha sehingga Bank Syariah Indonesia harus menjadi role model dalam menstimulus bisnis kecil di daerah,” ujar Wimboh. 

Kendati demikian, Wimboh menekankan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan Bank Syariah Indonesia, salah satunya menjadi bank yang inklusif dengan layanan murah, jangkauan luas, dan nyaman.

“Pemerintah juga berharap Bank Syariah Indonesia menjadi barometer perbankan syariah dan bisa memberikan kontribusi besar dalam pengembangan ekonomi syariah,” katanya.

 


×