Kini, Tukiyem menjadi seorang peternak yang berdaya. Penghasilan warga Magelang, Jawa Tengah, itu menjadi semakin baik sejak mengikuti program pemberdayaan ekonomi Baznas. | DOK Repro Buku Mengantar Mustahik Jadi Muzakk

Dunia Islam

31 Jan 2021, 08:44 WIB

Para Perempuan Tangguh, Berdaya Berkat Zakat

Program yang diadakan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) turut memberdayakan ekonomi para single parent.

OLEH HASANUL RIZQA

Sebagai sebuah ibadah sosial (muta'adiyah), zakat menimbulkan manfaat yang dapat dirasakan pelakunya dan juga orang lain. Penyaluran zakat ditujukan kepada delapan penerima (asnaf) yang membutuhkan.

Seperti dinyatakan Rasulullah SAW, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain” (HR ath-Thabrani), maka Muslimin hendaknya tidak ragu-ragu untuk berzakat. Amalan tersebut sejatinya merupakan investasi di masa yang akan datang, ketika kelak setiap perbuatan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) merupakan lembaga yang berwenang melakukan pengelolaan zakat secara nasional di Indonesia, sebagaimana amanah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011. Dalam beberapa tahun terakhir, kiprah institusi ini semakin terasa, bahkan hingga ke pelosok Nusantara. Program-program pendayagunaan zakat yang dilakukannya menjangkau berbagai kalangan yang termasuk asnaf. Di antaranya adalah kaum perempuan yang tergolong fakir, miskin, atau gharimin.

Salah satu penerima manfaat zakat yang disalurkan Baznas ialah Tukiyem. Delapan tahun silam, suami warga Magelang, Jawa Tengah, itu meninggal dunia. Praktis, sejak saat itu ibu dua orang anak ini harus menjadi tulang punggung keluarga. Awalnya, ia terbiasa bekerja serabutan. Baginya, pekerjaan apa pun asalkan halal dan bisa dilakukannya, akan diambilnya.

Pada 2018, Tukiyem berkesempatan untuk mengikuti program pemberdayaan yang diadakan Balai Ternak Baznas Magelang. Di antara seluruh peserta yang mencapai 20 orang, dirinya adalah satu-satunya perempuan. Program tersebut melatih para mustahik untuk dapat beternak meskipun kecil-kecilan. Sehari-hari, bersama peternak mustahik lainnya Tukiyem memberikan pakan ternak, mengumpulkan kotoran ternak untuk dijadikan pupuk, serta memeriksa dan melakukan pencatatan kondisi hewan ternak.

Sejak bergabung menjadi peternak Balai Ternak Baznas setempat, dirinya mulai merasakan kecukupan ekonomi. Kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhinya dengan baik, termasuk biaya sekolah untuk kedua anaknya. Bersama para peternak binaan, ia memperoleh bantuan sebanyak sembilan ekor domba untuk pembibitan. Pendamping selalu rutin memberikan ilmu seputar peternakan.

“Adanya pendampingan intensif dari LPPM Baznas, Balai Ternak Magelang (saya) sudah panen lebih dari 10 kali dalam setahun. Sehingga, saya tidak lagi kesusahan memberikan uang saku untuk anak-anak saya setiap harinya,” ujar Tukiyem, seperti dikutip dari buku Mengantar Mustahik Jadi Muzakki (2020).

Perjuangan sebagai single parent juga dialami perempuan mustahik lainnya, yakni Heni Nuraeni. Pada 2002 lalu, dirinya terpaksa bercerai dengan suami. Sejak menjadi tulang punggung keluarga, ia sempat kebingungan karena harus memiliki penghasilan yang cukup demi membesarkan dua orang anak. Dengan modal yang tersisa, pada 2010 ia pun mendirikan sebuah warung kelontong di depan rumahnya.

Kendala terjadi pada 2019. Sebuah minimarket berdiri tak jauh dari kediamannya. Itu membuat warungnya kian hari kian sepi. Bahkan, sekitar bulan Juni tahun itu terpaksa ia menutup sumber pendapatannya tersebut. “Saya terpaksa menutup warung karena sudah tidak ada lagi modal untuk menjalankan warung. Omzet harian yang minim termakan oleh kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga, tidak ada modal untuk memutar usaha,” kata warga Babakan Jambe, Pasawahan, Kecamatan Tarogong Kaler, Garut, Jawa Barat, itu.

Pada akhir 2019, tim Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Mustahik (LPEM) Baznas hadir di Kabupaten Garut. Heni pun mendaftar pada salah satu program yang ditawarkan lembaga ini, yaitu Zmart. Ia mengikuti assessment dan wawancara. Akhirnya, ibu dua orang anak itu dinyatakan lolos.

photo
Pembatik binaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menyelesaikan pembuatan batik khas bogor di Kampung Batik Cibuluh, Cibuluh, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10). Kampung batik tersebut merupakan salah satu kampung tematik yang di bina oleh BAZNAS sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat untuk menjadikan daerah wisata - (Republika/Thoudy Badai)

Melalui Zmart, Heni tak hanya memperoleh bantuan permodalan, tetapi juga pendampingan usaha. Dari program tersebut, ia belajar banyak hal, termasuk dalam mengelola warung secara profesional agar tak kalah dengan minimarket. Secara perlahan, pendapatannya meningkat. Omzetnya kini rata-rata sebesar Rp 300 ribu per hari. “Alhamdulillah, saya bersyukur bisa terpilih sebagai penerima manfaat program Zmart,” ungkapnya.

LPEM Baznas juga dirasakan manfaatnya bagi warga ekonomi bawah di Jabodetabek. Berdasarkan pengalamannya, Eva Marifatun Nurjana merasa sangat tertolong dengan program pemberdayaan tersebut. “Tahun 2017 menjadi momen terberat dalam hidup saya. Suami memilih berpisah dengan saya. Sejak itu, saya bertekad harus mampu menafkahi dua anak saya,” ujar warga Bekasi, Jawa Barat, itu.

Berbekal keahlian membuat ketapang, jenis kue khas Betawi, dia pun bertahan hidup sebagai single parent. Pada 2014, dengan modal sebesar Rp 500 ribu ia membuat 10 kg kue, yang dipilah menjadi per kemasan 100 gram. Barang dagangannya itu dititipkan ke banyak toko atau warung sekitar rumahnya. Sayangnya, tidak semua warung mau melanjutkan kemitraan. Rata-rata, para penolak mengeluhkan kemasan yang mudah bocor sehingga kue menjadi tidak renyah lagi—akhirnya tidak laku.

Asa terbit pada akhir 2018. Eva mendapatkan informasi tentang program yang diadakan LPEM Baznas Bekasi. Seperti yang dialami Heni, ia pun lolos seleksi dan assessment. Tidak hanya memperoleh bantuan permodalan, ia juga menyerap banyak ilmu untuk melejitkan produksi dan penjualan produknya. Perlahan-lahan, dirinya mulai menerapkan packaging yang baik, pemasaran, dan bahkan mengurus perizinan Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).

Sebelumnya, rata-rata per bulan penghasilannya sebesar Rp 2 juta. Dan, sejak menjadi pedagang binaan Baznas, omzetnya naik tajam menjadi Rp 4 juta per bulan. Bahkan, pada Ramadhan 2020 lalu sempat menyentuh angka Rp 7 juta. Alhasil, ia lebih leluasa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk tabungan pendidikan bagi anak-anaknya. Malahan, impiannya menjadi lebih jelas untuk merasakan nikmatnya beribadah di Tanah Suci.

“Alhamdulillah, saya sudah memiliki tabungan umrah. Bila tidak ada halangan, saya akan berangkat umrah pada 2021 ini,” ucapnya tersenyum.

Pada 2020, Baznas telah membantu 1,5 juta jiwa melalui program-program pemberdayaan di berbagai daerah di Indonesia dan bahkan luar negeri.

Berdasarkan hasil riset Peta Zakat dan Kemiskinan Regional Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), DKI Jakarta, dan Banten oleh Puskas tahun 2020, berbagai program penyaluran zakat Baznas telah berhasil mengurangi kemiskinan.

Zakat yang diberikan kepada mustahik, dengan mengacu pada standar kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS), telah berhasil mengentaskan 35 persen mustahik fakir dan miskin. Angka itu setara 13.202 jiwa. Sebagian darinya, Baznas berhasil mentransformasikan 1.576 mustahik menjadi muzaki atau berpenghasilan di atas nishab zakat sebesar Rp4,6 juta/ KK/bulan.

“Kami berbicara tentang lembaga zakat ini bukan paling terpercaya oleh masyarakat saja, tetapi juga tepercaya oleh Allah SWT. Sehingga, harus menjadi pengingat kita semua, kita bekerja di atas dan semua yang terkait dengan dunia dan akherat,” ujar Wakil Ketua Baznas Mokhamad Mahdum, seperti dikutip Republika  dari laman resmi Baznas beberapa waktu lalu.


×