Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 Sinovac kepada tenaga kesehatan , di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Jumat (22/1). | FAUZAN/ANTARA FOTO
25 Jan 2021, 03:00 WIB

Sebanyak 145 Ribu Nakes Divaksin

Alur vaksinasi nakes menggunakan data SISDMK Kemenkes.

JAKARTA—Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat hingga Sabtu (23/1), jumlah tenaga kesehatan (nakes) yang telah menerima vaksinasi sebanyak 145.901 orang. Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menuturkan, secara total tercatat sebanyak 172.901 tenaga kesehatan yang telah mengakses layanan vaksinasi Covid-19 untuk mendapatkan imunisasi.

Namun, dari jumlah itu sebanyak 27 ribu tenaga kesehatan batal atau ditunda vaksinasinya. Penundaan dilakukan karena beberapa alasan, antara lain, memiliki tekanan darah tinggi saat pemeriksaan kesehatan awal, merupakan penyintas Covid-19, sedang menyusui dan memiliki penyakit komorbid lain. "Vaksinasi ini akan terus berjalan pada seluruh tenaga kesehatan sampai akhir Februari yang ditargetkan 1,47 juta tenaga kesehatan divaksinasi," kata Nadia, saat konferensi pers, Sabtu (23/1).

Program vaksinasi Covid-19 tahap pertama untuk nakes dimulai pada 13 Januari 2021 atau telah berjalan 10 hari hingga Sabtu (23/1). Nadia berharap dengan program vaksinasi tahap pertama untuk nakes ini dapat menghentikan gugurnya para tenaga kesehatan akibat terinfeksi Covid-19.

Kemenkes mencatat, hingga saat ini sedikitnya 600 tenaga kesehatan, baik itu perawat maupun dokter, telah gugur dalam menjalankan tugas menangani pasien Covid-19.

Terkait

Dia juga mengatakan, nakes yang tidak terdaftar pada tahap pertama program vaksinasi akan mendapatkan giliran dalam program imunisasi Covid-19 tahap kedua pada Februari. Nadia menyebut bahwa saat ini alur vaksinasi untuk nakes tidak lagi melalui broadcast SMS dan tidak perlu registrasi ulang lebih dulu.

Nakes yang terdaftar dalam Sistem Informasi SDM Kesehatan (SISDMK) Kemenkesan berhak mendapatkan vaksinasi Covid-19. Setiap nakes bisa mendatangi langsung fasilitas layanan kesehatan yang sudah ditunjuk oleh pemerintah untuk menjalankan program vaksinasi Covid-19.

"Jadwal vaksinasi kami serahkan pada kebijakan daerah setempat. Artinya, koordinasi pemerintah daerah dengan fasilitas layanan kesehatan untuk mengoordinasikan logistik dan sumber daya guna menghindari penumpukan," kata Nadia.

Terpisah, pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tahap satu dengan sasaran 32.973 nakes di tiga daerah di Jawa Tengah sudah mencapai 54,6 persen. Hingga Ahad (24/1), sebanyak 19.790 nakes telah melaksanakan vaksinasi termin pertama tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo mengaku, pada vaksinasi tahap pertama, Jawa Tengah mendapatkan jatah 62.560 dosis vaksin. Vaksinasi ini diperuntukkan bagi sasaran prioritas di tiga daerah, yakni, Kota Semarang, Kota Surakarta, dan Kabupaten Semarang.

photo
Pastor Maksimilianus Dora, Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan Timika (kiri) menerima suntikan vaksin Covid-19 Sinovac di Kabupaten Mimika, Papua, Jumat (22/1/2021). Kabupaten Mimika saat ini menerima 2.449 dosis vaksin Sinovac setelah Kabupaten Jayapura 1.343 dosis, dan kota Jayapura 3.464 dosis. - (Sevianto Pakiding/ANTARA FOTO)

Dari 62.560 dosis vaksin tahap pertama, diberikan kepada 32.973 nakes sasaran dalam dua termin vaksinasi. Untuk termin pertama dari 32.973 nakes yang dimulai 14 Januari 2021 lalu telah terlaksana sebanyak 19.790 nakes. Vaksinasi termin pertama ditarget rampung pada Senin hari ini atau maksimal tanggal 28 Januari 2021 nanti.

“Untuk termin satu, penyuntikan pertama. Kalau untuk nakes semuanya diharapkan selesai pada Februari 2021,” ujarnya, di Semarang, Ahad (24/1).

Masih terkait dengan vaksinasi, lanjut Yuli, Provinsi Jawa Tengah juga telah menerima tambahan vaksin Covid-19 sebanyak 248.600 dosis. Ratusan ribu vaksin produksi Sinovac itu bakal diperuntukkan bagi 122.617 nakes. Rencananya, hari ini bakal dilaksanakan pencanangan vaksinasi serentak di 31 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

photo
Petugas memindahkan vaksin Covid-19 produksi Sinovac dari pesawat udara di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Jumat (22/1/2021). Provinsi Bali menerima pengiriman vaksin Sinovac tahap ketiga sebanyak 25.320 dosis yang dikirimkan melalui transportasi udara. - (FIKRI YUSUF/ANTARA FOTO)

Di Provinsi Jawa Barat, penyuntikan vaksin Covid-19 tahap pertama telah dilakukan di tujuh daerah mulai 14 Januari 2021 lalu. Sebanyak 18.034 nakes dan 69 tokoh masyarakat yang sudah divaksin.

Tak semua sasaran berhasil divaksin karena tidak lolos penyaringan kesehatan. Misalnya, di Kota Bandung, sebanyak 1.151 nakes dan tenaga penunjang lainnya seperti petugas keamanan dan petugas kebersihan di fasilitas kesehatan di Kota Bandung absen mengikuti vaksinasi. Penyebabnya berbagai macam di antaranya tidak lolos di tahap pemeriksaan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Ahyani Raksanagara mengatakan, nakes yang absen divaksinasi sesuai jadwal dengan beragam alasan. "Tidak divaksinasi sesuai jadwal 1.151, (karena) tidak datang, tidak lolos skrining, dan alasan lain," ujarnya saat dikonfirmasi, Ahad (24/1).

Ia melanjutkan, sebanyak 1.151 orang tersebut akan menunggu arahan Kemenkes untuk dilakukan penjadwalan ulang.

Distribusi

PT Bio Farma memperkirakan empat juta dosis vaksin Covid-19 siap didistribusikan pada Februari 2021. Saat ini, vaksin tersebut masih dalam tahap proses quality control oleh Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM).

“Status produk-produk tersebut saat ini sedang dalam tahap proses quality control, yang akan dikirimkan ke Badan POM untuk mendapatkan lot release agar dapat didistribusikan. Dan diperkirakan sampai dengan Februari 2021 mendatang akan siap sebanyak 4 juta dosis vaksin,” ujar Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir melalui keterangan tertulis, Ahad (24/1).

Pada 12 Januari 2021, Bio Farma telah menerima 15 juta dosis bahan baku vaksin Sinovac. Sebanyak tiga juta dosis vaksin Covid-19 dalam bentuk barang jadi sudah diterima pada Desember 2020.

Dari jumlah tersebut, 1,2 juta dosis di antaranya telah terdistribusi ke 34 provinsi dan sisanya yang 1,8 juta dosis sudah mulai dilakukan distribusi tahap kedua pada pekan ini. Indonesia membutuhkan vaksin Covid-19 untuk 181,5 juta penduduknya atau setara dengan 426 juta dosis.

“Kolaborasi antara Bio Farma dan Sinovac melalui dua mekanisme, yaitu impor dalam bentuk barang jadi atau finished product single dose yang diperuntukkan front liner di Indonesia dan impor dalam bentuk bulk atau konsentrat vaksin. Dari bulk ini akan diproses lebih lanjut di Bio Farma, di fasilitas fill and finish yang ada di Bio Farma,” ujar Honesti.

Untuk mengantisipasi kelangkaan pasokan vaksin Covid-19 dari produsen Covid-19, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Permenkes Nomor HK.01.07/MENKES/12758/2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin untuk Pelaksanaan Vaksinasi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Dari Permenkes ini, suplai vaksin akan didapatkan dari hasil produksi PT Bio Farma, Astra Zeneca, China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm), Moderna, Pfizer Inc and Biontech, dan Sinovac Life Sciences Co Ltd, dan Novavax.


×