Tes DNA | Verywellhealth.com

Sehat

18 Sep 2019, 18:48 WIB

Tepat Sasaran dengan Tes DNA

Pemeriksaan DNA dapat memberikan informasi terkait pengobatan dan pencegahan penyakit.

Saat ini sedang tren pemeriksaan deoksiribonukleat (deo xyri bo nucleicacid-DNA) di berbagai klinik dan rumah sakit. Salah satu pemeriksaannya adalah nutrige nomik, yaitu pemeriksaan DNA untuk mengetahui zat gizi apa yang sesuai dengan genotipe seseorang.

Ahli nutrigenomik dari Universitas Toronto, Kanada, dr Bibiana Bailo, menjelaskan secara global pemeriksaan nutri ge nomik. Menurut dia, pemeriksaan DNA ini sud ah menjadi tren, terutama bagi orang yang memperhatikan kesehatan. Kesehatan yang dimaksud dalam pemeriksaan ini bukan dalam konteks penyakit melainkan lebih kepada pencegahan penyakit.

"Beberapa penyakit yang dicegah adalah kardiometabolik terutama penyakit jantung, strok, hipertensi, diabetes, gagal ginjal, dan obesitas yang makin meningkat dari tahun ke tahun," kata Bailo di sela diskusi soal diet gen yang digelar PT Kalbe Farma Tbk, di Jakarta, belum lama ini.

Ahli gizi dr Win Johanes MS SpGK dari Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia juga mengatakan hal yang sama. Menurut dia, masyarakat Indonesia sudah mulai mengetahui dan melakukan pemerik saan DNA untuk tujuan nutrigenomik.

"Dengan adanya produk-produk pemeriksaan di Indonesia, mata masyarakat kita sudah mulai terbuka bahwa ini adalah salah satu investasi kesehatan. Mencegah lebih baik dari mengobati," katanya.

Menurut dia, gambaran atau mapping fisik kita memang sudah terbawa dari lahir. Namun, dalam nutrigenomik, yang diperiksa adalah genotipe atau faktor turunan yang tidak kelihatan secara fisik.

Genotipe ini, dia menambahkan, ternyata dipengaruhi oleh makanan. Zat-zat gizi bisa mengekspresikan dan menurunkan gen. "Misalnya kita punya gen tu runan kanker. Dengan pola makan tertentu bisa meredam tidak memunculkan. Kalau salah diet, penyakit akan muncul," katanya menambahkan.

Selain itu, tes ini juga bisa mengetahui jenis olahraga yang tepat untuk menu runkan berat badan dan pembentukan otot. "Banyak yang mengeluh sudah lakukan instruksi dengan baik tapi tidak turun-turun berat badannya. Justru beberapa jenis olahraga ada yang tidak sesuai dengan gennya sehingga berat badannya tidak turun- turun," ujarnya.

Win mengatakan, semua orang membutuhkan pemeriksaan nutrigenomik. Tidak ada batasan usia maupun jenis kelamin. "Bagi yang sudah sakit, sudah jelas apa yang harus dihindari. Tapi, bagi yang sehat, perlu juga untuk mengetahui gen-gen yang belum terekspresi sehingga harus diredam," ujar nya.

Pemeriksaannya bisa dilakukan di klinik atau rumah sakit, berdasarkan rekomendasi dokter ataupun dari keinginan pasien sendiri. "Mula-mula dokter reko men dasikan kalau memang ada kebutuhan. Tapi, setahun belakangan ini pasien datang sendiri dan dapat melihat hasilnya," katanya.

Dari hasil pemeriksaan itu, dokter akan membaca terlebih dahulu. Kalau tidak ada risiko, tidak terlalu banyak intervensi yang perlu dilakukan. "Orang sehat datang mau jaga kondisi kesehatannya dan tidak sakit.

Kita bisa lihat ada risiko apa. Dia cocoknya dengan zat gizi apa. Memberikan pola makan agar kanker, misalnya, jangan keluar kalau pun dia punya risiko atau bawaan gen kanker," ujarnya.

Hasil pemeriksaannya, dia me nambahkan, tidak menyebutkan kerentanan seseorang pada jenis makanan tertentu tetapi kandungan dalam makanan, seperti natrium dan glukosa. Karena itu, dokter gizi harus tahu pengaruh zat-zat gizi sehingga bisa menyusun pola makan yang sesuai untuk pasiennya.

Menurut dia, pemeriksaan bisa dilakukan dari saliva atau ludah, mukosa, dan darah. Namun, yang paling stabil adalah air ludah. "Kalau mukosa jika kurang mengambil sampelnya akan susah. Enggak bisa mapping semua. Kalau ludah lebih lengkap sehingga tidak ada yang kelewat," katanya. Hasil pemeriksaan tes ini akan keluar dalam waktu sepekan.

photo
Signednutrition.com



Pemeriksaan ini sebenarnya sudah ada sejak dua atau tiga tahun lalu di Indonesia walau belum setenar sekarang. Namun, di luar negeri, pemeriksaan ini sudah berlangsung selama 10 tahun. Untuk biaya, pemeriksaan ini masih tergolong mahal, yaitu sekitar Rp 10 juta di Indonesia.



Perpaduan genetik-gaya hidup

Penyakit tidak menular saat ini angkanya makin tinggi. Salah satu faktor pe nyebabnya adalah gaya hidup. Namun, pemeriksaan DNA membuat setiap orang dapat menjalankan gaya hidup sehat yang sesuai dengan genetiknya sendiri.

Menurut Direktur Genetics Indonesia Simon PhD, tiap individu merupakan hasil perpaduan genetik dan gaya hidup. Karena tidak ada satu pun manusia dengan profil genetik yang sama, gaya hidup yang optimal pun akan berbeda-beda.

"Dari variasi profil yang begitu banyak tentu memberi kerumitan tersendiri dalam memilih berbagai rekomendasi yang tepat untuk diri kita, baik dari segi kesehatan maupun gaya hidup," ujarnya dalam peluncur an DNAku, layanan tes DNA berbasis internet.

Untuk mengetahui profil genetik se seorang, dia bisa melakukan pemeriksaan DNA dengan mudah. Hanya dengan sampel dari air liur dan diperiksa dengan alat khusus, DNA dapat terlihat dengan jelas. Informasi dari DNA ini dapat digunakan dalam keseharian, terutama dalam menerap kan pola hidup yang sehat.

Pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui kecenderungan metabolisme tubuh yang bisa berbahaya bagi kesehatan dan respons terhadap jenis makanan ter tentu. "Pemeriksaan DNA juga bisa me ngetahui kemungkinan Anda terkena. Atau Anda bisa mengetahui janin mengalami gangguan atau tidak," ujar Simon.

Dengan adanya produk-produk pemeriksaan di Indonesia, mata masyarakat kita sudah mulai terbuka bahwa ini adalah salah satu investasi kesehatan.



Business Development Manager DNAku dr Jessica Lepianda menambahkan, pemeriksaan DNA juga melihat jenis kulit, risiko berbagai jenis kelainan kulit, serta kebu tuhan vitamin. Selain itu, pemeriksaan DNA untuk kulit juga bisa menilai risiko selulit, kecenderungan kerutan dini, penyebab masalah stretch marks, dan keterkaitan varises dengan profil genetik.

Tak hanya itu, pemeriksaan ini juga bisa mengetahui tendensi genetik seseorang untuk berjerawat atau sensitivitas seseorang terhadap matahari. Jessica menambahkan, pemeriksaan DNA juga bisa untuk mengetahui jenis olahraga apa yang cocok juga risiko cedera dan irama sirkadian. Anda juga bisa mengetahui respons terhadap olahraga, kemampuan tubuh membentuk otot, metabolisme kafein, dan lamanya waktu pemulihan yang diperlukan setelah olahraga.

"Bukan hanya itu, dengan pemeriksaan DNA, Anda bisa melihat masalah nutrisi dan diet pada diri Anda. Untuk mengetahui jenis makanan yang berpengaruh besar pada berat badan, kecenderungan obesitas, dan respons olahraga terhadap berat badan," kata Jessica.

Sementara itu, Laboratorium Manager Genetics Indonesia dr Erlin Soedarmo menjelaskan, setiap orang memiliki karakteristik gen tersendiri walaupun berasal dari kedua orang tuanya. "Gen bervariasi. Tidak diturunkan plekdari orang tua. Tapi, ada variasinya meskipun hanya satu," ujarnya.

Genetik atau DNA, kata dia, bekerja memberikan tampilan yang berbeda, baik dari fisik maupun metabolisme tubuh. "Gen ini berfungsi mengatur atau membuat strategi agar kita mengetahui harus mempunyai gaya hidup seperti apa yang cocok." Karena itu, menurut dia, penting sekali melakukan pemeriksaan gen untuk melakukan terapi yang cocok bagi tubuh. (ed:dewi mardiani)


×