Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman menyambut Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani di Al-Ula, Saudi, Selasa (5/1). Pelukan keduanya menandai berakhirnya aksi boikot negara Teluk terhadap Qatar. | BANDAR ALGALOUD/REUTERS
23 Jan 2021, 03:00 WIB

Saudi: Kedubes di Qatar Segera Dibuka

Mesir juga meresmikan pemulihan hubungan diplomatik dengan Qatar.

RIYADH -- Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan, beberapa hari ke depan Arab Saudi akan membuka kembali kedutaan besar (kedubes) di Qatar. Langkah ini dilakukan usai Arab Saudi dan tiga negara Arab lainnya memperbaiki hubungan dengan Doha.

"Semuanya, keempat negara membuat kesepakatan rekonsiliasi penting dengan Qatar," kata Pangeran Faisal pada Al Arabiya, Kamis (21/1).

Empat negara yang dimaksudkan Pangeran Faisal, antara lain, Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir. Pada 2017 lalu empat negara itu memutus hubungan dengan Qatar yang mereka tuduh mendukung milisi bersenjata dan dekat dengan Iran. Semua tudingan itu dibantah Qatar.

Pada 5 Januari lalu, Saudi menandatangani Deklarasi Al-Ula dalam pertemuan Dewan Kerja Sama Negara Teluk (GCC) di Al Ula, Saudi. Pemimpin dari enam anggota GCC menandatangani dokumen yang mengakhiri perselisihan empat negara Arab dengan Qatar tersebut. Nama deklarasi itu diambil dari nama kota tempat pertemuan GCC tahun ini dilangsungkan.

Terkait

photo
Pangeran Saudi Mohammed bin Salman (kanan) menyambut Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani setibanya di Al-Ula awal bulan ini. - (AP/Saudi Royal Court)

Saudi juga sudah resmi membuka ruang udara, laut, dan darat mereka untuk Qatar. Penerbangan komersial antara Riyadh dan Doha sudah dimulai lagi pada 14 Januari.

Kamis lalu Pangeran Faisal mengatakan, ia optimistis negara-negara yang terlibat akan mengimplementasikan Deklarasi Al-Ula. "Kami yakin pihak-pihak yang menandatangani Deklarasi AlUla berniat mengimplementasikannya," kata Pangeran Faisal.

Sementara itu, pada Rabu (20/1), Mesir dan Qatar telah bersepakat melanjutkan hubungan diplomatik antar kedua negara. Hal itu sebagaimana disampaikan Kementerian Luar Negeri Mesir beberapa hari lalu.

Dilansir iqna.ir pada Jumat (22/1) langkah itu dibuat menyusul kesepakatan antara Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir awal bulan ini untuk mengakhiri boikot mereka terhadap Qatar yang telah berlangsung sejak 2017 atas tuduhan mendukung terorisme meskipun itu dibantah oleh Doha.

"Republik Arab Mesir dan Negara Qatar bertukar hari ini 20 Januari 2021, dua nota resmi, di mana kedua negara sepakat untuk melanjutkan hubungan diplomatik," kata pernyataan Kemenlu Mesir. Mesir membuka kembali wilayah udara ke penerbangan Qatar pada 12 Januari. Penerbangan kedua negara pun dilanjutkan.

photo
Logo Dewan Kerja Sama Teluk ke-41. - (AP/Amr Nabil)

Ketika boikot diumumkan, di antara tuntutan lainnya, Mesir dan sekutunya meminta Qatar untuk memutuskan hubungan dengan Ikhwanul Muslimin. Kelompok itu dilarang di Mesir setelah panglima militer saat itu Abdel Fattah al-Sisi memimpin penggulingan Mohamed Mursi dari kursi kepresidenan pada 2013, sebelum terpilih sebagai presiden sendiri pada tahun berikutnya.

Sebagian besar pemimpin senior kelompok itu dipenjara di Mesir tetapi anggota lainnya mengungsi ke luar negeri di Qatar atau sekutu regionalnya, Turki. Mesir dan UEA juga menemukan diri mereka berselisih dengan Turki dan Qatar di Libya, di mana mereka telah mendukung faksi yang berlawanan dalam konflik sipil.

Seorang pejabat kementerian luar negeri Qatar berjanji ke Mesir selama pertemuan dengan pejabat dari Mesir dan UEA pada hari Sabtu bahwa negaranya akan mengubah kebijakan saluran televisi al-Jazeera menuju Kairo, dua sumber intelijen Mesir mengatakan kepada Reuters. Dia juga berjanji bahwa Doha tidak akan campur tangan dalam urusan internal Mesir, tambah mereka.

Sementara itu Bahrain melontarkan kritik kepada Qatar, Kamis (21/1). Sikap ini berbeda dari Saudi dan Mesir. "Usai KTT di Al-Ula, Qatar tidak menunjukkan inisiatif menyelesaikan masalah yang tertunda dengan Bahrain," kata Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif Al Zayani. 

Sumber : Reuters


×