Garda Nasional berjaga-jaga di Washington, DC, menjelang pelantikan presiden AS terpilih Joe Biden, Rabu (20/1) waktu setempat. | AP/Matt Slocum
21 Jan 2021, 03:05 WIB

Pandemi Bayangi Pelantikan Biden

Sejumlah Muslim masuk dalam kabine Joe Biden.

WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih Joe Biden dan wakil presiden terpilih Kamala Harris bakal menjalani pelantikan pada Rabu (20/1) waktu setempat. Pelantikan tersebut dilatari pandemi di AS yang belum mereda serta ancaman kekerasan dari pendukung Donald J Trump.

Pada Selasa (19/1) waktu AS, calon dari Partai Demokrat itu memimpin peringatan nasional pada malam pelantikan untuk menghormati lebih dari 400 ribu orang Amerika yang meninggal karena Covid-19. Jumlah kematian ini merupakan yang terbanyak di dunia. Begitu juga jumlah kasus positif Covid-19 di AS yang mencapai 24 juta.

Peringatan nasional itu terjadi beberapa jam sebelum Presiden Donald Trump meninggalkan Gedung Putih untuk terakhir kalinya. Pihak oposisi di AS kerap menyalahkan Trump yang lamban bertindak hingga pandemi menjadi tak terkendali.

Upacara di Lincoln Memorial, Washington, DC, itu menandai pertama kalinya pejabat pemerintah federal memberikan penghormatan kepada korban meninggal akibat pandemi. Menurut penghitungan Reuters, AS memiliki rata-rata lebih dari 200 ribu kasus baru dan 3.220 kematian per hari selama sepekan terakhir.

Terkait

"Untuk menyembuhkan, kita harus mengingat. Terkadang itu hal yang sulit, tapi begitulah cara kita menyembuhkan. Penting untuk melakukan itu sebagai sebuah bangsa," kata Biden saat memulai penghormatan yang mencakup peringatan di kota-kota di seluruh negeri.

Setelah Biden berpidato, lonceng Katedral Nasional yang berjarak sekitar 6,5 kilometer dari lokasi acara berdentang 400 kali. "Meskipun kami mungkin terpisah secara fisik, kami orang Amerika bersatu dalam semangat," kata Kamala Harris.

Bukan hanya pandemi saja yang mengintai menjelang pelantikan. Militansi pendukung presiden terdahulu Donald Trump yang menyerbu Gedung Capitol dua pekan lalu juga tetap menjadi ancaman.

Washington telah diubah menjadi benteng bersenjata yang dipagari dengan kawat besi dan dijaga 25 ribu personel pasukan Garda Nasional menjelang pelantikan. Itu berbeda dengan pelantikan-pelantikan presiden sebelumnya ketika masyarakat dapat membanjiri jalanan Ibu Kota untuk merayakan pergantian kekuasaan.

Kini, taman di depan Gedung Kongres, National Mall, ditutup karena ancaman kekerasan kelompok yang menyerang Capitol Hill pada 6 Januari lalu. Hampir tidak ada masyarakat umum yang menyaksikan langsung transisi kekuasaan kali ini.

"Ini seperti kota hantu, tapi dengan tentara. Menakutkan, sangat tidak biasa," kata warga Washington, Dana O'Connor, di trotoar depan Gedung Putih, Selasa (19/1).

photo
Presiden terpilih AS Joe Biden dan wapres terpilih AS Kamala Harris bersama pasangan masing-masing berpose dilatari Washington Monument menghadiri merorial untuk korban Covid-19 di AS, Selasa (20/1) waktu setempat. - (AP/Evan Vucci)

Wali Kota Washington Muriel Bowser mengatakan, petugas keamanan tidak memiliki pilihan lain selain meningkatkan keamanan seusai serangan ke Capitol Hill yang menewaskan lima orang. "Di mana orang-orang yang menyebut diri mereka patriot ingin menggulingkan pemerintah dan membunuh petugas polisi," kata Bowser.

Direktur Pusat Kajian Politik University of Virginia Larry Sabato mengatakan, bagi bangsa yang bangga sebagai suar demokrasi di seluruh dunia, transisi kekuasaan yang damai adalah segalanya. "Dunia akan melihat Biden mengambil sumpah, di tengah kamp militer," kata Sabato.

Pelantikan Biden juga menandai kian besarnya peran Muslim AS di pemerintahan seperti yang dijanjikan dalam kampanye. Sejumlah Muslim AS telah diumumkan bakal mengisi kabinet Biden.

Di antaranya Aisha Shah sebagai manajer kemitraan di Kantor Strategi Digital Gedung Putih. Kemudian, Sameera Fazili sebagai wakil direktur Dewan Ekonomi Nasional di Gedung Putih, Ali A Zaidi sebagai wakil penasihat iklim nasional Gedung Putih, dan Zayn Siddique sebagai penasihat senior untuk wakil kepala staf Gedung Putih.

Selain itu, ada Salman Ahmed sebagai direktur perencanaan kebijakan Kementerian Luar Negeri; Uzra Zeya sebagai wakil menteri luar negeri untuk pengawasan senjata, demokrasi, dan hak asasi manusia; dan Reema Dodin sebagai wakil direktur Kantor Urusan Legislatif Gedung Putih.

Pemerintahan AS di bawah pemimpin baru Joe Biden juga dikabarkan akan meluncurkan tinjauan antarlembaga soal penentuan genosida yang terjadi di Myanmar terhadap minoritas Rohingya. Hal itu diungkapkan oleh calon menteri luar negeri AS yang ditunjuk Biden, Antony Blinken, dalam sidang konfirmasi di depan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS.

Joe Biden juga akan menandatangani serangkaian perintah eksekutif dalam beberapa hari pertamanya menjabat. Di antaranya, Biden dikabarkan akan mencabut larangan perjalanan terhadap beberapa negara mayoritas Muslim yang dicanangkan Donald Trump.

Kepala staf Joe Biden, Ron Klain, mengatakan akan mengirimkan dokumen imigrasi, melancarkan paket stimulus ekonomi, hingga bantuan Covid-19 ke Kongres AS yang kini dikendalikan Partai Demokrat.

Biden juga berencana mengembalikan AS ke kesepakatan iklim Paris dan kesepakatan nuklir Iran. "Selama kampanye, presiden terpilih Biden berjanji untuk mengambil tindakan segera untuk mulai mengatasi krisis ini dan membangun kembali dengan lebih baik," tulis Klain, dikutip CNN, Rabu.

Perpisahan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato perpisahan pada Selasa (19/1) waktu setempat. "Pekan ini, kita meresmikan pemerintahan baru dan berdoa untuk keberhasilannya menjaga keamanan dan kemakmuran Amerika. Kami menyampaikan harapan terbaik kami, dan kami juga ingin mereka beruntung, kata yang sangat penting," ujar Trump.

Selama pidatonya, Trump sama sekali tidak pernah menyebut nama presiden terpilih Joe Biden atau wakil presiden terpilih Kamala Harris. Meski begitu, ia juga menyerukan persatuan AS dalam pidatonya. "Sekarang, lebih dari sebelumnya, kita harus bersatu di sekitar nilai-nilai bersama dan bangkit dari dendam partisan dan menempa takdir kita bersama," ujarnya.

Dia bergeming menyalahkan pandemi virus korona sebagai penyebab keruntuhan ekonomi negara dalam setahun belakangan. Trump juga tegas mengeklaim bahwa pemerintahan di bawah kepemimpinannya memulihkan kekuatan Amerika di dalam negeri dan kepemimpinan Amerika di luar negeri.

"Dunia menghormati kita lagi. Tolong jangan kehilangan rasa hormat itu," kata Trump. Trump tidak akan menghadiri pelantikan Biden. 

Sumber : Reuters/Antara


×