I Gede Miranda Mahardika kini aktif di organisasi Mualaf Center Indonesia cabang Kalimantan Timur. | DOK IST
17 Jan 2021, 03:00 WIB

I Gede Mahardika, Menjadi Muslim Setelah Mimpi Berhaji

Meski belum memeluk Islam, Mahardika sudah gemar mengikuti kajian di masjid.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

 

Hidayah bisa datang dari mana saja, dengan izin Allah SWT. Hal itulah yang dirasakan I Gede Miranda Mahardika. Lelaki kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur, itu berasal dari keluarga yang bersahaja. Ayahnya merupakan orang Bali, sedangkan ibunya bersuku Jawa.

Terkait

Awalnya, keduanya menjalin hubungan beda agama. Namun, pernikahan mereka dilaksanakan dalam tradisi Hindu. Ibu kandung Mahardika lantas meninggalkan Islam untuk mengikuti agama suaminya itu. Pria yang lahir pada 1 Februari 1992 itu merupakan anak bungsu dari enam bersaudara.

Dika—sapaan akrabnya—dibesarkan oleh kedua orang tuanya yang beragama Hindu. Hingga menginjak usia remaja, dirinya terus menganut keyakinan tersebut. Tidak pernah tebersit dalam benaknya untuk beralih iman, termasuk menjadi pemeluk agama lama ibundanya, Islam.

Begitu lulus kuliah, dirinya diterima bekerja pada sebuah perusahaan. Lingkungan tempat kerjanya cukup baik. Ia pun berteman dengan banyak orang, baik yang seumuran maupun lebih senior.

Mereka umumnya adalah Muslim. Saat tiba waktu shalat, suara azan selalu terdengar hingga ke dalam ruangan kantor. Teman-temannya kemudian beranjak dari tempat duduk dan berangkat ke musola. Saat melewati meja Dika, mereka kerap berbasa-basi untuk mengajaknya ikut shalat. Ia pun menjawab sekenanya.

“Misalnya waktu itu, sekitar tahun 2016. Kan mayoritas teman di kantor memang Muslim. Waktu shalat tiba, mereka sering mengajak saya shalat meskipun, ya, bercanda. Saya jawab, ‘titip aja ya'," ujar dia saat berbincang dengan Republika baru-baru ini.

 
Waktu shalat tiba, mereka sering mengajak saya shalat meskipun, ya, bercanda. Saya jawab, ‘titip aja ya'.
 
 

Ia mengaku biasa saja atau tak tersinggung bila disangka sebagai seorang Muslim. Apalagi, dirinya selalu berinteraksi sewajarnya dengan kawan-kawannya yang memeluk Islam. Namun, lama kelamaan timbul pula rasa penasaran akan agama ini.

Pertama-tama, Dika mencari tahu tentang ibadah shalat. Mengapa orang Islam diwajibkan beribadah lima kali sehari? Apa saja yang dilakukan seorang Muslim ketika shalat? Bagaimana cara melakukannya? Itulah beberapa pertanyaan yang coba dijawabnya melalui penelusuran buku bacaan.

Dika menuturkan, selama satu setengah tahun dirinya mulai mempelajari Islam secara mandiri. Tidak hanya mengandalkan buku-buku yang diperolehnya dari kawan atau beli sendiri. Ia juga menonton video keislaman di media-media sosial.

Lambat laun, lelaki berdarah Bali ini merasakan kesan yang positif tentang Islam. Agama ini mengajarkan kedamaian dan kebajikan. Riwayat sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW juga menyentuh hatinya. Rasulullah SAW merupakan pribadi yang agung. Akhlaknya baik tidak hanya kepada sesama yang beriman, tetapi juga orang-orang non-Muslim.

 
Lambat laun, lelaki berdarah Bali ini merasakan kesan yang positif tentang Islam. Agama ini mengajarkan kedamaian dan kebajikan.
 
 

Dalam tempo beberapa bulan itu, Dika mengalami perubahan dalam rutinitasnya. Entah mengapa, matanya enggan terpejam setiap pukul 03.00 dini hari. Ada yang membuatnya terjaga, tetapi ia tak tahu apakah itu. Yang jelas, momen menjelang fajar itu sering dimanfaatkannya untuk menulis atau merenung di dalam kamarnya.

Hingga suatu malam, dirinya bermimpi yang cukup aneh. Ia merasakan, seolah-olah sedang berada di suatu daerah yang tidak diketahui. Daerah itu tidak sepi, tetapi justru ramai oleh lautan manusia.

Mereka mengenakan pakaian serba putih dan berjalan memutari sebuah bangunan hitam yang berbentuk kubus. Semua orang di sana terdengar menggumamkan bacaan yang Dika tidak tahu artinya. Namun, rasa-rasanya ia pernah mendengar kalimat itu dalam kumandang suara azan yang selalu disiarkan dari masjid dekat rumahnya.

 
Mereka mengenakan pakaian serba putih dan berjalan memutari sebuah bangunan hitam yang berbentuk kubus.
 
 

Dika bangun tidur dalam keadaan bingung. Ia tidak mengerti, mengapa dirinya bermimpi seperti itu. Belakangan, ia mengetahui bahwa pemandangan yang muncul dalam mimpinya itu persis seperti suasana haji yang dilakukan kaum Muslimin di Makkah al-Mukarramah, Arab Saudi. Busana putih-putih yang mereka kenakan adalah pakaian ihram.

Beberapa hari kemudian, Dika kembali bermimpi. Kali ini, dalam mimpinya ia berada di halaman Masjidil Haram. Sejurus kemudian, seseorang yang tidak dikenal menyapanya. Orang itu menyampaikan selamat kepadanya.

Dalam mimpinya yang ketiga, Dika merasa sedang di Tanah Suci pula. Bedanya, sekarang dirinya berada di antara jamaah haji yang sedang melakukan tawaf. Di sebelahnya, ada seseorang yang dijumpainya dalam mimpi sebelumnya. Di mimpi itu, ia ikut mengucapkan tahlil dan takbir.

Saat terjaga pada pagi harinya, Dika langsung menangis terharu. “Di situ saya menangis. Saya berdoa, kalau memang jalan saya menuju Islam, ya Tuhan bukalah jalan itu,” kata dia mengenang.

 
Di situ saya menangis. Saya berdoa, kalau memang jalan saya menuju Islam, ya Tuhan bukalah jalan itu.
 
 

Memeluk Islam

Setelah mengalami mimpi berhaji, Dika semakin serius mengkaji Islam. Ia tidak lagi sebatas membaca buku atau menyimak video dari internet. Mulai saat itu, ia memberanikan diri untuk mengikuti langsung berbagai kajian keagamaan di masjid-masjid.

Salah satu lokasi yang menjadi tempatnya belajar adalah Masjid Istiqamah. Di sana, cukup marak pengajian digelar dengan menyasar peserta dari kalangan anak-anak muda. Meskipun belum memeluk Islam, Dika senang menghadiri kajian di masjid tersebut. Salah seorang dai favoritnya adalah Ustaz Khalid Basalamah.

Ada sebuah kejadian menarik yang dialaminya. Suatu hari, ia menghadiri pengajian di Masjid Istiqamah seperti biasa. Saat memasuki masjid, tiba-tiba ia disapa seseorang. Wajahnya ternyata mirip dengan orang berbaju putih yang pernah dilihatnya dalam mimpi. Lelaki itu sempat berbincang dengan Dika dan memberinya segelas air minum sebelum kajian dimulai.

Ketika Dika hendak memasuki ruangan, seorang jamaah menegurnya. Dika terkejut karena orang yang tadi bersamanya menghilang dari pandangan. Jamaah tersebut merasa heran karena Dika tampak sedang berbicara seorang diri barusan.

Kejadian itu membuat hatinya semakin tertarik untuk terus mengenal Islam. Bagaimanapun, belum terbit keberanian dalam dirinya untuk secara resmi memeluk agama ini. “Islam memberikan suasana hati yang berbeda. Saya merasa lebih tenteram, lebih damai,” katanya.

 
Islam memberikan suasana hati yang berbeda. Saya merasa lebih tenteram, lebih damai.
 
 

Pada 2017, seorang kawan mengundangnya untuk ikut pengajian yang digelar di rumah. Temannya itu baru pulang dari Tanah Suci sesudah melaksanakan umrah. Dalam acara tersebut, seorang ustaz menyampaikan tausiyah tentang hidayah dan bagaimana menjemput rahmat Ilahi.

Awalnya, Dika mendengarkan pemaparan itu secara biasa saja. Namun, lama kelamaan dirinya tertarik untuk menyimak lebih lanjut, termasuk pada sesi tanya-jawab.

Dika menyimak setiap pertanyaan yang disampaikan peserta dengan penuh perhatian. Begitu pula dengan jawaban yang diberikan ustaz tersebut. Salah satunya menekankan, hidayah Allah itu datang atas izin-Nya. Karena itu, hanya orang-orang terpilih yang dapat menerimanya.

Sepulang dari pengajian tersebut, Dika kian tertarik untuk memeluk Islam, tidak sekadar mempelajarinya. Ia lalu mencari tahu, apa saja syarat untuk menjadi Muslim. Ternyata, persyaratannya cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat dengan penuh kesadaran. Keesokan harinya, atas saran kawan-kawannya ia mendatangi Masjid at-Taqwa, Balikpapan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Mualaf Center Kalimantan Timur (mualafcenterkaltim)

Ternyata, ketua pengurus masjid tersebut menceritakan bahwa dirinya juga seorang mualaf. Dika dinasihati agar memantapkan hatinya agar benar-benar siap memeluk Islam. Sebab, iman bukanlah perkara sembarangan. Tanggung jawabnya tidak hanya di dunia kini, tetapi juga akhirat kelak. Nasihat tentang kematian juga disampaikannya.

“Bapak itu bilang, usia manusia tidak ada yang tahu. Jika kita sudah berniat bersyahadat saat ini, maka lakukanlah sekarang. Mana tahu, setelah kita pulang ke rumah Allah mencabut nyawa kita, padahal belum sempat bersyahadat,” ucap dia.

 
Jika kita sudah berniat bersyahadat saat ini, maka lakukanlah sekarang.
 
 

Momen itu terjadi pada 24 April 2018. Di hadapan beberapa jamaah, Dika mengucapkan dua kalimat syahadat. Prosesi yang singkat tetapi sangat bermakna itu dilakukan dengan bimbingan seorang imam. Akhirnya, pemuda berusia 26 tahun itu resmi menjadi Muslim.

Air mata haru membasahi pipinya. Seluruh jamaah menyalaminya dan mendoakan kebaikan untuknya. Azan ashar kemudian berkumandang. Untuk pertama kalinya, Dika melaksanakan shalat meskipun itu dilakukan dengan persiapan seadanya.

Kawan-kawannya yang Muslim menyambut kabar keislamannya dengan suka cita. Seorang temannya menyarankan agar bergabung dengan komunitas mualaf. Dengan begitu, ia dapat menemukan tempat untuk mendapatkan ilmu dan bimbingan, yang memang dikhususkan bagi orang-orang yang baru memeluk Islam.

Beberapa hari kemudian, Dika menyambangi kantor Mualaf Center Indonesia (MCI) cabang Balikpapan. Pihak organisasi itu menyambutnya dengan ramah. Tak menunggu waktu lama, dirinya pun menjadi anggota MCI Balikpapan dan menerima sertifikat mualaf.

photo
I Gede Miranda Mahardika senang berada di tengah majelis ilmu keislaman meskipun waktu itu dirinya belum memeluk Islam. - (DOK IST)

Ia mengaku senang karena dapat menjadi bagian dari komunitas itu. Terlebih lagi, para ustaz dan mubaligh yang aktif di dalamnya dengan sabar mengajarkannya banyak hal tentang Islam. Tidak hanya pengetahuan, aspek-aspek praktik juga diajarkan. Dika mulai bisa membaca Alquran dan menghafal surah-surah pendek melalui bimbingan para dai setempat.

Seiring waktu, ia berupaya untuk menyempurnakan separuh agamanya. Proses mendapatkan jodoh dijalaninya dengan cara ta’aruf. Setelah melalui berbagai dinamika, Dika pun menikah dengan seorang Muslimah yang baik lagi salehah.

Memang, setelah Dika memeluk Islam keluarganya seakan menjaga jarak. Bahkan, selama setahun ayahnya menolak berbicara dengannya. Akad nikahnya pun hanya dihadiri ibu dan beberapa saudaranya.

Namun, hubungan anak-bapak itu mulai mencair setelah beberapa bulan Dika menikah. Ia pun menjelaskan kepada ayahnya secara perlahan-lahan, Islam mewajibkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tua. Meskipun berlainan agama, seorang anak tidak boleh memutus silaturahim dengan ayah dan ibunya.

“Alhamdulillah,” ujarnya.


×