Presiden Joko Widodo (tengah) berfoto bersama peserta vaksinasi Covid-19 perdana di beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/1). | ANTARA FOTO/HO/Setpres-Laily Rachev
15 Jan 2021, 02:00 WIB

Prokes Pascavaksinasi Penting

Kekhawatiran abai prokes pencegahan Covid-19 pascavaksinasi tak bisa dikesampingkan.

JAKARTA –- Kekhawatiran abai protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19 pascavaksinasi tak bisa dikesampingkan. Pemerintah dinilai perlu mengantisipasi kemungkinan terjadinya euforia oleh masyarakat yang mengira sudah kebal dan tak bakal tertular Covid-19 jika vaksinasi sudah diterima.

“Jangan sampai yang ditakutkan epidemiolog itu seolah-olah vaksin ada, protokol kesehatan dilepas,” kata epidemiolog dari Universitas Andalas (Unand), Sumatra Barat, Defriman Djafri, Kamis (14/1).

Peristiwa Raffi Ahmad berkumpul dengan rekan-rekannya yang mengabaikan prokes menjadi sebuah pelajaran. Raffi diketahui pada Rabu (13/1) siang divaksin bersama Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Malam harinya, dia diketahui tak pakai masker dan tak jaga jarak pada sebuah acara kumpul-kumpul.

Maksud pemerintah menjadikan Raffi sebagai penerima vaksin gelombang awal bersamaan dengan Presiden Jokowi agar masyarakat meniru. Sebagai influencer atau pemengaruh, Raffi diharapkan jadi contoh dan menginspirasi jutaan masyarakat Indonesia lainnya. Namun, belum genap 24 jam, apa yang dilakukan Raffi Ahmad justru kontradiksi dari harapan-harapan itu.

Terkait

photo
Presiden Joko Widodo (tengah) bersiap disuntik dosis pertama vaksin Covid-19 produksi Sinovac oleh vaksinator Wakil Ketua Dokter Kepresidenan Prof Abdul Mutalib (kanan) di beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/1).  - (ANTARA FOTO/HO/Setpres-Agus Suparto)

Defriman mengatakan, pascavaksinasi Covid-19, minimal butuh waktu 14 hari untuk mengetahui apakah antibodi atau kekebalan telah terbentuk di dalam tubuh. Dalam kurun waktu tersebut, dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unand itu menyebut, peluang terinfeksi masih ada, apalagi jika prokes tidak dilakukan dengan baik dan benar.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, pemerintah belajar dari kejadian ini. Pemerintah berjanji akan lebih baik lagi menjalin kerja sama dengan pemengaruh. Menurut dia, kerja sama dengan selebritas serta influencer adalah cara pemerintah untuk memberi edukasi kepada masyarakat.

“Ke depan, saat lebih banyak orang divaksin, termasuk influencer, kita perlu bekerja sama terkait strategi komunikasi, sehingga bisa lebih hati-hati mereka jalankan, juga dimengerti oleh pengikut mereka. Ini keputusan penting dari pemerintah demi kebaikan banyak orang,” kata Wiku.

Raffi menyatakan permintaan maafnya atas kejadian ini. Ia mengunggah pernyataan klarifikasi sekaligus menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden Jokowi dan masyarakat atas sikapnya yang dianggap abai terhadap protokol kesehatan.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, Raffi memang dipilih mengikuti vaksinasi perdana di Istana Negara karena dianggap sebagai perwakilan anak muda. Kemauannya divaksin diharapkan bisa menularkan hal-hal positif, bukan hanya terkait vaksinasi, melainkan juga pandemi Covid-19.

Namun, Nadia menyatakan penyesalannya atas apa yang dilakukan Raffi pada Rabu (13/1) pascavaksinasi itu. “Yang jelas yang dilakukan Raffi ini adalah model gambaran anak muda Indonesia lainnya,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P Kemenkes ini.

Siti meminta siapa pun tidak kendor dalam melaksanakan prokes, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan (3M) meski telah divaksin. Menurut dia, upaya ini penting karena masih ada anak muda yang cenderung tidak percaya, arogan, bahkan tidak peduli dengan lingkungan sekitar.

photo
Vokalis band Noah Ariel berpose usai disuntik vaksin Covid-19 Sinovac di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA), Jalan Raya Kopo, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/1). Vokalis band Noah Ariel dan Penulis buku sekaligus youtuber Risa Saraswati menjadi perwakilan key opinion leader kesehatan daerah untuk disuntik vaksin Covid-19 Sinovac - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih mengatakan, vaksinasi membuat antibodi atau kekebalan terbentuk di dalam tubuh masyarakat yang mendapatkan vaksinasi. Meski sudah divaksin, bukan berarti masyarakat aman 100 persen dari kemungkinan paparan Covid-19.

“Vaksin itu tidak 100 persen, memang ada antibodi terbentuk dalam tubuh, tapi tidak 100 persen. Tetap harus dibarengi protokol kesehatan. Meski divaksin, protokol kesehatan harus dijaga. Jadi, betul-betul mencegah infeksi,” ujar Daeng.

Anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani menyayangkan sikap Raffi Ahmad. Di sisi lain, menurut Netty, ada ironi yang perlu dikritisi, yakni ketika masyarakat ‘biasa’ yang melanggar prokes. “Giliran rakyat ditakuti-takuti, giliran rakyat dikejar-kejar,” kata Netty.

Politikus PKS tersebut mengatakan, apa yang dilakukan Raffi bukanlah contoh baik yang diperlihatkan ke masyarakat. “Sekarang ini harus ada timbal balik. Jadi, kalau masyarakat diminta disiplin ya berarti disiplin itu harus dimulai dari pejabat publik dan orang-orang yang dianggap menjadi influencer dan sudah digadang-gadang oleh pemerintah,” kata Netty.


×