Subroto | Daan Yahya | Republika
14 Jan 2021, 02:00 WIB

Rezeki  tak Pernah Tertukar

Banyak cara mencari penghasilan sembari menjadi wartawan.

Sejak memilih menjadi  wartawan aku sudah diingatkan bahwa profesi ini tak akan membuatku menjadi kaya. Ada juga sih wartawan yang kaya raya, tapi jumlahnya satu dua. Aku memang tak pernah bercita-cita menjadi kaya harta. Tak apalah, hidup  itu kan menjalani  pilihan-pilihan.

 Toh dengan menjadi wartawan aku bisa menjalani kehidupan yang aku suka.  Aku tidak kaya, tapi aku bisa mendapatkan apa yang orang lain mungkin tak bisa gapai dengan harta.

Gaji sebagai wartawan aku rasa cukup-cukup saja. Yang penting gaya hidup menyesuaikan. Sederhana saja.  Apalagi aku tak punya penghasilan lain. Ada sejumlah teman wartawan yang berbisnis. Aku tak bakat. Penghasilan tambahanku  kalau  menang lomba menulis, jadi pembicara,  membuat pelatihan, menulis buku,  dan menjadi juri lomba penulisan.

 
Ada yang menduga gajiku besar ketika aku dua kali mengajak keluarga jalan-jalan keluar negeri, Itu bukan dari gajiku. Itu hasil menulis buku.
 
 

Ada yang menduga gajiku besar ketika aku dua kali mengajak keluarga jalan-jalan keluar negeri, Itu bukan dari gajiku. Itu hasil menulis buku.

Terkait

Aku juga  pernah berangkat haji tahun 2004.  Tentu tidak biaya sendiri.   Diberangkatkan kantor. Pakai fasilitas ONH Plus pula. Saat itu aku tak punya uang. Rezeki itu memang sering datang dari tempat-tempat yang tak pernah kita duga.

 Tahun 2014, aku juga mendapat rezeki tak diduga.  Saat itu  ibuku yang biasa aku panggil Mamak akan berangkat umrah. Kakak-kakak dan adikku mengajak untuk patungan  memberangkatan Mamak. Aku sedang tak punya duit sama sekali. Aku katakan bahwa saya tak bisa ikut patungan.

Dalam hati rasanya menyesak sekali. Koq kerja di Jakarta bertahun-tahun, untuk ikut bergotong-royong membiayai umrah Mamak tak punya uang ?  Kebangetan. Tapi mau bagaimana lagi.  Aku memang sedang tak punya uang.

Mamak sedianya akan berangkat umrah dengan rombongan pengajiannya dari Sawahlunto, Sumatra Barat.  Tapi dua bulan sebelum keberangkatan ternyata, pihak travel mengatakan tidak bisa berangkat. Tak jelas alasannya.

photo
Foto saat berumrah. - (Subroto)

Mamak memaksa untuk berangkat sendiri segera.  Aku diminta untuk mencari travel umrah yang bagus di Jakarta. 

 Aku tak bisa membantu, tapi aku akan carikan travel yang bagus buat Mamak. Aku akan mencari  travel yang terpercaya dan pengurusnya bisa aku hubungi setiap saat. Dengan begitu aku  nanti bisa mengikuti perkembangan perjalanan umrah Mamak dari Jakarta.

Menjelang keberangkatan umrah Mamak,  aku  makin tekun ibadah. Padahal selama ini aku bukan termasuk orang yang disiplin shalat tepat waktu. 

Sehabis shalat doa yang aku panjatkan selalu sama. “Ya Allah, berikanlah hamba kesempatan  mendampingi Mamak ke Tanah Suci. Ya Allah berikanlah  hamba kesempatan untuk berbakti kepada orang tua.”

Permintaan  yang aneh. Uang saja tak punya untuk urunan, malah minta menemani ke Tanah Suci. Tapi biarlah, aku meminta kepada zat Yang Paling Tinggi. Tak ada yang tak mungkin.  

Sejumlah biro umrah  kuhubungi untuk keberangkatan Mamak.  Tapi belum  ada yang cocok. Lalu aku teringat sebulan yang lalu asosiasi haji Kesatuan Tour Travel Haji Umrah Republika Indonesia (Kesthuri)  datang ke kantor. Aku  masih menyimpan nomor kontak salah seoang pengurusnya yang punya biro Travel Haji dan Umrah.  Artha Hanif namanya.

Aku  mengontak Pak Artha. Kami berjanji bertemu di kantor cabang travel umrahnya di Jalan Margonda Depok. Saat bertemu, aku  sampaikan soal rencana keberangkatan Mamak. Dia kaget saat mendengar Mamak akan berangkat sendiri.  Umur Mamak sudah 76 tahun.  

“Ibu jangan berangkat sendiri Mas. Sebaiknya ada yang  menemani, ” sarannya.

 
Di sisi lain aku bertekad, jika  aku berangkat umrah,  jalannya harus benar, caranya harus benar. Ini urusan  ibadah, tidak main-main.
 
 

Aku  jelaskan soal rencana Mamak yang tadinya  akan berangkat bersama rombongan. Sampai kemudian memutuskan untuk berangkat sendiri secepatnya.  Aku yakinkan dia bahwa kendati sudah tua, fisik Mamak sangat prima. Beliau terbiasa berjalan jauh.  Jarang sekali sakit.

Kakak dan adikku tak ada yang bisa mendampingi berangkat umrah. Aku yang paling punya waktu. Sayangnya aku tak punya uang. 

“Terus terang saya tidak bisa menemani,” kataku jujur.

Artha terdiam sejenak.  Lalu dia menjelaskan bahwa kebetulan Kesthuri berencana mengundang Republika untuk meliput  umrah tahun ini.  Tahun sebelumnya Kestuhri juga mengajak wartawan Republika meliput di Tanah Suci.  

“Saya mengusulkan Mas Subroto saja yang diberangkatkan oleh Republika. Dengan begitu bisa liputan sambil menemani Ibu,” usulnya.

Tentu saja aku kaget dengan usulan itu. Antara senang dan bingung. Aku tak buru-buru berkomentar. Aturan di Republika, setiap  ada undangan ke kantor, pihak pengundang tidak bisa menentukan sendiri siapa yang akan berangkat. Kantor lah yang menentukan. Pihak pengundang boleh mengusulkan tapi, kantor yang memutuskan.

Aku berterima kasih kepada Artha atas tawarannya.  Aku juga menjelaskan soal aturan di Republika

Dia mengangguk-angguk, kelihatannya berpikir. Lalu dia  mengusulkan lagi alternatif lain. Aku diberikan diskon  biaya umrah 50 persen, dan Mamak diberi diskon  50 persen.  Itu artinya  sama saja diberikan satu  tiket umrah gratis.

Nggak usah liputan. Ibu harus didampingi. Mas harus berbakti pada orang tua, ” katanya.

Aku meminta waktu beberapa hari untuk memikirkan tawaran Pak Artha. Jika meminta ke kantor untuk berangkat, aku merasa tak enak. Selama ini aku tak pernah sekalipun meminta berangkat liputan ke luar negeri. Tawaran kedua,  juga jelas dilema. Aku tak mengenal Pak Artha sebelumnya.  Dia terlalu baik  untuk memberikan diskon masing-masing 50 persen untuk dua orang. 

Selama beberapa hari aku  dilanda kegalauan. Di satu sisi aku merasa ini adalah jawaban atas doa-doa  selama ini. Di sisi lain aku bertekad, jika  aku berangkat umrah,  jalannya harus benar, caranya harus benar. Ini urusan  ibadah, tidak main-main.

Tapi aku tak mungkin untuk meminta berangkat ke kantor. Aku juga tak mau menerima tawaran diskon.

Beberapa hari kemudian Artha menghubungiku. Dia meminta izin untuk mengontak Pemimpin Redaksi (Pemred) Republika Nasihin Masha, meminta agar aku yang berangkat untuk memenuhi undangan Kesthuri. Dia bilang akan segera mengurus visa. Waktunya pendek. Tentu saja aku tak enak. Aku katakan bahwa aku saja yang akan menyampaikan undangan tersebut ke pemred. Terserah nanti pemred akan memberangkatkan siapa saja.

Akhirnya aku memutuskan untuk menghadap Mas Nasihin Masha. Aku akan sampaikan apa adanya. Aku sampaikan ada undangan dari Kesthuri untuk umrah. Jika pemred memperbolehkan aku berangkat, itu rezekiku. Jika tidak, tidak apa-apa. Berarti doaku belum dikabulkan.

Sore itu aku menemui Mas Nasihin di ruangannya yang tak jauh dari kursinya di lantai 4 Gedung Republika. Nasihin sedang duduk santai.

Kepadanya aku ceritakan soal rencana keberangkatan Ibuku untuk umrah. Aku sampaikan  juga soal undangan dari Kesthuri. Selanjutnya aku serahkan ke kantor untuk memutuskan.

 Aku menunggu jawaban Nasihin.  Harap-harap cemas. Tapi apapun keputusannya aku sudah siap. Aku tidak akan menawar.

“Kita memberangkatkan Subroto. Sekalian temani Ibu. Kapan lagi berbakti pada orang tua,”  kata Nasihin.

Alhamdulillah. Gembira hatiku tak terkira. Aku mengucapkan terima kasih. Nasihin mungkin tak tahu kalau mataku berkaca-kaca. 

Sungguh rezeki yang tak pernah  kusangka-sangka. Tak punya uang tapi bisa menemani Mamak umrah sambil liputan. Diberi uang saku pula dari kantor. Nikmat mana lagi yang akan aku dustakan?

Tip menambah penghasilan untuk wartawan

- Menjalankan bisnis sendiri

- Mengikuti lomba penulisan dan mendapatkan fellowship peliputan

- Menjadi pembicara pelatihan,  seminar, dan diskusi

- Menjadi dosen atau pengajar

- Membuat kursus atau pelatihan

- Menulis buku

- Mencari tambahan penghasilan lain yang tidak bertentangan dengan profesi wartawan

 

 


×