Suasana Masjidil Haram diambil dari Balcony The Makkah Clock Tower Museum, Makkah, Arab Saudi, Jumat (6/9/2019). | ANTARA FOTO
13 Jan 2021, 10:06 WIB

Hikmah di Balik Diturunkannya Alquran di Makkah

Makkah merupakan kota strategis yang menjadi penghubung banyak daerah.

JAKARTA – Ajaran tauhid yang diperkelankan oleh Nabi Ibrahim dan keturunannya sampai Nabi Muhammad sejatinya adalah pesan Langit yang suci. Ajaran ini diketahui muncul di Timur Tengah, lantas mengapa Allah memilih tempat ini?

Jika seseorang ingin menyampaikan pesan ke seluruh penjuru, maka sebaiknya yang bersangkutan dapat berdiri di tengah jalur yang memudahkan tersebarnya pesan itu. Dan yang paling penting, penyampai pesan haruslah ia yang paling simpatik, berwibawa, dan bekemampuan sehingga menjadi daya tarik tersendiri.

Pakar Ilmu Tafsir Prof Quraish Shihab dalam buku Mukjizat Alquran menjelaskan, Timur Tengah adalah jalur penghubung wilayah timur dengan barat. Maka wajarlah jika kawasan ini menjadi tempat menyampaikan pesan Illahi yang terakhir dan yang ditujukan kepada seluruh manusia di bumi.

Ajaran tauhid yang kemudian dikekalkan dalam Alquran merupakan ajaran yang diamanahkan kepada Nabi untuk disebarluaskan. Pada masa penyebaran Alquran, ada dua imperium digdaya di abad ke-5 dan ke-6 Masehi. Yang pertama adalah Kekaisaran Persia yang masyarakatnya menyembah api dan masih berbekas ajaran Madzak tentang kebebasan seks. Sehingga permaisuri pun harus menjadi milik bersama.

Terkait

Kedua, adalah Imperium Romawi yang mengaku Nasrani namun budaya Kaisar Nero masih membekas di sini. Budaya Kaisar Nero diketahui seperti membakar habis kota (huru-hara) dan memperbolehkan memperkosa ibu kandung sendiri. Budaya ini masih mempengaruhi kultur Imperium Romawi.

Maka demikian, sedigdaya apapun imperium ini nyatanya tak dapat melawan kuasa Allah SWT. Serangan ekspansi demi ekspansi dari Imperium Romawi maupun kekerasan Abrahah lewat pasukan gajahnya nyatanya tak mampu mendudukkan Makkah maupun tujuan menguasai Jalur Hijaz.

Dalam literatur sejarah disebutkan bahwa ‘tangan’ Allah menggagalkan usaha demi usaha pendudukan mereka atas wilayah yang memang dijaga untuk penyebaran Alquran. Bayangkan apa yang akan terjadi jika tauhid dikumandangkan di daerah kekuasan Romawi dan Persia yang keyakinannya bahkan bertentangan dengan tauhid? Di Hijaz ketika itu belum terpusat kekuasaan.

Masing-masing kelompok suku saling bermusuhan dan memperebutkan pengaruh. Di Makkah, pusat Hijaz, para pedagang dan seniman datang memamerkan dagangan atau karyanya. Di sanalah bertemu kafilah dari selatan dan utara, timur dengan barat. Penduduk Makkah juga melakukan ‘perjalanan musim dingin dan panas’ ke daerah Romawi dan Persia. Faktor inilah yang memudahkan penyebaran ajaran.

Nabi Muhammad SAW sebagai penyampai pesan Langit pun merupakan sosok yang paling ideal. Rekam jejak Nabi bahkan dapat ditelusuri secara akurat melalui khazanah hadis yang kaya. Bahkan rekam jejak Nabi diakui para pendusta agama Islam sebelum Nabi Muhammad sendiri diangkat menjadi Nabi oleh Allah SWT.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Masjid Al Haram Makkah (masjidalharammakkah)

Asal usul Makkah

Makkah al-Mukarromah merupakan sebuah kota utama di Arab Saudi. Kota ini menjadi tujuan utama kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji. Di kota ini terdapat sebuah bangunan utama yang bernama Masjidil Haram dengan Ka’bah di dalamnya. Bangunan Ka’bah ini dijadikan patokan arah kiblat untuk ibadah salat umat islam di seluruh dunia. Kota ini merupakan kota suci umat islam dan tempat lahirnya Nabi Muhammad saw.

Kota Makkah mendapat berbagai julukan. Di antaranya dinamakan Bakkah (QS Ali Imran [3]: 96), al-Balad (Albalad [90]: 1-2), Ummul Qura (Al-An'am [6]: 92), al-Balad al-Amin (Attin [95]: 3), al-Qaryah (Annisa [4]: 75), al-Baldah (Annaml [27]: 91), dan Makkah (QS Alfath [48]: 24).

Julukan lainnya adalah Masy'aril Haram (Tanah Haram), Haraman Amin (tanah Suci yang aman) (QS Alqashash [28]: 37), al-Bassah (dibinasakannya orang-orang yang ingkar), al-Bassaq (tempat tinggi karena dimuliakan dan ditempatkan pada posisi yang tinggi), dan An-Nasaasah (karena di daerah ini sangat sedikit airnya, kering).

Sebutan lainnya adalah Bakkah. Maknanya, ramai dan penuh sesak. Sebab, ketika musim haji tiba, wilayah itu akan penuh sesak oleh umat muslim dari berbagai belahan dunia. 

Namun, di antara nama-nama itu, yang paling terkenal adalah Makkah yang berarti mendesak. Maksudnya adalah mendesak orang-orang yang maksiat kepada Allah SWT untuk keluar dari kawasan itu.

Makkah disebut juga Tanah Haram karena di dalamnya terdapat tapal batas yang melingkari Makkah. Dengan pembatas ini, orang kafir tidak diperbolehkan memasuki kawasan Tanah Haram. Ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Attaubah [9] ayat 28 yang turun pada tahun ke-6 Hijriyah, ''Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.''

Berbagai julukan itu diberikan untuk Kota Makkah karena kemuliaan yang diberikan Allah atas kota tersebut, yakni adanya Ka'bah atau Baitullah yang menjadi kiblatnya umat Islam di seluruh dunia dan tempat lahirnya seorang rasul pilihan, yakni Nabi Muhammad SAW.

Syeikh Muhammad bin Alawi bin Abbas al Maliki al Hasani dalam Fi Rihab al Bait al Haram (1985) menjelaskan, penyebutan Makkah sebagai Tanah Haram ditandai dengan turunnya QS At Taubah: 28. Ayat itu menjelaskan pemberlakuan batas pemisah berdasarkan keimanan seseorang demi menjaga kesucian dan kemuliaan Masjidil Haram. "Surat At Taubah ayat 28 diturunkan pada tahun keenam Hijriah," tulis Alawi.

Syeikh Alawi juga mencantumkan beberapa riwayat dan sumber lain. Satu versi mengatakan, status keharaman Makkah dimulai sejak Nabi Adam As. Ada pula yang berpendapat bahwa hal itu berlaku persis setelah Nabi Ibrahim As menyelesaikan pembangunan kakbah. "Tapi, alangkah baiknya kita merujuk pada sumber pokok Alquran. Yakni melalui penanda surat At Taubah," tegas dia.

Faktor terpilihnya Makkah sebagai pusat penyebaran Alquran

Selain faktor yang disebutkan barusan, ada faktor lainnya yang mendukung terpilihnya Makkah sebagai pusat penyebaran Alquran. Yakni ketika itu masyarakat Makkah belum banyak disentuh peradaban. Mereka juga belum mengenal kemunafikan atau bermuka dua meskipun lidah dan ungkapan mereka tajam.

Masyarakat Makkah (maupun pendatang yang berakulturasi di dalamnya) sangat kuat pendirian walaupun ditekan. Dua sahabat Nabi misalnya, Bilal dan Ammar bin Yasir, tidak rela mengucapkan kalimat kufur meski dalam kondisi terdesak (meskipun agama memberi peluang berpura-pura selama hati tetap beriman).

Disebutkan pula bahwa sejarah pun menunjukkan bahwa ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang kemunafikan baru dikenal (atau diturunkan) pada fase dakwah Nabi di Madinah.


×