Teknologi Kognitif | Pixabay.com

Inovasi

17 Sep 2019, 20:11 WIB

Teknologi Kognitif Penunjang Transformasi

Implementasi teknologi 4.0 dalam industri bisa ditujukan untuk meningkatkan pengalaman konsumen.

Sektor industri selalu memerlukan peningkatan, efisiensi, dan inovasi untuk terus meningkatkan daya saingnya. Menurut studi yang dikeluarkan IBM Institute for Business Value (IBV), dalam tiga tahun ke depan setidaknya 120 juta pekerja di 12 per ekonomian terbesar dunia perlu mendapat pelatihan ulang sebagai dampak revolusi dalam banyak industri dengan adanya artificial intellegenceatau AI dan intelligence automation.

"Kesenjangan kemampuan menjadi kekhawatiran di banyak perusahaan karena berdampak pada masa depan bisnis dan ekonomi dunia yang perlu diperhatikan, khususnya dalam era transformasi digital ini," ujar Presiden Direktur IBM Indonesia, Tan Wijaya, di Jakarta, belum lama ini.

Menurut IBM IBV, waktu yang dibutuhkan untuk menutup kesenjangan kemampuan melalui pelatihan meningkat lebih dari 10 kali dalam empat tahun terakhir. Pada 2014 dibutuhkan tiga hari untuk melatih kemampuan melalui pelatihan di perusahaan.

Sementara itu, pada 2018 pelatihan yang sama membutuhkan 36 hari. Studi IBM IBV pun menunjukkan kebutuhan akan kemampuan baru berubah secara cepat dengan kemampuan yang lama segera menjadi usang.

Pada 2016 para eksekutif menempatkan kemampuan teknik pada STEM (science, technology, engineering, and math) dan pengoperasiaan komputer maupun softwareatau aplikasi dasar sebagai dua kemampuan penting bagi setiap karyawan. Namun, pada 2018 dua kemampuan tertinggi yang dibutuhkan adalah kemampuan bersikap, fleksibel, agile, mudah beradaptasi dengan perubahan, kemampuan manajemen, dan menentukan prioritas.


Kemampuan yang terus meningkat
Perkembangan teknologi memang menjadi keniscayaan. Dalam berkomunikasi, misalnya, saat ini seseorang tak perlu berkirim surat secara resmi melalui surel atau e-mailtetapi bisa langsung berkomunikasi melalui pesanan instan.

Begitu pula perkembangan teknologi di sektor industri yang kini telah memasuki revolusi keempat. Pada era ini, tekno logi yang disematkan hadir untuk men dampingi manusia yang selama ini hadir sebagai pengendali kualitas.

IBM, sebagai perusahaan yang menye diakan solusi kongnitif dan cloud platform, pun telah menerapkan teknologi untuk tren yang satu ini. Mereka memberikan sensor berupa kamera CCTV yang dibekali database mengenai keidealan atau standar sebuah produk yang diproduksi perusahaan.

Dengan demikian, ketika terdapat produk yang cacat, sensor akan memberikan peringatan kepada sang pengontrol kualitas untuk dilakukan pengecekan. Artinya, teknologi yang disematkan tersebut telah bisa mengomparasi antara data yang dia ambil pada saat pengecekan kualitas dan data yang dimiliki sebagai database. Teknologi itu adalah bagaimana menggabungkan data dari sensor ketika kita di dalam manufaktur dalam satu proses manufaktur dan digabungkan dengan data base knowledge, ujar Tan.

photo
Pixabay.com



Hal ini disebut sebagai dasar kognitif analitik, yaitu analitik yang membuat suatu sistem bisa mengambil kepu tusan sendiri. Tentu hal ini membutuhkan big data yang dikelola de ngan baik. Pasalnya, data base knowledge yang tertanam pada teknologi sensor itu tak hanya memiliki satu jenis data base.

Associate Partner Global Business Service IBM Indonesia Andrian Purnama mencontohkan, teknologi berupa internet of things(IOT) ini dimanfaatkan IBM untuk menyediakan solusi dalam pengecekan barang atau produk. Sebagai contoh lain, teknologi IOT juga bisa disematkan pula untuk pengecekan alat-alat dan kostum keselamatan kerja bagi ara pekerja. IOT ini adalah sensor. Kami per nah pasang pada gate entry. Artinya, ke tika para pekerja masuk melalui gate entryini maka sensor ini bisa memberikan peringatan bahwa alat-alat tak dipakai dengan baik, kata Andrian.

Misalnya, dia melanjutkan, adanya pemakaian kacamata atau rompi yang belum tepat. IOT akan memberikan peringatan sebagai pengganti seseorang yang biasanya melakukan pengecekan pemakaian alat keselamatan pada pabrik.

Transformasi 4.0 sendiri dikembangkan dengan dukungan proses otomatis dan efisien agar bisa digunakan oleh manusia. Pasalnya, implementasi industri 4.0 dibuat bukan untuk mesin melainkan untuk meningkatkan pengalaman dalam melakukan kegiatan sehari-hari.


Tingkatkan pengalaman konsumen
Setidaknya implementasi transformasi 4.0 ini ditujukan untuk beberapa hal. Di antaranya untuk memberikan improvisasi solusi permasalahan yang ada dalam produksi perusahaan. Penerapan teknologi 4.0, menurut Andrian, tak memiliki biaya yang mahal bila penerapannya memberikan efisiensi yang baik.

Selanjutnya, implementasi teknologi 4.0 dalam industri bisa ditujukan untuk meningkatkan pengalaman dari konsumen. Artinya, konsumen bisa mendapatkan produk-produk terbaik yang dihasilkan oleh perusahaan manufaktur un tuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, implementasi teknologi ini juga bisa ditujukan memberikan produk terbaiknya untuk konsumen. Perusahaan bisa memberikan varian produk lebih banyak sehingga memberikan pilihan bagi konsumen. Dalam hal ini, antarperusahaan manufaktur sendiri nantinya bisa lebih bersaing secara kompetitif dan lebih baik lagi dengan berbagai tawaran produk yang dimiliki masing-masing perusahaan.
Masyarakat pun memiliki banyak pilihan yang sesuai dengan kebutuhan, kata Tan.

IBM saat ini telah memiliki beberapa klien perusahaan yang memanfaatkan teknologi 4.0. Perusahaan-perusahaan itu bergerak di bidang finansial, manufaktur, dan pemerintahan. Indonesia pun akan terus fokus mengembangkan teknologi 4.0 kepada lima industri, yaitu makanan, tekstil, otomotif, elektronik, dan chemical. (ed: setyanavidita livikacansera)


×