Anak-anak bermain sambil belajar bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Baciro, Yogyakarta, Sabtu (7/11). Mahasiswa dari Universitas Ahmad Dahlan mulai melaksanakan KKN di saat pandemi Covid-19 | Wihdan Hidayat / Republika
11 Jan 2021, 23:00 WIB

Pandemi tak Halangi Mahasiswa Terjun ke Masyarakat

Ada mahasiswa yang membangun desa. Ada pula yang berinovasi menguatkan promosi batik Kenongo di Sidoarjo Jawa Timur. 

JAKARTA -- Meski pandemi Covid-19 belum selesai, masyarakat tetap harus mengabdikan dirinya ke masyarakat. Sebab khidmah tersebut adalah bagian dari tridarma perguruan tinggi yang harus selalu dijalankan. 

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Prof Nizam menjelaskan, pengabdian masyarakat merupakan tradisi perguruan tinggi yang sudah berjalan lama. Salah satu bentuknya adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Program ini bisa diperpanjang hingga satu tahun sehingga mahasiswa mendampingi masyarakat desa.

“Apalagi saat ini ada 78 ribu menerima kucuran dana desa senilai Rp 1 miliar per desa dengan kondisi 27 ribu desa masih dalam kondisi desa tertinggal,” kata Nizam pada Senin (11/1).

Kehadiran mahasiswa selama 6-12 bulan dapat mendampingi perencanaan program. Mulai dari kajian potensi desa, masalah dan tantangan pembangunan di desa dan menyusun prioritas pembangunan, merancang program. 

Terkait

Kemudian mendesain sarana dan prasarana, memberdayakan masyarakat, badan usaha milik desa, mengawasi pembangunan, sehingga penggunaan dana desa untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi efektif. 

Perguruan tinggi dapat juga menyusun program mahasiswa membangun desa dengan mengintegrasikan KKN dengan mata kuliah dan kecakapan lain yang dibutuhkan mahasiswa sehingga bobot kegiatan setara 20 SKS, ujarnya.Dalam hal ini mahasiswa melaksanakan program, setiap bulan melaporkan kegiatan, dosen memberi assignment, di akhir program mahasiswa dapat membuat karya tulis berupa kajian pembangunan desa sebagai tugas akhir, atau membuat karya video.

Pada hari yang sama, Universitas Andalas (Unand) Padang Sumatra Barat meluncurkan Kampus Merdeka untuk Nagari Mandiri. Program ini merupakan komitmen melaksanakan program merdeka belajar yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

"Pengabdian masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai hal. Di antaranya adalah implementasi program merdeka belajar untuk nagari mandiri atau nagari tageh,orientasinya membangun nagari dengan jangka waktunya adalah enam bulan," kata Wakil Rektor I Unand Mansyurdin.

Kampus Merdeka Untuk Nagari Mandiri mencakup pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 40 hari. "Kemudian bentuk pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa pada program ini adalah terintegrasi dengan KKN tematik hingga penanggulangan bencana," kata dia. 

Ruang lingkup program kampus merdeka ini berupa membangun desa mulai dari ekonomi, pendidikan, sosial, hukum, kesehatan, kebencanaan dan lainnya. Untuk tahap awal sebelum memulai program merdeka belajar di nagari maka langkah awal adalah mempelajari rencana kerja pemerintah nagari. 

Setelah data rencana kerja pemerintah nagari diperoleh maka mahasiswa memilih fokus yang akan menjadi aktivitas selama enam bulan. Kemudian pihaknya juga akan membuat basis data nagari membangun sehingga setiap kegiatan yang dibuat tercatat hasilnya dan dampaknya.

Umsida dan bisnis batik Kenongo

photo
Perajin membuat batik tulis Kenongo di salah satu industri rumahan di Desa Kenongo, Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (2/5). Perajin batik tulis setempat mengeluhkan sulitnya pengurusan hak cipta sehingga motif batik hasil karya mereka mudah dijiplak oleh kompetitor sesama perajin batik - (ANTARA FOTO)

Sementara itu Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Jawa Timur menggelar program pengabdian masyarakat di daerah desa Kenongo Tulangan-Sidoarjo. Para mahasiswa yang diterjunkan adalah dari Program Studi Perbankan Syariah: Qanitah An Nabila A’yun, Nafisah Maulidia Chusma, dan Cindy Cintania Amartha. 

Semuanya berupaya melestarikan Batik Khas Desa kenongo yang diakui PBB dengan sejumlah inovasi. Di antaranya adalah memfasilitasi pembayaran melalui transfer antarbank dan pembayaran daring guna menekan risiko Covid-19. 

Mahasiswa juga mengenalkan sejumlah marketplace untuk memasarkan kearifan tersebut kepada masyarakat dari berbagai daerah dan negara. Strategi penjualan digital juga disampaikan, seperti menggunakan Media Sosial Instagram, Facebook, Youtube, Twitter, dan lainnya.

Inovasi tersebut sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan UMKM di tengah hantaman Pandemi Covid-19 yang terus menggerus pertumbuhan ekonomi nasional. Pada masa sebelum pandemi tahun 2019, pertumbuhan ekonomi mencapai angka 5,02 persen. Namun setelah pandemi yang dibendung dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pertumbuhan ekonomi mencapai -5,32 persen. Pada kuartal ketiga 2020, angka pertumbuhan ekonomi sedikit membaik di -3,49 persen.

Dengan strategi tadi, penjualan batik Kenongo diharapkan tetap tinggi. Produsen dan pedagang batik tetap mendapatkan omzet dan menghidupi karyawannya.

Batik Khas Desa Kenongo sangat unik. Memiliki bermacam-macam motif dan pewarnaan alami. Batik tulis adalah yang paling mahal, karena tingkt kerumitan dalam pembuatannya menguras energy. Untuk merangkai motif batik tulis, seseorang harus memiliki ketelatenan khusus yang dilatih dalam waktu lama. 

Ada juga motif batik yang telah ditetapkan oleh usaha ini sebagai batik khas milik usaha mereka. Usaha batik ini telah turun menurun dari satu generasi ke lainnnya.

Dalam pengabdian masyarakat ini, mahasiswa Umsida dipandu sejumlah dosen. Mereka adalah Dosen Perbankan Syariah Fitri Nur Latifah, Ruslianor Maika, dan Masruchin.

UII dan Embung Bembem

photo
Ilustrasi embung - (Wihdan Hidayat / Republika)

Pembangunan Taman Wisata Embung Bembem berhasil terealisasi 2020 melalui Pengabdian Masyarakat DPPM Universitas Islam Indonesia (UII). Mampu terwujud lewat sinergi semangat perangkat desa dan masyarakat setempat.

Saat ini, Embung Bembem jadi pintu masuk untuk mengembangkan potensi-potensi wisata di Desa Giriasih, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul. Sebab, Pendaming KKN UII, Usmar Ismail menilai, Embung Bembeng memiliki daya tarik.

"Kedepannya, Taman Wisata Embung Bembem akan terus dikembangkan dengan menggali kapasitas wisata setempat," kata Usmar, Senin (11/1).

Dosen Prodi Rekayasa Tekstil, Agus Taufiq menyampaikan, pengembangan dimulai dengan pembangunan lahan parkir. Keterlibatan UII merencanakan obyek wisata dilakukan lewat edukasi pembuatan emping, kerajinan bambu dan potensi seni.

Sehingga, masyarakat bisa memanjakan pengunjung dengan secara langsung mencoba bagaimana rasanya membuat emping, menganyam, sampai bagaimana caranya memberi makan ternak. Ini tentu akan menumbuhkan keseruan tersendiri bagi wisatawan.

"Kami juga merancang media atau tempat yang instagramable untuk swafoto. Potensi seni akan diarahkan untuk menampilkan kesenian sebagai peringatan hari-hari penting seperti ulang tahun desa," ujar Agus.

Pembangunan Taman Wisata Embung Bembem diprakarsai penerjunan KKN mahasiswa UII pada 2017 di Desa Giriasih. Salah satu output yang dihasilkan masterplan pembangunan Taman Wisata Embung Bembem, yang mana berlanjut ke KKN UII 2018.

Taman Wisata Embung Bembem telah dilakukan uji coba pembukaan untuk masyarakat umum pada November 2020. UII berkontribusi lagi menyumbangkan dua perahu karet sebagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan sebagai wahana di Embung Bembem.

"Kami sendiri semakin yakin Embung Bembem nantinya akan semakin memikat," kata Agus.

Keunggulan lain lokasinya dekat Pantai Parangtritis, mudah diakses wisatawan. Selain itu, Kapanewon Purwosari memiliki lokasi wisata yang sedang naik daun yaitu Bukit Watugupit, dan bisa jadi pendamping dan menambah pilihan wisata.

Saat ini, sudah pula dibuka lokasi-lokasi kuliner. Meski sudah resmi dibuka, peran DPPM UII nantinya akan tetap berlanjut seperti penataan kawasan yang masih belum tertata rapi, penguatan lembaga pengelola dan pembuatan paket wisata.

Sumber : Antara


×