ilustrasi bank wakaf mikro 2 | Antara
11 Jan 2021, 10:01 WIB

Literasi Wakaf Kunci Bangkitkan Ekonomi Umat

wakaf seperti halnya zakat, juga memiliki peran yang krusial pada era pandemi.

JAKARTA -- Penghimpunan dana wakaf pada masa pandemi Covid-19 dinilai masih minim. Jika dibandingkan dengan pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS), wakaf tampaknya belum populer di kalangan masyarakat.

Penilaian itu disampaikan Pengamat Ekonomi Islam dari Universitas Indonesia (UI) Yusuf Wibisono kepada Republika, Ahad (10/1). “Harus diakui, penghimpunan dana wakaf ini masih jauh lebih rendah dari penghimpunan dana zakat, infak, dan sedekah,” ujar dia.

Menurut dia, rendahnya penghimpunan dana wakaf disebabkan minimnya literasi dan kesadaran masyarakat terhadap wakaf. Sementara, literasi dan kesadaran umat untuk berzakat dinilai sudah lebih tinggi.

Padahal, dia menjelaskan, wakaf seperti halnya zakat, juga memiliki peran yang krusial pada era pandemi. Terutama jika pemanfaatan dana wakaf dikaitkan dengan intervensi kesehatan dan intervensi ekonomi. Dalam intervensi kesehatan, dia mencontohkan terdapat banyak pengadaan yang dapat disediakan melalui dana wakaf.

Terkait

“Mulai dari alat-alat kesehatan ya, seperti ventilator, laboratorium untuk testing Covid-19, sampai pembangunan rumah sakit darurat dan wisma darurat untuk isolasi mandiri juga bisa sebetulnya,” kata dia.

Adapun intervensi ekonomi berjangka pendek, dia menambahkan, dalam kondisi pandemi pemanfaatan dana wakaf sedikit banyak dapat membantu masyarakat yang terdampak. Di antaranya dalam program ketahanan pangan, penyediaan lahan, hingga penyediaan peralatan pertanian, seperti traktor ataupun pembangunan infrastruktur pertanian, semisal irigasi.

Di sisi lain, menurut dia, literasi dan kesadaran masyarakat terkait wakaf saat ini mulai didorong oleh sejumlah lembaga filantropi. Filantropi, kata dia, mulai mendorong program-program yang mengombinasikan antara dana wakaf dan dana zakat, infak, dan sedekah.

Sementara itu, Badan Wakaf Indonesia (BWI) menyiapkan dua program untuk membantu umat Islam dan masyarakat umum selama pandemi.

"Selama pandemi, ada dua program besar wakaf BWI. Pertama, wakaf uang atau Kalisa, dan kedua cash waqf linked sukuk (CWLS)," kata Ketua Divisi Humas, Sosialisasi, dan Literasi BWI Atabik Luthfi saat dihubungi Republika.

Untuk program Kalisa saat ini telah terkumpul bantuan senilai Rp 9,799 miliar. Sementara, program kedua, CWLS tercapai Rp 50,849 miliar. Untuk program Kalisa, alokasi terbesar bantuan diberikan untuk menyiapkan alat pelindung diri atau APD serta bantuan kepada masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

Selain itu, ada juga beberapa program nazir wakaf uang BWI. Program tersebut dialokasikan untuk bantuan masyarakat selama pandemi.

"Baru saja diluncurkan gerakan wakaf aparatur sipil negara atau ASN. Sebelumnya juga di-launching program Gerakin atau Gerakan Wakaf Indonesia oleh Wakil Presiden Ma'ruf Amin,’’ ujarnya.

Atabik Luthfi menyebut, target penerimaan wakaf diserahkan kepada masing-masing nazir wakaf. Meski demikian, BWI menilai melalui dua program utama itu, sudah mengawali capaian yang mencukupi.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Global Wakaf ACT (globalwakaf)

Ke depan, mengingat pandemi Covid-19 masih membayangi, BWI akan melanjutkan dan memaksimalkan program yang ada. Pihaknya, kata Atabik Luthfi, juga akan menindaklanjuti gerakan wakaf ASN serta penguatan literasi wakaf melalui kurikulum wakaf di sekolah bekerja sama dengan Kementerian Agama.

Wakil Ketua BWI, Imam T Saptono, menerangkan, ada perbedaan mandat antara wakaf dan zakat. Salah satunya dikenal sebagai konsep pokok wakaf (corpus) dan manfaat (benefit).

"Pokok wakaf harus dijaga kelestariannya. Manfaatnya yang disampaikan kepada umat sebagai mauquf alaih. Jadi, aset wakaf yang diterima harus dikelola dan dikembangkan terlebih dulu agar lahir manfaatnya secara lestari," kata dia.

Dalam konsep bisnis, wakaf dianalogikan dengan belanja barang modal, sementara zakat adalah belanja operasional. Karena itu, untuk hal-hal yang bersifat darurat dan jangka pendek, zakat, infak, serta sedekah lebih berperan cepat.

Meski demikian, terkait penanganan dampak pandemi ini, Imam menyebut tidak kurang dari 80 Rumah Sakit Muhammadiyah ataupun puluhan rumah sakit wakaf ikut menangani pasien Covid-19.

"Belum lagi ratusan lembaga pendidikan berbasis wakaf berusaha ikut meringankan dampak orang tua siswa. Berusaha membantu meringankan beban pendidikan atau lainnya," ujarnya.

Ia juga menyebut, jumlah aset wakaf terus meningkat. Paling tidak pada 2020 ini, melalui gerakan CWLS, berhasil dimobilisasi dana sebesar Rp 50,8 miliar dan sukuk wakaf ritel Rp 14,9 miliar.

Global Wakaf ACT

Global Wakaf Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) menyalurkan bantuan pangan untuk masyarakat Jawa Timur dan korban bencana melalui pesantren. "Program bantuan 100 ton beras wakaf dan 10 ribu karton air wakaf gratis adalah pengantar dari gerakan besar bernama Wakaf Sawah Produktif," ujar Ketua Dewan Pembina Global Wakaf ACT, Ahyudin di sela pemberangkatan bantuan di Gedung Negara Grahadi di Surabaya, Ahad.

Global Wakaf dan YP3I kini memulai pemberdayaan masyarakat dan petani dengan mengelola 500 hektare sawah wakaf di berbagai tempat di Jatim. Menurut dia, program ini merupakan bentuk semangat menjadikan bangsa Indonesia kembali sebagai bangsa yang berdaulat pangan. "Insya Allah dimulai dari Jatim, bangsa besar ini akan memiliki kedaulatan pangan, tidak sekadar ketahanan pangan," ucapnya.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang turut melepas bantuan menilai selama ini kerja kemanusiaan ACT dilakukan tanpa batas, bahkan menembus batasan benua dan negara.

 
Insya Allah dimulai dari Jatim, bangsa besar ini akan memiliki kedaulatan pangan, tidak sekadar ketahanan pangan.
 
 

"Ini merupakan bentuk penyambungan program. Energi Global Wakaf ACT, YP3I dan seluruh santri Kiai Mahfudz Sobari menjadi energi baru yang dapat memberikan harapan meningkatnya kesejahteraan masyarakat Jatim," katanya.

Gubernur perempuan pertama di Jatim itu mengatakan sudah on the right track dalam penyiapan kedaulatan pangan, terutama proses pemberdayaan masyarakat agar terbantu dan ekonominya berkembamg. "Ini ketemu ekosistemya, ada juga Santri Taruna Tani (SANTANI) yang menjadi penyemai sektor produktivitas sektor pertanian. Terima kasih sudah memberikan optimisme," tutur orang nomor satu di Jatim tersebut.

Ketua Umum YP3I Marzuki Ali mengajak masyarakat ikut aktif dalam gerakan wakaf karena hasil keuntungannya akan dikembalikan kepada masyarakat yang membutuhkan."Karena itu saya memohon kepada Ibu Gubernur, kalau bisa seluruh ASN di Jatim diajak untuk berwakaf. Per bulan tidak perlu banyak, misalnya Rp50-100 ribu untuk berwakaf," kata mantan Ketua DPR RI itu. 


×