Edinson Cavani | EPA-EFE/Michael Regan

Olahraga

06 Jan 2021, 09:07 WIB

Edinson Cavani dan Rasialisme dalam Sepak Bola Modern

Tulisan Edinson Cavani dianggap menyinggung persoalan rasialisme.

Meski persamaan ras selalu digaungkan dunia, kenyataannya jauh panggang dari api. Keyakinan bahwa ras tertentu lebih unggul dari lainnya masih ada. Sulit dihancurkan, sehingga mengakibatkan diskriminasi dan kejahatan. 

Hal ini terlihat dalam dunia sepak bola internasional. Uruguay dan Inggris berpotensi terlibat dalam perang pandangan. Kasus Edinson Cavani menjadi penyebabnya. Sebelumnya, Cavani dianggap melakukan tindakan negatif tersebut. Berawal dari unggahannya pada akhir November 2019. Saat itu ia menjadi bintang kemenangan Manchester United atas Southampton. Sejumlah kalangan memujinya. Ia lantas membalas pujian salah satu temannya dengan menuliskan kata 'negrito'. 

Federasi Sepak Bola Inggris (FA) bereaksi. Dalam bahasa setempat, tulisan Cavani menyinggung siapa pun sosok berkulit hitam. Pria 33 tahun ini sempat membela diri. Ia mengklarifikasi maksud dari tindakannya. 

"Itu adalah ungkapan sayang kepada seorang teman. Saya benar-benar menentang rasialisme dan saya menghapus pesan tersebut karena dapat ditafsirkan secara berbeda," demikian pernyataan Cavani beberapa waktu lalu, dikutip dari BBC, Selasa (5/1).

FA tetap melakukan investigasi. Hingga akhirnya, eks penyerang Paris Saint-Germain (PSG) dan Napoli itu dinyatakan bersalah. Asosiasi Sepak Bola Negeri Elisabeth menghukum sang bomber untuk tidak terlibat dalam tiga pertandingan United. Cavani juga harus membayar denda 100 ribu euro (sekitar Rp 1,8 miliar) serta menjalani pendidikan singkat terkait isu tersebut. 

Di sinilah letak perbedaan pandangan antara Inggris dan negara asal sang penyerang, Uruguay. Asosiasi Sepak Bola Uruguay (AUF) menilai FA melakukan tindakan yang salah. Mereka justru melihat organisasi tersebut melakukan diskriminasi pada Cavani dan budaya Amerika Latin. 

Jadi, persoalannya lebih besar dari batasan lapangan hijau. AUF menegaskan unggahan Cavani tidak bisa diartikan secara subjektif sebagai tindakan menghina ras seseorang. Itu ekspresi umum di Amerika Latin ketika menyapa orang terdekat dengan penuh kasih. 

"Kami meminta FA segera membatalkan sanksi yang dijatuhkan pada Edinson Cavani dan mengembalikan nama baik dan kehormatannya di dunia yang telah dinodai secara tidak adil oleh keputusan tercela ini," demikian pernyataan AUF, dikutip dari BBC

Asosiasi Pesepak Bola Uruguay (AFU) senada dengan federasi mereka. Para tokoh berpengaruh dari negara tersebut macam Diego Godin hingga Luis Suarez membagikan pernyataan AUF lewat medsos masing-masing. Pertanyaannya, siapa yang bertindak diskriminatif? Masing-masing punya argumentasi tersendiri. Untungnya semua masih dalam satu napas, yakni memerangi rasialisme dalam sepak bola. Kasus Cavani seperti mengorek luka lama. Terlepas dari siapa yang tepat antara FA atau AUF, yang pasti, tindakan penghinaan terhadap ras dan warna kulit menjadi musuh bersama. 

Beberapa organisasi getol melakukan perlawanan, di antaranya, Kick it Out. Namun, rasialisme masih terus terjadi, bahkan di negara maju dengan budaya sepak bola kelas satu macam Italia dan Inggris. Pemain-pemain, seperti Moise Kean, Mario Balotelli, Kevin-Prince Boateng, Raheem Sterling, hingga Dani Alves pernah menjadi korban. 

Tak jarang ada yang sampai mengalami trauma, seperti Danny Rose ketika dihina warna kulitnya saat membela tim nasional Inggris menghadapi Montenegro. FIFA senantiasa mengampanyekan slogan "Say no to racism" di setiap kegiatan mereka. Namun, belum ada sanksi yang benar-benar tegas dari setiap anggota federasi tersebut.  

Dalam pemberitaan BBC, kelompok pemain berdarah campuran dari Cardiff mengaku sering mendapat kekerasan verbal dari penonton. Namun, pada saat yang sama, mereka mengalami kekecewaan karena Otoritas Sepak Bola Wales kerap mengacuhkan laporan yang masuk.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Edinson Cavani (cavaniofficial21)


×