Gedung DPRD DKI Jakarta Ditutup karena ada personil di dalamnya yang positif Covid-19. | ANTARA FOTO
05 Jan 2021, 09:08 WIB

Karena Covid-19, Gedung DPRD DKI Ditutup

Tiga anggota dewan dan sekwan positif Covid-19.

JAKARTA -- Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta ditutup sementara selama dua pekan mulai Senin (4/1), akibat ada aparatur sipil negara (ASN) di sekretariat dewan (sekwan), dan beberapa anggota DPRD terpapar positif Covid-19.

"Iya ada yang kena beberapa orang, makanya diputuskan untuk ditutup dulu sampai 15 Januari 2021," kata Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta, Mujiyono saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Mujiyono mengatakan, di antara mereka yang dinyatakan positif Covid-19, antara lain Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris DPRD DKI Hadameon Aritonang, satu staf Hadameon di Sekwan DPRD DKI, satu penyedia jasa lainnya perorangan (PJLP), termasuk anggota dewan dari tiga fraksi.

"Ya karena cukup banyak yang kena dan di beberapa lantai, jadi kita tutup dulu buat disinfeksi dulu," kata politikus Partai Demokrat tersebut.

Terkait

 
Ya karena cukup banyak yang kena dan di beberapa lantai, jadi kita tutup dulu buat disinfeksi dulu.
 
 

Meski gedung DPRD DKI ditutup, Mujiyono mengeklaim, hal itu tidak sampai mengganggu jadwal rapat yang direncanakan oleh anggota dewan. Hal itu karena rapat juga bisa diselenggarakan secara daring ataupun di tempat lain. "Kalau rapat belum ada yang urgen, kan APBD 2021 yang urgen ini sudah dibahas 29 Desember kemarin," ujar Mujiyono.

Berbeda dengan penjelasan Mujiyono, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Suhaimi mengatakan, gedung DPRD DKI di-lockdown selama tiga hari ke depan. Selama gedung ditutup, petugas akan melakukan disinfeksi untuk membersihkan seluruh ruangan.

Langkah itu dilakukan agar ketika gedung dibuka kembali maka tidak ada potensi virus korona yang tertinggal di gedung. "Iya, lockdown tiga hari, karena sekwan kena Covid," kata Suhaimi, Senin.

Politikus PKS itu menyebut, selama penutupan itu gedung DPRD DKI hanya bisa dimasuki petugas yang melakukan penyemprotan disinfektan. Sementara itu, selama sepekan ini, anggota dewan belum memiliki agenda rapat. "Kebetulan belum ada rapat," ujar Suhaimi.

Berdasarkan informasi, ada tiga anggota dewan lintas fraksi yang terjangkit Covid-19. Mereka adalah Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Basri Baco, Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPRD DKI Yudha Permana, dan anggota Fraksi PKS DPRD DKI Muhammad Taufik Zoelkifli. Karena ketiganya positif, seluruh dewan setuju jika gedung DPRD DKI akhirnya ditutup untuk dilakukan sterilisasi.

Ketua DPRD DKI, Prasetyo Edi Marsudi, meminta agar tim pelayanan kesehatan karyawan dan Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI melakukan tracking (pelacakan), tracing (penelusuran), dan testing (3T). Hal itu penting untuk mencegah penularan Covid secara massif di Ibu Kota. "Saya sudah minta 3T diintensifkan untuk mencegah penyebaran lebih luas," ucap Prasetyo.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by DPRD Provinsi DKI Jakarta (dprddkijakarta)

Panti sosial

Ratusan orang dengan gangguan kejiwaan penghuni Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa dan Panti Sosial Tresna Werdha di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur (Jaktim), yang diduga tertular Covid-19. Terdapat dua sumber yang saat ini sedang ditelusuri oleh Satuan Gugus Penanganan Covid-19 Jaktim.

Penelusuran penularan dilakukan tim Puskesmas Cipayung dibantu petugas kelurahan dan kecamatan. Hasilnya, klaster baru ditemukan di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa sebanyak 221 penghuni dan Panti Sosial Tresna Werdha 81 penghuni dinyatakan positif Covid-19.

Camat Cipayung Eko Satrio menyampaikan, peristiwa itu terjadi pada Selasa (29/12). Kondisi itu mengakibatkan wilayah RW 04 dan RW 06 Cipayung masuk dalam zona merah Covid-19. "Perkiraan pertama kami, mereka kena (Covid-19) dari petugas yang selama ini melayani. Sebab, petugas panti beberapa kali ke rumah sakit ambil obat dan antar konsultasi," kata Eko di Jakarta, Senin.

Menurut Eko, pengelola panti memiliki jadwal rutin untuk mengambil pesanan obat ataupun mengantar pasien berkonsultasi secara rutin ke Rumah Sakit Duren Sawit. Kemungkinan lain sumber penularan, kata Eko, berasal dari pasokan bahan baku makanan ataupun air mineral dari petugas. "Kecil kemungkinan penularan ini terjadi dari penghuni panti. Mereka ini sangat jarang sekali keluar," kata Eko.

Kepala Panti Sosial Bina Laras, Tuti Sulistianingsih, membenarkan adanya sejumlah petugas, selain penghuni panti yang tertular Covid-19. Namun, saat ini, ia sudah dinyatakan sembuh. "Termasuk saya juga sempat positif Covid-19, tapi tanpa gejala sudah dinyatakan negatif," kata Tuti.

Dia memahami muncul kecurigaan sumber penularan berasal dari pasokan bahan makanan yang dibawa petugas dari luar. Tuti mengaku, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI telah melakukan pengadaan mesin ozon yang dipasang di pintu masuk panti. "Sekarang ini setiap ada yang antar makanan kita masukan dulu ke alat ozon selama 30 menit sebelum kita timbang dan dipilah," ucap Tuti.


×