Warga Rohingya saat melarikan diri ke Bangladesh dari pembantaian brutal tentara Myanmar di Rakhine pada 2017 silam. | AP
28 Dec 2020, 03:00 WIB

Rohingya dan Dunia Islam

Kepindahan ke pulau baru rentan bagi keamanan hidup pengungsi Muslim Rohingya.

Bangladesh akan merelokasi kembali pengungsi Muslim Rohingya. Ini menjadi gelombang kedua setelah awal bulan ini, mereka memindahkan sekitar 1.600 Muslim Rohingya ke Bashan Char, pulau tak berpenghuni yang rentan dilanda banjir.

Dalam beberapa hari mendatang, sekitar 1.000 Muslim Rohingya bakal dipindahkan dari Cox’s Bazar ke pulau terapung tersebut. Pemindahan ini, menurut Pemerintah Bangladesh, demi mengurangi kepadatan kamp pengungsi di Cox’s Bazar.

Sebanyak satu juta pengungsi Rohingya berada di pengungsian itu. Mereka melarikan diri ke Bangladesh dari Myanmar karena aksi kekerasan militer negeri tersebut. Mereka terusir dari wilayah mereka hidup, Rakhine.

 
Kepindahan ke pulau tersebut memang rentan bagi keamanan hidup pengungsi Muslim Rohingya. 
 
 

Pemerintah Bangladesh menegaskan, pengungsi secara sukarela direlokasi. Namun, laman berita Aljazirah, Ahad (27/12) yang mengutip pengungsi dan pekerja kemanusiaan, menyatakan sejumlah pengungsi dipaksa untuk pindah ke Bashan Char.

Terkait

Kepindahan ke pulau tersebut memang rentan bagi keamanan hidup pengungsi Muslim Rohingya. Maka itu, pekerja kemanusiaan berkali-kali mengingatkan agar Bangladesh tak memindahkan mereka ke Bashan Char.

Dalam konteks ini, Bangladesh juga serbasalah. Sebab, negara itu berharap ada kesepakatan pemulangan kembali Rohingya ke Myanmar. Namun, hal itu tak kunjung berhasil. Muslim Rohingya takut akan mendapati kekerasan kembali, dan Myanmar tak akui mereka sebagai warganya.

Ini persoalan pelik bagi Bangladesh karena harus menanggung beban ganda secara ekonomi ataupun sosial. Pemerintah Bangladesh harus memenuhi kewajiban kepada warganya sendiri, tetapi juga harus memikul ‘tanggung jawab’ terhadap pengungsi Rohingya.

 
Masalahnya di sini. Negara sekawasan yang tergabung dalam ASEAN belum mampu menggerakkan Myanmar untuk mengubah sikapnya. 
 
 

Bantuan kemanusiaan memang berdatangan, termasuk dari Indonesia. Namun, sebatas bantuan kemanusiaan tak cukup. Perlu langkah politik untuk menuntaskan akar permasalahan Rohingya, kembali ke Rakhine dan diakuinya mereka sebagai warga negara.

Masalahnya di sini. Negara sekawasan yang tergabung dalam ASEAN belum mampu menggerakkan Myanmar untuk mengubah sikapnya. Padahal ini adalah isu hak asasi manusia yang seharusnya menjadi perhatian negara-negara di Asia Tenggara.

Lebih penting lagi, harusnya negara Organisasi Kerja sama Islam (OKI), lebih gigih lagi melakukan langkah politik untuk menekan Myanmar menerima kepulangan Muslim Rohingya, yang masih harus bertahan di kamp pengungsi di Bangladesh.

Hal terpenting, Myanmar mau mengakui Rohingya sebagai warga negaranya sehingga memiliki hak-hak warga negara. Termasuk hidup damai dan layak di Rakhine. Jadi mereka bisa melanjutkan hidup dan membangun kembali rumah yang hancur.

Negara OKI di PBB termasuk yang menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, semestinya tersentuh dengan kondisi Rohingya di kamp pengungsi, sehingga mendorong mereka berupaya lebih keras agar nasib Rohingya menjadi fokus.

Desakan organisasi internasional tentu memiliki dampak lebih besar untuk mengubah sikap Myanmar. Sayangnya, hingga saat ini belum ada perubahan signifikan. Nasib Rohingya masih terlunta di kamp-kamp pengungsi atau menyambung nyawa di lautan.

Ya, mereka ada yang nekat menerjang gelombang lautan dengan perahu dan bekal seadanya demi mencapai tanah harapan. Negara yang bisa menerima mereka dan membuka peluang bagi untuk memperoleh hidup lebih layak.

Nasib Rohingya tampaknya setali tiga uang dengan Palestina. Negara Muslim yang jumlahnya banyak, juga komunitas internasional sampai saat ini tak mampu menundukkan Israel, yang melanggar banyak hukum internasional terkait pendudukan juga permukiman ilegal.

Butuh kesadaran baru bagi dunia Islam untuk menyatukan langkah, menuntaskan persoalan Rohingya dan Palestina ini. Jangan sampai, mereka putus harapan atas pertolongan saudaranya karena pertolongan yang diharapkan tak kunjung datang.


×