Calon penumpang kereta melakukan rapid test di Stasiun Senen, Jakarta, Senin (26/10). Kereta Api Indonesia (KAI) Daop I Jakarta mengimbau kepada para penumpang kereta api jarak jauh (KAJJ) untuk melakukan rapid test minimal H-1 sebelum keberangkatan. | Prayogi/Republika

Narasi

Balada Calo Rapid Test di Stasiun Senen

Harga rapid test di calo Rp 95 ribu, sedangkan pengurusan SKS Rp 45 ribu.

OLEH FEBRIYAN A

"Sudah punya rapid, Bang?" begitu perkataan sejumlah pria, yang mengenakan jaket ojek daring, kepada calon penumpang di Stasiun Pasar Senen. Jika kebingungan calon penumpang menjawab pertanyaan itu, sejurus kemudian mereka bakal menawarkan jasa rapid test atau pengurusan surat keterangan sehat (SKS) yang diklaim murah meriah. 

Praktik percaloan ini tampak di pintu masuk Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Kamis (17/12) siang. Delapan orang itu silih berganti menawarkan jasa cek kesehatan agar calon penumpang bisa berangkat menuju kota tujuan. Sebab, PT KAI mewajibkan calon penumpang mengantongi hasil swab test atau rapid test ataupun SKS jika ingin bepergian dengan kereta. 

Salah satu calo, yang menggunakan jaket ojek daring dan topi berwarna hitam, menawarkan jasa itu kepada Republika. Harga rapid test Rp 95 ribu. Sedangkan pengurusan SKS Rp 45 ribu. Jika setuju, biaya bertambah Rp 40 ribu untuk ongkos perjalanan ke klinik. 

"Udah banyak yang saya bantuin. Tuh yang dua orang juga saya yang bantuin. Ayo, bentar kok Bang. Saya antarin sekarang," kata pria paruh baya itu sembari menunjuk dua calon penumpang yang sedang duduk di lantai pintu masuk stasiun. 

photo
Calon penumpang kereta melakukan rapid test di Stasiun Senen, Jakarta, Senin (26/10).  - (Prayogi/Republika)

Berbagai jurus ia pakai untuk meyakinkan Republika. Pria itu menyebut rapid test yang ditawarkan lebih murah. "Di stasiun harga rapid Rp 200 ribu. Kalau bikin SKS tidak ada di stasiun," katanya. 

Dia juga berupaya meyakinkan dengan menyebut prosesnya tak makan waktu lama. Sebab, kata dia, klinik tempat rapid test itu berlokasi di sekitar Fly Over Galur, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat. 

Jurus lainnya adalah soal keabsahan hasil rapid test. Ia berkali-kali meyakinkan bahwa jasa rapid test yang ditawarkan adalah orisinal. Ia lantas menyebut bahwa pihak stasiun tak akan mengakui hasil rapid test dari tiga klinik lantaran pernah memberikan hasil tes palsu.

"Kita udah dibilangin sama orang dalam stasiun, jangan ke klinik yang tiga itu. Klinik yang saya ini aman," ucapnya. 

Dua calon penumpang, yang menggunakan jasa calo sempat memperlihatkan hasil rapid test-nya kepada Republika. Remaja berusia 20-an tahun itu mengaku proses rapid test menggunakan jasa calo hanya memakan waktu 30 menit. "Saya hasilnya nonreaktif," kata pria yang hendak bertolak menuju Surabaya itu. 

Sementara itu, di salah satu sudut di area pintu masuk stasiun, tampak empat calo menatap tajam ke arah antrean penumpang yang hendak menaiki kereta. Mereka menunjuk-nunjuk seseorang yang sedang mengantre untuk memperlihatkan hasil rapid test

photo
Calon penumpang kereta menunjukkan hasil rapid test di Stasiun Senen, Jakarta, Senin (26/10) - (Prayogi/Republika)

"Itu dia yang pakai topi putih. Kalau mental gimana Bang?" kata salah satu di antara mereka. Sosok bertopi putih yang mereka tunjuk adalah salah seorang pemakai jasa cek kesehatan mereka.

Pertanyaan itu tak segera mendapat jawaban. Mereka masih fokus memperhatikan proses pengecekan hasil rapid test oleh petugas. Sampai akhirnya salah satu di antara mereka berkata, "Tembus itu. Itu dia lagi diperiksa. Nah tembus kan."

Tak terlibat

PT KAI Daop 1 Jakarta tak membantah keberadaan para calo tersebut. Namun mereka membantah petugasnya terlibat. "Kami pastikan tidak ada petugas yang terkait hal tersebut (praktik percaloan)," kata Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta, Eva Chairunisa, kepada Republika, Kamis.

Sejumlah calo yang Republika temui sebelumnya mengatakan, mereka mendapat informasi dari "orang dalam stasiun" bahwa ada sejumlah klinik yang hasil rapid test-nya tak bisa digunakan di Stasiun Pasar Senen. Mereka juga mengaku diarahkan oleh "orang dalam stasiun" agar tidak membawa calon penumpang ke klinik yang sudah di-black list itu.

Eva mengakui memang ada sejumlah klinik yang hasil rapid test-nya tak akan diterima petugas stasiun. Sebab, sejumlah klinik itu pernah memberikan hasil rapid test yang "tidak dapat dipertanggungjawabkan". Namun, ia membantah bahwa petugas stasiun memberikan informasi tersebut kepada para calo.

"Informasi klinik yang di-black list kan dengan mudah dapat diketahui saat ada penumpang yang membawa surat dari klinik tersebut ditolak. Kami yakin tidak ada petugas kami yang berkaitan dengan hal tersebut," ujar Eva.

photo
Calon penumpang kereta membeli alat rapid test di Stasiun Senen, Jakarta, Senin (26/10). - (Prayogi/Republika)

Eva juga membantah klaim para calo yang menyebut biaya rapid test di dalam stasiun Rp 200 ribu. "Rapid di stasiun Rp 85 ribu," kata Eva.

Eva menambahkan, pihaknya sudah mengetahui adanya sejumlah calo yang menawarkan jasa rapid test kepada calon penumpang. Namun, ia memastikan para calo itu tak berkeliaran di area dalam stasiun. "Iya kabarnya ada di jalan-jalan raya sekitar stasiun menawarkan pemeriksaan rapid yang lebih murah," ujar Eva.

Menurut Eva, jika para calo itu hanya menawarkan jasa rapid test yang lebih murah, hal itu tidaklah masalah. Adalah pilihan para calon penumpang untuk melakukan rapid test di mana pun. PT KAI memperbolehkan calon penumpang menjalani rapid test di klinik di luar stasiun.

Terlepas dari rapid test dilakukan dengan bantuan calo atau tidak, lanjut Eva, pihaknya selalu melakukan pengecekan surat hasil rapid test secara detail. Mulai dari hasil rapid test-nya, masa berlaku, hingga cap dari klinik.

"Untuk pemeriksaan berkas rapid di stasiun kami memang tidak mungkin melakukan konfirmasi ulang dengan menghubungi klinik yang tercantum pada setiap berkas yang dibawa penumpang, tapi kami selalu melakukan pengecekan secara detail," kata dia.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat