Ilustrasi Mansa Musa sedang memegang koin emas, dari Atlas Katalan 1375. Sejak abad ke-13, Kerajaan Mali menguasai sebagian besar kawasan bagian barat Afrika. | DOK Wikipedia

Tema Utama

13 Dec 2020, 04:00 WIB

Riwayat Negeri Para Mansa di Afrika Barat

Sejak abad ke-13, Kerajaan Mali menguasai sebagian besar kawasan barat Afrika.

OLEH HASANUL RIZQA

Berabad silam, Afrika Barat menjadi tempat lahirnya Kerajaan Islam Mali. Raja-rajanya bergelar 'mansa'. Yang termasyhur Mansa Musa, dikenang sebagai manusia terkaya sepanjang masa.

 

Afrika Barat meliputi sebuah kawasan luas yang dihuni lebih dari 380 juta jiwa penduduk. Bagian barat Benua Hitam itu kini mencakup 16 negara modern. Di antaranya adalah Nigeria, Niger, Mali, Burkina Faso, dan Mauritania.

Beberapa yang berbatasan langsung dengan Samudra Atlantik adalah Tanjung Verde, Senegal, Gambia, Guinea-Bissau, Guinea, Sierra Leone, Liberia, dan Pantai Gading. Adapun sisanya menghadap ke arah Teluk Guinea, yakni Ghana, Togo, dan Benin.

Sejak abad kesembilan, Islam diperkirakan telah sampai ke Afrika Barat, seiring dengan perluasan wilayah Muslimin pada era Kekhalifahan Abbasiyah. Agama ini dibawa ke sana utamanya oleh para pedagang.

Mereka berinteraksi dengan masyarakat lokal di kota-kota sepanjang rute yang dilalui kafilah. Seperti halnya Nusantara, dakwah Islam di Afrika Barat pun umumnya berlangsung damai. Hingga hari ini, mayoritas penduduk setempat merupakan Muslim.

photo
Lukisan pemandangan Kota Timbuktu di Kerajaan Islam Mali. Lukisan karya Heinrich Barth (1858) itu menunjukkan daerah tersebut sebagai kota urban. Di sanalah peradaban Islam pernah menyinari Afrika Barat, khususnya pada abad ke-14. - (DOK WIKIPEDIA)

Emas merupakan komoditas utama yang diperdagangkan di Afrika Barat. Tak mengherankan bila kafilah-kafilah dari utara dan timur pada masa lalu rela mengarungi gersangnya Gurun Sahara demi mencapai kawasan tersebut.

Bahkan, hingga kini Afrika Barat dikenal sebagai salah satu penghasil emas utama dunia. Menurut laporan World Gold Council tahun 2019, Republik Ghana—sebuah negara di region tersebut—menduduki peringkat ketujuh sebagai negara produsen emas global. Dengan kemampuan produksi 142,4 ton per tahun, Ghana menjadi negara yang paling banyak menghasilkan emas di seluruh Afrika.

Pada abad kesembilan, Kerajaan Ghana—bukan negara modern Ghana yang dikenal sekarang—menguasai sebagian besar kota-kota penghasil emas di Afrika Barat. Wilayahnya meliputi daerah perbatasan antara Mauritania dan Mali.

Nama aslinya adalah Wagadou, tetapi manuskrip-manuskrip Arab pada masa silam kerap menyebutnya sebagai Negeri Ghana. Padahal, ghana sesungguhnya adalah sebutan atau gelar bagi rajanya.

Banyak sarjana Muslim memuji kekayaan Ghana yang dinilainya berlimpah-ruah emas. Sebagai contoh, ahli sejarah yang juga pengelana dari Baghdad, al-Mas’udi (896-956). Dalam Akhbar az-Zaman, ia mengatakan secara hiperbolis, “Tanah di Ghana seluruhnya dilapisi emas.”

Begitu pula dengan Ibnu al-Faqih al-Hamadhani, seorang ahli geografi yang hidup pada abad ke-10. Penulis berdarah Persia itu menyatakan dalam Mukhtasar Kitab al-Buldan, “Di Negeri Ghana, emas tumbuh begitu saja di atas tanah dan dipetik setiap fajar tiba, tak ubahnya halnya wortel.”

 
Di Negeri Ghana, emas tumbuh begitu saja di atas tanah dan dipetik setiap fajar tiba, tak ubahnya halnya wortel.
 
 

Bahkan, pujian senada terus bertahan hingga ratusan tahun sesudahnya. Sejarawan Arab kelahiran Damaskus, Suriah, Syihabuddin al-Umari (1301-1349) mengatakan bahwa di Ghana terdapat dua jenis tanaman yang akarnya terbuat dari emas. Catatan-catatan al-Umari juga menjadi salah satu sumber utama historiografi tentang Mansa Musa.

Kerajaan Ghana berdiri sejak abad kedelapan dan memasuki era kejayaan 100 tahun kemudian. Raja-raja Ghana berasal dari Dinasti Soninke. Mereka semua, setidaknya hingga abad ke-11, bukanlah Muslim. Namun, tradisinya selalu memperlakukan kaum saudagar Muslim yang datang dari arah utara dan timur negerinya dengan sangat baik.

Abu Abdullah al-Bakri, seorang ahli sejarah dan geografi, memuji penguasa Ghana pada abad ke-11, Raja Basi, sebagai “pemimpin yang mencintai keadilan dan bersikap ramah terhadap Muslimin.” Dalam karyanya, Kitab al-Masalik wa al-Mamalik, penulis yang berasal dari Andalusia (Spanyol) itu menuturkan, “Ibu kota Ghana terdiri atas dua permukiman yang terletak di dataran subur.

Salah satunya yang paling luas dihuni Muslimin dan memiliki 12 masjid, yang terbesar di antaranya biasa dijadikan sebagai lokasi shalat Jumat. Raja memberikan tunjangan kepada imam, muazin, para sarjana serta hakim.”

photo
Salah satu bangunan Madrasah Sankore di Timbuktu, Mali. Madrasah itu, yang selevel dengan universitas masa kini, dibangun oleh Mansa Musa. Di antara para pengajarnya merupakan ulama yang diundang secara khusus olehnya dari Tanah Suci. - (DOK WIKIPEDIA)

Imperium Mali

Memasuki abad ke-12, situasi Kerajaan Ghana mulai mengalami kemunduran. Menurut David Conrad dalam Empires of Medieval West Africa (2005), salah satu penyebabnya adalah perluasan padang pasir yang memicu penggurunan (desertification) di berbagai lahan setempat. Bekas wilayah kerajaan tersebut sempat mengalami kevakuman pemimpin sebelum akhirnya dikuasai suku bangsa Sosso pada awal abad ke-13.

Pada 1235, Perang Kirina terjadi antara pasukan raja Sosso Sumanguru Kante dan anak kepala Suku Malinke, Sundiata Keita. Conrad mengatakan, jalannya pertempuran itu digambarkan dalam Epos Sundiata yang hingga kini diakui sebagai warisan budaya nasional di Republik Mali.

Menurut wiracarita tersebut, Sumanguru Kante dapat dikalahkan. Penguasa Sosso itu lantas melarikan diri ke Pegunungan Koulikoro dan akhirnya menghilang bak ditelan bumi.

Sejak saat itu, Malinke menjadi suku bangsa yang mengendalikan bekas wilayah Kerajaan Ghana. Sundiata mendirikan pusat pemerintahan di Niani, dekat perbatasan Mali-Guinea kini. Dari sana, sosok yang disebut beberapa penulis Muslim—semisal al-Umari, Ibnu Battuta, dan Ibnu Khaldun—dengan julukan Mari Jata itu berhasil menguasai daerah subur sekitar Sungai Niger hingga pesisir Afrika Barat yang menghadap Samudra Atlantik. Inilah awal terbentuknya Imperium Mali.

Sundiata meninggal pada 1255 diduga akibat tenggelam saat berupaya menyeberangi Sungai Sankarani, dekat Niani. Sepeninggalannya, kepemimpinan atas Mali diteruskan oleh anak-anaknya. Si sulung, Wali Keita, menjadi raja (mansa) kedua. Sementara itu, adik-adiknya, yakni Ouati Keita dan Khalifa Keita, berturut-turut naik takhta sebagai raja ketiga dan keempat sesudah periode Wali Keita berakhir.

Sundiata hingga akhir hayatnya menganut kepercayaan tradisional. Bagaimanapun, beberapa penerusnya kemudian memeluk Islam. Hal itu berkaitan dengan tumbuh pesatnya perekonomian di kawasan Afrika Barat yang dikuasai Imperium Mali.

Banyak pedagang Muslim yang turut meramaikan kota-kota perdagangan di sana. Mereka umumnya berasal dari Mesir, Aljazair, atau Spanyol. Akhirnya, Islam tersebar luas di Mali dan bahkan dipeluk penguasa setempat.

 
Akhirnya, Islam tersebar luas di Mali dan bahkan dipeluk penguasa setempat.
 
 

Conrad menjelaskan, di antara tiga penerus Sundiata, Mansa Khalifa berakhir tragis. Ia dibunuh rakyatnya sendiri yang tidak puas akan kepemimpinannya. Ketidakpuasan itu cukup beralasan. Sebab, Khalifa diceritakan sebagai pemimpin yang kurang waras. Di antara kegemarannya ialah memanah orang-orang biasa yang dijumpainya di jalan. Banyak korbannya tewas di tempat.

Sesudah kematian Khalifa, Abu Bakar naik sebagai raja Mali. Tampak jelas dari namanya, keponakan Sundiata itu merupakan seorang Muslim. Menurut Conrad, periode kepemimpinannya ditandai dengan stabilitas negeri. Meskipun demikian, tidak banyak penulis yang mencatat prestasinya.

Penerusnya adalah seorang petinggi militer yang bernama Sakura (1298-1308). Conrad mengatakan, rakyat Mali memandangnya sebagai pemimpin yang tegas dan cakap meskipun bukan berasal dari keturunan Sundiata.

Pada masanya, kerajaan tersebut mulai mengalami kemakmuran. Mansa Sakura berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga ke Gao dan Timbuktu. Alhasil, perdagangan antara kawasan Afrika Barat dan Afrika Utara semakin bergeliat.

Sekitar tahun 1307, Sakura melaksanakan ibadah haji. Perjalanan panjang dari Mali ke Tanah Suci dilakukannya dengan membawa rombongan besar. Mereka terdiri atas para menteri, jenderal, dan bawahannya.

 
Sekitar tahun 1307, Sakura melaksanakan ibadah haji. Perjalanan panjang dari Mali ke Tanah Suci dengan membawa rombongan besar.
 
 

Unta-unta dalam kafilahnya mengangkut berbagai harta benda yang tidak hanya dijadikan sebagai bekal. Sebagian di antaranya disedekahkan di sepanjang rute menuju Baitullah. Karena itulah, nama Sakura kian tersohor di dunia Arab sebagai raja yang kaya raya nan murah hati.

Sayangnya, Sakura dibunuh dalam perjalanan pulang ke negerinya. Penggantinya dipilih dari seorang trah Sundiata yang bernama Muhammad. Tidak banyak catatan mengenai dirinya.

Penerusnya adalah Mansa Qu. Raja yang bergelar Abu Bakar II itu dikenang sebagai pemimpin ambisius. Salah satu ambisinya ialah menguasai negeri di “ujung lautan”, yakni seberang Samudra Atlantik lepas pantai Afrika Barat.

Al-Umari dalam sebuah risalahnya mengutip perkataan Mansa Musa tentang raja tersebut, “Penguasa sebelumku (Abu Bakar II) tidak percaya bahwa mustahil mencapai titik terjauh lautan yang mengelilingi Bumi (maksudnya, Samudra Atlantik –al-Umari). Dia berambisi sampai ke sana dan terus menerus berupaya untuk itu.”

Masih dalam penuturan Mansa Musa, Abu Bakar II sampai-sampai mengerahkan 200 unit kapal. Masing-masing unit diisi para prajurit terbaiknya. Sebagai perbekalan, sang raja menyediakan ratusan kilogram emas, air minum, makanan, persenjataan, dan berbagai perlengkapan lainnya yang ditaksir mencukupi kebutuhan untuk satu tahun pelayaran. Laksamananya diperintahkan untuk tidak kembali sebelum berhasil mendarat di ujung barat Samudra Atlantik.

Cukup lama Abu Bakar II menanti. Akhirnya, satu dari 200 kapal itu kembali ke Mali. Di hadapannya, si kapten kapal mengabarkan adanya pusaran besar yang menghisap nyaris seluruh armada tersebut. Kapten tersebut berkata, satu-satunya yang dapat menghindar dari bahaya itu ialah kapal yang ditumpanginya.

 
Dia mengerahkan armada yang lebih besar, sekitar 2.000 kapal yang lengkap dengan perbekalan dan awaknya.
 
 

“Namun, Sultan (Abu Bakar II) tidak mempercayainya. Segera saja, dia mengerahkan armada yang lebih besar, sekitar 2.000 kapal yang lengkap dengan perbekalan dan awaknya. Dia lalu menugaskan saya untuk memimpin negeri selama dirinya mengikuti pelayaran itu. Saya melepasnya pergi di pantai. Jangankan kembali, kabar tentangnya pun tak pernah terdengar lagi sesudah itu,” cerita Mansa Musa yang dikutip al-Umari.

Hingga saat ini, apakah Abu Bakar II berhasil atau tidak mencapai Benua Amerika, “ujung barat” Samudra Atlantik, masih menjadi kontroversi di kalangan sejarawan dan arkeolog. Profesor Ivan van Sertima dari Rutgers University menduga raja Mali itu sukses melakukannya.

Namun, umumnya ilmuwan meragukan adanya bukti-bukti keberadaan bahtera milik sang pendahulu Mansa Musa itu di pantai Amerika.


×