Dua orang nasabah sedang melakukan transaksi pembelian emas melalui fitur Mandiri Syariah Mobile di Jakarta, Selasa (1/12). | REPUBLIKA
03 Dec 2020, 03:00 WIB

Akselerasi Ekonomi Syariah

Kita berharap, Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.

Gairah masyarakat Muslim untuk berkehidupan dengan nilai-nilai Islami beberapa waktu terakhir makin semarak. Perbedaan jelas terasa bila membandingkan kesemarakan Muslimah yang mengenakan hijab pada awal 2000 dan sepanjang 2020.

Pada 20 tahun lalu, mahasiswa yang mengenakan jilbab tidak sebanyak terlihat seperti saat ini. Pada era kiwari, semarak Muslimah mengenakan pakaian syar’i tak hanya terlihat di kampus-kampus, tetapi juga dalam aktivitas perdagangan di pusat-pusat perbelanjaan.

Bilamana 20 tahun lalu susah menemukan mushala di mal-mal, justru pada masa kini banyak mal berlomba-lomba menyediakan tempat untuk menunaikan shalat.

 
Pada era kiwari, semarak Muslimah mengenakan pakaian syar’i tak hanya terlihat di kampus-kampus, tetapi juga dalam aktivitas perdagangan di pusat-pusat perbelanjaan.
 
 

Jika dahulu mushala berada di tempat-tempat sempit dan susah terjangkau di pusat perbelanjaan, kini banyak mal menyediakan mushala dengan sarana dan prasarana nyaman.

Terkait

Tak banyak pilihan bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah Islam terpadu sekitar 20 tahun lalu, tapi kini sekolah Islam terpadu berada di banyak lokasi. Bahkan, yang berasrama untuk level SMP atau SMA itu berbiaya lebih mahal daripada biaya masuk kuliah.

Menemukan produk makanan berlabel halal pada 20 tahunan lalu jelas lebih sulit ketimbang saat ini. Banyak rumah makan ataupun restoran, kini berlomba memasang logo sertifikasi halal MUI. Tentu pemasangan logo ini sebagai upaya menarik minat pembeli.

Kesadaran masyarakat Muslim mendapatkan makanan halal sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Dan banyak fenomena lain yang dalam 20 tahun lalu tak terbayangkan terjadi, kini malah menjadi tren.

Tentu saja, fenomena ini merembet tak hanya pada gaya hidup yang disebutkan di atas, tapi juga pada sektor keuangan. Bisa dihitung dengan jari jumlah lembaga atau institusi keuangan syariah pada awal-awal 2000.

 
Di antara anggota OKI, produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang terbesar dengan pangsa 14,8 persen. 
 
 

Namun, kini jumlah lembaga keuangan syariah di angka dua digit. Mulai dari bank syariah, asuransi, pasar modal, hingga tekfin syariah. Produk syariah pun beragam. Bahkan, pemerintah mengeluarkan instrumen sukuk negara yang dijual secara ritel.

Inovasi produk syariah turut mengakselerasi pertumbuhannya. Perkembangan ini fakta bertumbuhnya ekonomi dan keuangan syariah nasional. Beberapa indikator makroekonomi memang menunjukkan Indonesia memimpin dalam ekonomi dan keuangan syariah di antara negara-negara Organisasi Kerja sama Islam (OKI).

Di antara anggota OKI, produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang terbesar dengan pangsa 14,8 persen. Indonesia juga paling kompetitif dalam menarik foreign direct investment (FDI) di antara negara-negara OKI.

Posisi Indonesia dalam ekonomi dan keuangan syariah global sepanjang tiga tahun terakhir, memperlihatkan tren kenaikan. Pada 2020, untuk pertama kalinya Indonesia masuk "top 10" di seluruh sektor industri halal global, yang didorong oleh meningkatnya investasi luar negeri yang diterima pemain pasar dari Indonesia.

Hal ini menunjukkan, posisi Indonesia dalam perekonomian syariah global, khususnya di pasar keuangan syariah, semakin diperhitungkan.

 
Kita berharap, orkestrasi ini bisa berjalan seirama guna mewujukan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. 
 
 

Menurut Islamic Finance Development Report (IFDR) 2019, skor Indonesia naik menjadi peringkat empat dari sebelumnya peringkat 10 pada 2018. Adapun menurut Islamic Finance Country Index (IFCI) 2019, posisi Indonesia naik menjadi peringkat pertama dari sebelumnya, peringkat enam pada 2018.

Melihat capaian ini, pengembangan ekonomi syariah semestinya tak hanya bertumpu pada penguatan keuangan syariah. Namun, mesti dipadupadankan dengan industri halal yang menyangkut pengembangan sektor riilnya.

Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah ini harus mengedepankan strategi holistik. Ekosistem halal value chain menjadi niscaya untuk dibentuk.

Penguatan halal value chain ini haruslah menyasar sektor di hulu hingga hilir. Untuk mewujudkan hal itu, diperlukan sinergi dan kolaborasi semua pihak terkait. Kini, akselerasi itu sudah mewujud.

Kita berharap, orkestrasi ini bisa berjalan seirama guna mewujukan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Saatnya bagi ekonomi dan keuangan syariah Tanah Air, ngebut di jalan tol, bukan lagi ngebut di jalur lambat!


×