Seorang guru memberikan pelajaran jarak jauh kepada siswa menggunakan radio | MOHAMMAD AYUDHA/ANTARA FOTO
03 Dec 2020, 08:04 WIB

Lika-liku Literasi Digital

Kompetensi digital di kalangan para tenaga pelajar juga sudah seharusnya ditingkatkan.

Di masa pandemi seperti sekarang, teknologi menjadi bagian yang penting dalam berbagai aspek kehidupan. Istilah literasi digital pun makin sering terdengar. 

Literasi Digital, mengacu pada pengertian UNESCO, Digital Literacy Global Framework: 2018, adalah kemampuan untuk mengakses, mengelola, memahami, mengintegrasikan, mengomunikasikan, mengevaluasi, dan membuat informasi dengan aman dan tepat melalui teknologi digital untuk pekerjaan.

“Intinya literasi digital itu harus berkaitan dengan kompetensi,” kata Direktur Utama PT Duta Digital Informatika (DUGI) Arya Sanjaya, dalam sesi diskusi  Pintek EduTalk #YangPentingBelajar: Tingkatkan Literasi Digital Bagi pendidikan 4.0”, pekan lalu. 

Menurutnya, seorang digital native belum otomatis berarti orang tersebut melek digital. Untuk bisa memiliki kompetensi itu, kata Arya, ada banyak hal yang perlu diperhatikan. 

Terkait

Pertama, memiliki kemampuan dasar abad 21. Yakni, komunikasi, kreativitas, kolaborasi dan berpikir kritis. Kompetensi ini biasa disebut dengan 4C dan dipakai oleh banyak kalangan pendidikan. 

Misalnya, untuk menentukan kurikulum atau memilih pekerjaan yang cocok di industri saat ini. Kedua, UNESCO membuat kerangka kerja bernama DigiComp 2.0. “DigComp itu digital competence. Kita bicara mengenai kompetensi yang harus dimiliki seorang untuk hidup dan bertahan di abad internet. ” ujar Arya.

DigiComp 2.0 berfokus pada literasi informasi dan data, komunikasi dan kolaborasi, pembuatan konten digital, keamanan, serta penyelesaian masalah.

Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI) merilis Survey Digital Literasi 2020. Dari hasil survei tersebut, kata Arya, terlihat bahwa masyarakat Indonesia terbiasa meneruskan sesuatu tanpa  mencari sumbernya. 

Kemudian, orang Indonesia juga terbuti mampu menggunakan teknologi, namun masih kurang dalam memahami kepentingan informasi dan literasi data. Hal ini menjadi tantangan di pendidikan dan ke depannya harus diperbaiki.

Banyak Tertinggal

photo
Sejumlah pelajar mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring di sebuah tenda yang dilengkapi jaringan internet nirkabel (WLAN) di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Senin (24/8/2020). Tenda dengan WLAN gratis tersebut didirikan atas inisiatif warga untuk membantu murid sekolah yang terkendala jaringan internet dalam sistem belajar secara daring - (Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO)

Masih banyaknya tantangan dalam mewujudkan literasi digital yang mumpuni di Indonesia juga diungkapkan, Ahli Utama PTP Pusdatin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), Gogot Suharwoto. 

Ia mengatakan, Indonesia berada di peringkat 56 dari 63 negara yang mengikuti pemetaan World Digital Competitiveness Ranking 2020 (WDCR 2020). WDCR ini mengukur kapasitas dan kesiapan 63 negara untuk mengadopsi dan mengeksplorasi teknologi digital, dalam melakukan transformasi ekonomi dan sosial.

Pemeringkatan tersebut bergantung pada tiga faktor, yakni pengetahuan, teknologi dan kesiapan masa depan. Aspek faktor pengetahuan dan teknologi Indonesia terbilang menurun dari tahun lalu dengan skor 63 (untuk faktor pengetahuan) dan 54 (untuk faktor teknologi). Sementara faktor kesiapan masa depan dinilai meningkat atau stabil dari tahun lalu  dengan perolehan skor 48.

Melihat hal itu, Gogot mengatakan literasi digital Indonesia belum terekstrak secara lembaga di semua lini sektor pendidikan. Padahal sektor tersebut paling banyak berbicara tentang literasi digital. “Jadi ngomongnya literasi digital, orang paling banyak gencar ngomong itu orang pendidikan, kampus, sekolah, pakar. Tetapi, ternyata sektor kita tuh paling rendah pemanfaatan teknologinya, dari segi utilisasinya,” katanya.

Hal ini pun, lanjut Gogot menjadi tantangan tersendiri. Hal ini juga terlihat dalam proses pembelajaran jarak jauh, dimana yang terjadi 86 persen tenaga pengajar hanya memberi pekerjaan rumah. 

Dari sumber Hasil Survei Belajar Dari Rumah Puslitjak Kemendikbud RI, ada 85,9 persen siswa SD, 86,4 persen siswa SMP, 87,5 persen siswa SMA dan 86,9 persen siswa SMK yang belajar dari rumah dengan cara mengerjakan soal-soal dari guru.

Sementara itu, ada 33,9 persen siswa SD, 47,1 persen siswa SMP, 59,7 persen siswa SMA dan 49,1 persen siswa SMK yang belajar dari rumah dengan cara belajar dari sumber belajar digital, seperti YouTube dan Google. 

Kemudian ada 18,2 persen siswa SD, 25,6 persen siswa SMP, 41,7 persen siswa SMA dan 24,2 persen siswa SMK belajar dengan cara belajar dari aplikasi sumber belajar daring, seperti Rumah Belajar, Ruangguru, dan Zenius.

Menurut Gogot, hal tersebut adalah efek dari digitalisasi yang rendah. Kompetensi digital di kalangan para tenaga pelajar juga sudah seharusnya ditingkatkan.

Saat ini, guru diharapkan memahami semua teknologi, kemudian mampu menggunakan teknologi sesuai dengan apa yang diambil, baru nanti membuat konten sendiri. Kemendikbud RI pun sudah mengadakan program PembaTIK level 1 tahun 2020 (tahap 1 dan 2) dengan 70.312 peserta.

“Kita sudah punya modulnya, kita juga edukasikan ke masyarakat, ke guru, ke siswa, ke orang tua juga. Ini bagian dari gerakan literasi digital nasional. Kita sudah berikan kuota, dan kurikulum sudah kita perbarui,” ujarnya.

Pelajaran TIK yang dulu hanya seputar mengenal komputer atau menggunakan perangkat pun telah ditingkatkan. Kini, TIK jauh lebih luas, termasuk belajar mengenai teknik komputer, jaringan komputer, hingga melakukan analisis data. 

 
Literasi digital Indonesia belum terekstrak secara lembaga di semua lini sektor pendidikan.
Gogot Suharwoto, Ahli Utama PTP Pusdatin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI).
 
 


×