IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika
30 Nov 2020, 03:00 WIB

Misteri Pertemuan MBS dengan Netanyahu

Berita pertemuan penguasa Saudi dengan para pemimpin Israel akan selalu menarik perhatian dunia.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Bertemu apa tidak? Tidak atau bertemu? Jadi, yang benar bertemu atau tidak? Itulah kontroversi pemberitaan pertemuan rahasia Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman (MBS) dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.  

Dikabarkan, pertemuan berlangsung Ahad (22/11) malam di Neom, kota masa depan Saudi di pesisir Laut Merah. Menlu AS Mike Pompeo konon ikut bergabung. Pertemuan disebutkan berlangsung akhir pekan lalu, tetapi beritanya terus bergulir hingga kini.

Lengkap dengan berbagai analisis dan misterinya, yakni apakah pertemuan itu benar terjadi? Lalu, apakah isi pembicaraan dan bagaimana dampaknya bagi geopolitik di Timur Tengah (Timteng), termasuk pengaruhnya bagi perjuangan bangsa Palestina?  

Terkait

 
Lalu, apakah pertemuan itu juga membahas rencana pembunuhan terhadap Kepala Program Nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh?
 
 

Lalu, apakah pertemuan itu juga membahas rencana pembunuhan terhadap Kepala Program Nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh? Fakhrizadeh dibunuh pada Jumat (27/11), di luar Kota Teheran. Iran menuduh AS dan Israel di balik pembunuhan itu.

Berita pertemuan antara MBS dan Netanyahu ini pertama kali dirilis media Israel, lalu disambut berbagai media internasional. Disebutkan, Netanyahu didampingi Kepala Mossad (Intelijen Negara Israel) Yossi Cohen.

Seorang koresponden televisi Israel mengatakan, pihak sensor militer mengizinkan menyiarkan kunjungan Netanyahu dan Cohen ke Saudi. Beberapa media Israel menyebutkan, pertemuan Netanyahu dengan MBS ini bukan yang pertama. Sebelumnya, mereka beberapa kali bertemu, baik di Saudi maupun di tempat lain.

Menurut media Israel, pesawat jet, yang beberapa kali digunakan Netanyahu untuk misi luar negeri, lepas landas dari Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, menuju bandara kota pesisir Saudi, Neom, pada Ahad (22/11) petang. Pesawat kembali ke Israel, Senin dini hari.

Namun, dalam wawancara dengan Fox News, Pompeo tidak dengan tegas menjawab, apakah pertemuan MBS dengan Netanyahu telah terjadi. Ia hanya mengatakan, telah bertemu MBS, tapi ia tidak ingin menjelaskan secara perinci hasil dari pertemuan itu.

 
Berita pertemuan penguasa Saudi dengan para pemimpin Israel akan selalu menarik perhatian dunia. 
 
 

Hingga sekarang, belum ada jawaban resmi dari Netanyahu ataupun Yossi Cohen. Sedangkan dari Saudi, jawaban datang dari Menlu Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud dan Dubesnya untuk PBB Abdullah Al-Muallimi.

Menlu Saudi membantah pemberitaan PM Netanyahu terbang secara diam-diam ke Saudi untuk bertemu Putra Mahkota MBS di Kota Neom. "Tidak ada kejadian seperti itu," kata Pangeran Faisal melalui akun Twitternya.

Dubes Abdullah al-Muallimi menegaskan, negaranya siap menormalisasi hubungan, syaratnya Israel mengakhiri pendudukan. Raja Salman bin Abdul Aziz, menurut berbagai sumber, hingga kini menolak penjanjian damai dan normalisasi hubungan dengan Israel.

Berita pertemuan penguasa Saudi dengan para pemimpin Israel akan selalu menarik perhatian dunia. Saudi memang berbeda, termasuk dibandingkan Mesir dan Yordania yang lebih dulu menandatangani perjanjian damai dengan Israel.

Saudi merupakan salah satu negara terbesar dan berpengaruh di dunia Arab, bahkan di Timteng. Saudi, satu-satunya negara Arab yang menjadi anggota G-20, kelompok negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Bahkan, tahun ini Saudi menjadi ketua G-20.

 
Namun, geopolitik di Timteng berubah. Secara diam-diam banyak penguasa Arab, yang berhubungan dengan para pemimpin Israel.
 
 

Namun, yang paling menjadikan Saudi istimewa adalah karena di negara ini ada Makkah dan Madinah, ada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Para raja Saudi pun lebih senang berjuluk Khadimu al Haramain alias Pelayan Dua Tempat Suci.

Berkat Makkah dan Madinah inilah Saudi mempunyai pengaruh besar di dunia Islam. Dalam kancah perjuangan bangsa Palestina, Saudi pun mempunyai andil besar.

Selain bantuan dana, Raja Saudi Faisal bin Abdul Aziz pada 1973, pernah memimpin negara anggota OPEC (Organisasi Negara Pengekspor Minyak) melakukan embargo minyak dunia. Tujuannya, memberi ‘pelajaran’ bagi negara-negara pendukung Israel.

Embargo membuat harga minyak dunia naik hingga 300 persen, yang membawa efek jangka pendek dan panjang pada politik dan ekonomi global. Dua tahun kemudian, Raja Faisal dibunuh keponakannya, Faisal bin Musaid, yang konon didalangi konspirasi global (baca: Barat).

Saudi juga penggagas The Arab Peace Initiative, yang juga dikenal sebagai Saudi Initiative. Inisiatif ini diadopsi Liga Arab pada KTT Beirut tahun 2002, yang diperkuat lagi pada KTT Liga Arab tahun 2007 dan 2017.

Inisiatif ini menyangkut pembentukan negara Palestina merdeka, dengan perbatasan sebelum Perang 1967 dan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Israel juga harus menarik diri dari seluruh wilayah yang didudukinya.

Sebagai imbalannya, negara-negara Arab akan menjalin perdamaian dan menormalisasi hubungan dengan Israel. Namun, geopolitik di Timteng berubah. Secara diam-diam banyak penguasa Arab yang berhubungan dengan para pemimpin Israel. Bahkan, Israel kini bukan lagi dianggap musuh, yang mereka anggap musuh utama justru Iran.

Jadi, kembali pada pertanyaan awal, apakah MBS bertemu dengan Netanyahu di Kota Neom? Bila pertemuan itu terjadi, apa hasilnya? Karena pertemuan itu masih dilingkupi misteri, isi pembicaraan pun penuh teka-teki.


×