Perempuan rentan mengalami stres saat pandemi (ilustrasi) | Freepik
30 Nov 2020, 10:10 WIB

Bila Hati Terasa Galau, Coba Lakukan Ini

Jangan remehkan kesehatan mental.

Mona Ratuliu, seorang figur publik dan ibu empat orang anak, sempat mengalami kebingungan menghadapi kegalauan dan kegelisahan anaknya, Davina Shava. Mona yang belum memahami tentang kesehatan mental pada remaja akhirnya memutuskan meminta bantuan profesional untuk menolong anaknya.

“Pernah kita kebingungan juga sih, karena waktu itu isu kesehatan mental belum digaungkan. Aku juga nggak ngerti kalau ada isu kesehatan mental pada remaja, aku buru-buru pergi ke profesional. Jadi kita tahu apa yang harus dilakukan,” ujar Mona.

Istri Indra Brasco itu merasa tak ada hal berlebihan yang dirasakan anak-anak, sebab menurut dia, anak-anak memang butuh pendampingan. Terkadang, dia mengatakan, anak-anak merasa tak cukup cerita pada orang tua saja, sehingga butuh bantuan profesional untuk kesehatan mentalnya.

Belakangan saat isu kesehatan mental mulai digaungkan, dia berharap bisa menghapus stigma negatif tentang kesehatan mental. Dengan begitu, menurut dia, orang tua jadi lebih peduli dan anak berani mengungkapkan kondisi kesehatan mentalnya. “Kita merasa perlu bicara ke banyak orang tua, sehingga orang tua tahu kondisi ini. Aku juga pernah mengalaminya, ternyata tak lebai mereka,” kata dia.

Terkait

Bagi Mona, kesehatan mental adalah isu yang cukup sensitif untuk dibahas bersama keluarga, termasuk dengan anak-anak. Pun menurutnya, banyak orang tua yang masih belum punya pengertian cukup komprehensif mengenai isu yang sudah lama seringkali dianggap tabu oleh masyarakat.

Hal senada juga dilontarkan Novita Angie, sahabat Mona sekaligus rekannya dalam komunitas parenting Mom Sweet Moms. Dia ingin mematahkan stigma tentang anggapan bahwa pergi ke psikolog pasti anak bermasalah. “Padahal tidak juga. Kesehatan mental itu penting. Bemula semuanya di rumah. Kita pasti sebagai orang tua memberikan waktu untuk /curhat/ dengan cara masing-masing,” ujar dia.

Namun, dia mengatakan, jika remaja membutuhkan pertolongan dari profesional, maka hal itu bisa membantu mereka mengembangkan dirinya sendiri, atau, agar dirinya bisa lebih bebas berekspresi. “Kehidupan remaja itu 70 persen galau, jadi perlu dijembrengin mana yang perlu diribetin, mana yang perlu difokusin. Mereka kadang merasa ngobrol dengan orang tua sudah, tapi kadang mereka merasa butuh professional help,” kata perempuan yang akrab disapa Angie itu.

 

photo
Perempuan rentan mengalami stres saat pandemi (ilustrasi) - (Freepik)

Jaga kesehatan pikiran

Memahami kebutuhan anak muda mengenai pentingnya menjaga kesehatan pikiran di tengah pandemi, Instagram meluncurkan kampanye kesehatan mental bertajuk #REALTALK. Dari kampanye itu, Instagram menemukan lima isu terkait kesehatan mental yang sering dialami remaja. Salah satunya mereka kesulitan saat ingin membicarakan isu kesehatan mental dengan orang tua mereka.

Berangkat dari temuan tersebut, Instagram meluncurkan fase lanjutan dari kampanye #REALTALK. Selain melanjutkan kolaborasi dengan aplikasi kesehatan mental, Riliv dan Komunitas Anti-Bullying, Sudah Dong, Instagram juga memperkenalkan mitra barunya yaitu komunitas parenting, Mom Sweet Moms.

“Karena Instagram percaya orang tua memiliki peranann penting dalam membantu mematahkan stigma negatif terkait kesehatan mental,” kata Kepala Kebijakan Publik Instagram Asia Pasifik, Philip Chua dalam acara tersebut pada Oktober lalu.

Dalam kampanye #REALTALK itu, Instagram bersama dengan Mom Sweet Moms, Riliv, dan Sudah Dong fokus meningkatkan kesadaran dan pemahaman orang tua seputar isu-isu kesehatan mental. Tujuannya adalah membantu anak remaja mencari pertolongan profesional yang dibutuhkan dan mematahkan stigma negatif tentang kesehatan mental.

Kampanye #REALTALK yang diluncurkan pada Mei lalu mendapatkan respon yang positif dari anak muda di Indonesia. Co-Founder dan CEO Riliv, Audrey Maximillian Herli melihat ada kenaikan sebesar 50 persen pada jumlah unduhan aplikasi Riliv, setelah peluncuran #REALTALK. Dalam jangka waktu tiga bulan, buklet #REALTALK juga telah diunduh sebanyak 9.600 kali.

Lebih dari itu, Maxi mengatakan Riliv menemukan ada lima isu terkait kesehatan mental yang sering dialami remaja, seperti rasa galau, adanya kesulitan untuk berbicara mengenai kesehatan mental kepada orang tua, malu dengan kondisi mental yang mereka alami, kecemasan dan perundungan.

Berdasarkan data-data tersebut, Philip mengatakan Instagram terdorong melanjutkan upaya dalam mematahkan stigma negatif tentang kesehatan mental. Philips mengatakan pihaknya percaya bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam membantu mematahkan stigma negatif kesehatan mental di kalangan remaja.

"Melalui fase lanjutan kampanye #REALTALK, Instagram ingin mengajak para orang tua lebih memahami, serta mendukung kondisi kesehatan mental anak remajanya, terutama di masa-masa sulit ini," ujarnya.

Relawan komunitas Sudah Dong, Fabelyn Baby Walean, mengatakan terus meningkatkan kesadaran anak muda mengenai bahaya perundungan bagi kondisi kesehatan mental seseorang guna mencegah peningkatan kasus perundungan, baik yang terjadi secara luring maupun daring.

"Kami ingin mendorong lebih banyak lagi anak muda untuk berani bangkit dari perundungan maupun menunjukkan dukungan serta empati terhadap korban perundungan," kata Fabelyn.

Jadi, hentikan perundungan dan berhenti pula galau ya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Riliv-Meditasi & Curhat Online (@riliv)


×